Berita
Long COVID pada Anak: Epidemiologi, Manifestasi Klinis, dan Penatalaksanaan

Infeksi SARS-CoV-2 pada anak umumnya bersifat ringan, tetapi sebagian anak dapat mengalami gejala sisa jangka panjang yang dikenal sebagai long COVID atau post-COVID condition (PCC). Meskipun istilah ini telah banyak digunakan sejak awal pandemi, pemahaman tentang long COVID pada populasi pediatrik masih berkembang dan kompleks.
Definisi
Hingga akhir 2022, belum ada definisi internasional yang disepakati untuk PCC pada anak. Namun, pada Februari 2023, WHO merilis definisi klinis yang menyebut PCC sebagai kondisi yang terjadi pada individu dengan riwayat infeksi SARS-CoV-2 (terkonfirmasi atau probable), yang mengalami gejala selama ≥2 bulan yang dimulai dalam 3 bulan setelah infeksi akut dan tidak dapat dijelaskan oleh diagnosis lain. Gejala tersebut harus mengganggu fungsi sehari-hari dan dapat bersifat fluktuatif atau rekuren (1). Definisi ini sejalan dengan definisi dari studi CLoCk di Inggris yang menyebutkan bahwa PCC ditandai oleh satu gejala fisik yang menetap ≥12 minggu setelah infeksi, dengan dampak terhadap fungsi harian. (2)
Epidemiologi
Prevalensi PCC pada anak sangat bervariasi. Beberapa studi awal tanpa kelompok kontrol melaporkan angka antara 5–40%. (2) tetapi hasil ini diragukan karena penggunaan kuesioner tanpa verifikasi klinis dan gejala yang dilaporkan bersifat tidak spesifik. Studi yang lebih baru dan menggunakan kelompok kontrol melaporkan prevalensi antara 1–3,7%. (2) Sebuah studi berbasis rekam medis elektronik dari sembilan rumah sakit anak di Amerika Serikat mencatat estimasi beban PCC sebesar 3,7% dengan gejala seperti kehilangan penciuman atau pengecapan, miokarditis, dan penggunaan obat batuk/pilek sebagai indikator utama. (2) Perbedaan metode diagnostik dan terbatasnya pengujian serologis pada anak menyulitkan estimasi prevalensi yang akurat.
Manifestasi Klinis
PCC pada anak memperlihatkan spektrum gejala yang luas dan tidak spesifik. Gejala yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan yang menetap, nyeri kepala, gangguan tidur, nyeri otot dan sendi, serta gangguan kognitif seperti kesulitan konsentrasi atau “brain fog”. (1,2) Post-exertional malaise (PEM), yaitu perburukan gejala setelah aktivitas ringan, juga sering dijumpai dan merupakan ciri khas dari myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome (ME/CFS) yang dapat berkembang sebagai bentuk berat dari PCC. (1)
Keluhan gastrointestinal, ruam kulit, palpitasi, serta gangguan mood dan perilaku juga dilaporkan. Kombinasi gejala ini secara signifikan mempengaruhi kehidupan sehari-hari anak, termasuk kinerja sekolah, aktivitas sosial, dan partisipasi dalam olahraga (2). Studi terbaru juga menyarankan bahwa PCC pada anak mungkin terdiri atas beberapa fenotipe yang berbeda, seperti fenotipe neurokognitif, fenotipe kardiopulmoner, dan fenotipe gastrointestinal. (2)
Patogenesis
Mekanisme yang mendasari PCC belum sepenuhnya dipahami. Hipotesis utama mencakup: persistensi virus atau fragmen virus di jaringan, reaktivasi virus laten (misalnya Epstein-Barr virus), disregulasi imun kronik, disbiosis usus, endotelitis kronik dengan pembentukan mikroklot, serta gangguan metabolisme mitokondria. (2) Studi post-mortem pada anak dengan MIS-C menunjukkan keberadaan RNA SARS-CoV-2 di organ tubuh berminggu-minggu setelah infeksi akut, mendukung kemungkinan adanya infeksi persisten atau inflamasi kronik. (2) Beberapa studi pencitraan menunjukkan gangguan perfusi paru atau hipometabolisme di area otak tertentu pada anak dengan gejala berat. (2)
Diagnosis
Karena belum tersedia biomarker spesifik, diagnosis PCC bersifat klinis dan eksklusi. Pendekatan diagnostik awal meliputi anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti darah lengkap, fungsi hati dan ginjal, pemeriksaan tiroid, antibodi autoimun, EKG, dan pemeriksaan pencitraan sesuai gejala (1,2). Pemeriksaan tambahan seperti tilt test atau Holter EKG dianjurkan bila terdapat keluhan ortostatik, seperti pada PoTS. (1)
Studi menunjukkan bahwa sebagian besar gejala PCC tidak berbeda signifikan antara anak yang pernah terinfeksi SARS-CoV-2 dan yang tidak, menunjukkan peran besar faktor psikososial selama pandemi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi kondisi mental dan stresor lingkungan dalam setiap penilaian klinis. (1,2)
Penatalaksanaan
Belum terdapat terapi kausal untuk PCC pada anak. Penatalaksanaan difokuskan pada pendekatan multimodal dan individual, dengan mengedepankan perawatan suportif dan simtomatik. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi, prognosis, dan strategi penanganan mandiri sangat penting (1). Strategi konservasi energi, seperti pacing, planning, dan prioritizing (3P), direkomendasikan bagi pasien dengan PEM. Pendekatan nonfarmakologis lain termasuk fisioterapi, terapi okupasi, psikoterapi, dan dukungan akademik. (1)
Farmakoterapi hanya digunakan untuk mengatasi gejala spesifik seperti nyeri, insomnia, atau gangguan mood. Dalam kasus PoTS, terapi dengan cairan, garam, dan beta blocker mungkin bermanfaat, walaupun bukti masih terbatas. (1)
Prognosis
Sebagian besar anak dengan PCC mengalami perbaikan dalam waktu 3–6 bulan, namun sejumlah kecil kasus dapat berlangsung lebih dari satu tahun dan menyebabkan disabilitas fungsional yang signifikan. (1) Intervensi awal dan dukungan lintas disiplin menjadi kunci keberhasilan manajemen.
Kesimpulan
Long COVID pada anak adalah entitas klinis yang nyata meskipun masih belum sepenuhnya dipahami. Manifestasinya beragam, diagnosisnya menantang, dan terapinya bersifat suportif. Studi longitudinal dan konsorsium riset pediatrik sangat dibutuhkan untuk menyusun pedoman berbasis bukti dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak yang terdampak.
Referensi
- Toepfner N, Brinkmann F, Augustin S, Stojanov S, Behrends U. Long COVID in pediatrics—epidemiology, diagnosis, and management. Eur J Pediatr. 2024;183(5):1543–1553. doi:10.1007/s00431-023-05360-y.
- Morello R, Martino L, Buonsenso D. Diagnosis and management of post-COVID (Long COVID) in children: a moving target. Curr Opin Pediatr. 2023;35(2):184–192. doi:10.1097/MOP.0000000000001221.

