Berita
Laryngopharyngeal Reflux pada Anak: Diagnosis dan Tata Laksana

Latar Belakang
Laryngopharyngeal reflux (LPR) didefinisikan sebagai aliran balik isi lambung atau duodenum secara retrograd melewati sfingter esofagus atas hingga mencapai faring dan laring, sehingga menimbulkan iritasi dan inflamasi mukosa saluran aero-digestif atas. Pada awalnya LPR dianggap sebagai manifestasi ekstra-esofageal dari gastroesophageal reflux (GER), tetapi saat ini kedua kondisi dianggap sebagai entitas berbeda berdasarkan perbedaan karakteristik klinis, patofisiologi, dan respons terapi. (1)
LPR dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk bayi dan anak, walaupun sebagian besar literatur sebelumnya berfokus pada populasi dewasa. (1) Penting untuk memahami bahwa bayi memiliki imaturitas fisiologis sistem pencernaan dan sfingter esofagus sehingga lebih rentan terhadap refluks patologis. (2) Sebagian besar refluks bersifat fisiologis dan membaik setelah usia 1 tahun, tetapi sebagian kecil berkembang menjadi penyakit klinis signifikan yang berpotensi menimbulkan morbiditas jangka panjang. (1,2) Oleh sebab itu, pengetahuan mengenai LPR pada anak sangat penting untuk deteksi dini dan tata laksana yang tepat.
Etiologi, Epidemiologi, dan Faktor Risiko
LPR disebabkan oleh gangguan pertahanan esofagus termasuk dismotilitas dan relaksasi transien sfingter esofagus bawah maupun atas yang memungkinkan refluks isi lambung mencapai laring dan faring. Bayi lebih sering mengalami refluks karena kelemahan tonus sfingter, motilitas esofagus yang belum matang, serta waktu pengosongan lambung yang lambat. (2) Diperkirakan hingga 20% anak mengalami refluks signifikan secara klinis, dan pada pasien dengan batuk kronik atau serak, refluks terdeteksi pada 62–73% kasus. (2)
Prevalensi pasti LPR pada anak belum dapat ditentukan karena belum adanya standar emas diagnostik yang definitif dan keterbatasan penggunaan modalitas objektif seperti hypopharyngeal-esophageal multichannel intraluminal impedance-pH (HEMII-pH). Faktor risiko meliputi prematuritas, obesitas, gangguan neurologis, alergi, paparan asap rokok, dan riwayat GERD. (1)
Patogenesis
Kerusakan mukosa terjadi akibat paparan pepsin, asam, dan garam empedu yang mencapai laring dan faring. Mukosa laring yang tersusun dari epitel silindris pseudostratified lebih rentan dibanding mukosa esofagus, sehingga inflamasi mudah terjadi. Pepsin tetap stabil pada pH netral dan dapat reaktif kembali saat paparan asam berikutnya sehingga memperpanjang proses kerusakan jaringan. Peradangan kronik memicu mukosa menjadi edema, hiperplasia, dan produksi mukus kental yang menyebabkan gejala seperti postnasal drip, clearing throat, disfagia, dan batuk kronis. (2)
Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Gejala sangat bervariasi sesuai usia. Bayi dapat menunjukkan regurgitasi, menangis lemah, apnea, stridor, kesulitan makan, gangguan tidur, atau mengi. Pada anak yang lebih besar ditemukan serak, clearing throat, postnasal drip, batuk kronik, globus, disfagia, atau nyeri dada fungsional. (2)
Temuan endoskopi yang sering meliputi edema laring, eritema arytenoid, edema komisura posterior, granulasi mukosa, dan nodul pita suara. (2)
Diagnosis LPR pada anak cukup menantang karena gejalanya tidak spesifik dan belum ada standar diagnostik universal yang divalidasi pada kelompok usia ini. (1) Multichannel intraluminal impedance-pH (MII-pH) merupakan metode objektif terbaik yang tersedia saat ini. Namun, metodenya invasif dan kriteria diagnostik berdasarkan temuan dari metode ini belum divalidasi pada populasi anak. (2)
Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul meliputi otitis media kronik dengan efusi, disfungsi tuba eustachius, sinusitis kronik, pneumonia berulang, aspirasi, gangguan suara, bronkokonstriksi, serta penurunan kualitas hidup. LPR juga berperan dalam berbagai gangguan THT dan pernapasan seperti apnea, laringomalasia, dan subglottic stenosis. (1,2)
Rekomendasi Tata Laksana
Tata laksana dianjurkan menggunakan pendekatan bertahap. (1) Perubahan gaya hidup dan diet adalah langkah awal untuk kasus ringan hingga sedang, termasuk posisi tegak setelah makan, pengaturan porsi makan, menghindari makanan pemicu, dan modifikasi pola tidur. (2)
Terapi farmakologis seperti penghambat pompa proton menunjukkan efektivitas terbatas dibanding terapi GERD karena banyak refluks bersifat non-asam. Agen seperti alginat atau magaldrate dapat membantu pada refluks lemah asam atau alkali. (2)
Pada kasus berat atau refrakter dengan risiko pernapasan, tindakan bedah dapat dipertimbangkan setelah evaluasi multidisipliner. (1)
Kesimpulan dan Penutup
LPR pada anak merupakan kondisi klinis yang penting tetapi sering tidak dikenali karena gejalanya non-spesifik dan keterbatasan metode diagnostik. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan komplikasi respirasi dan THT yang signifikan. Pendekatan diagnostik yang komprehensif, kewaspadaan klinis tinggi, dan tata laksana bertahap berbasis bukti diperlukan untuk mencegah morbiditas jangka panjang. Penelitian masa depan harus difokuskan pada pengembangan kriteria diagnostik berbasis HEMII-pH dan evaluasi efektivitas terapi jangka panjang. (2)
Daftar Pustaka
- Sofokleous V, Papadopoulou AM, Giotakis E, et al. Pediatric Laryngopharyngeal Reflux in the Last Decade: What Is New and Where to Next?. J Clin Med. 2023
- Lechien JR. Pediatric Laryngopharyngeal Reflux: An Evidence-Based Review. Children. 2023;10:583.

