Dot Grid

Berita

Konsensus IDAI​ dalam Diagnosis dan Tata Laksana Obesitas pada Anak dan Remaja

Konsensus IDAI​ dalam Diagnosis dan Tata Laksana Obesitas pada Anak dan Remaja

Obesitas pada anak dan remaja merupakan masalah kesehatan yang prevalensinya terus meningkat. Angka kejadian overweight dan obesitas anak secara global meningkat dari 4,2% pada tahun 1990 menjadi 6,7% pada tahun 2010, dan kecenderungan ini diperkirakan mencapai 9,1% atau 60 juta anak pada tahun 2020. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan prevalensi overweight dan obesitas pada anak usia 5–12 tahun berturut-turut sebesar 10,8% dan 8,8%, sudah mendekati perkiraan angka dunia tahun 2020. (1) Tren peningkatan ini berlanjut hingga saat ini; data terbaru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan satu dari empat orang dewasa mengalami obesitas, dan prevalensi diabetes pada anak bahkan dilaporkan meningkat hingga 15,6% pada tahun 2025, suatu indikasi bahwa beban metabolik akibat obesitas kini bergeser ke usia yang semakin muda. (2)

 Kondisi ini turut mendorong pergeseran usia onset penyakit metabolik, dari kelompok usia 50-an menjadi 30-an tahun, sehingga menambah beban pembiayaan kesehatan nasional yang pada tahun 2024 saja mencapai Rp25 triliun untuk penyakit kardiovaskular terkait obesitas dan diabetes. (2) Peningkatan prevalensi obesitas pada anak juga disertai peningkatan komorbiditas yang berpotensi menjadi penyakit degeneratif di kemudian hari, seperti dislipidemia, hipertensi, resistensi insulin, hingga sindrom metabolik. (1) Sindrom metabolik sendiri merupakan kumpulan gejala obesitas abdominal, dislipidemia, hiperglikemia, dan hipertensi, dengan prevalensi pada remaja obes di Indonesia dilaporkan berkisar 19,6% hingga 34% bergantung pada kriteria yang digunakan. (3) Berikut adalah rekomendasi diagnosis, tata laksana, dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja agar terdapat keseragaman persepsi dan praktik klinis di antara dokter spesialis anak di Indonesia. (1)


Diagnosis Obesitas pada Anak

Berbeda dengan orang dewasa yang menggunakan ambang indeks massa tubuh (IMT) tetap, diagnosis obesitas pada anak tidak dapat hanya mengandalkan nilai IMT absolut, melainkan harus diplot pada grafik IMT menurut usia dan jenis kelamin, mengingat komposisi tubuh anak berubah secara dinamis sesuai tahap pertumbuhan. (1) Pada anak usia kurang dari dua tahun, kategori overweight dan obesitas ditegakkan menggunakan grafik IMT WHO 2006, yaitu overweight bila z-score >+2 SD dan obesitas bila >+3 SD, sedangkan pada anak usia 2–18 tahun digunakan grafik IMT CDC 2000, dengan overweight pada persentil 85–95 dan obesitas pada persentil di atas 95. (1)

Evaluasi diagnostik tidak berhenti pada antropometri saja, melainkan meliputi anamnesis faktor risiko medis dan perilaku—termasuk periode mulai timbulnya obesitas, deteksi early adiposity rebound, pola makan, aktivitas fisik, serta riwayat obesitas dan komorbiditas dalam keluarga—diikuti pemeriksaan fisis dan deteksi dini komorbiditas seperti obstructive sleep apnea, perlemakan hati, dislipidemia, hipertensi, dan resistensi insulin. Secara etiologi, lebih dari 90% kasus obesitas anak bersifat idiopatik (akibat faktor nutrisi), sedangkan kurang dari 10% bersifat endogen akibat kelainan hormonal, sindrom genetik, atau defek lain, yang umumnya ditandai perawakan pendek dan fungsi mental yang sering terganggu. (1)


Tata Laksana: Nutrisi dan Aktivitas Fisik

Prinsip tata laksana gizi lebih dan obesitas pada anak adalah sebagai berikut:

  1. Makan secara teratur, yaitu tiga kali makan utama dan dua kali camilan setiap hari pada waktu yang konsisten. Camilan sebaiknya berupa buah segar, air putih diberikan di antara waktu makan, dan durasi makan dianjurkan sekitar 30 menit setiap kali makan.
  2. Menciptakan suasana makan yang netral, tanpa memaksa anak menghabiskan atau mengonsumsi makanan tertentu. Orang tua menentukan jenis dan jadwal makanan, sedangkan anak menentukan apakah dan berapa banyak makanan yang akan dimakan.
  3. Menyesuaikan porsi dengan kebutuhan energi, yaitu berdasarkan kebutuhan kalori sesuai RDA menurut height age yang dikalikan dengan berat badan ideal berdasarkan tinggi badan. (1) Tabel jumlah kalori per kilogram berat badan yang diperlukan berdasarkan usia tinggi bisa dilihat di Tabel 1.


Tabel 1. Kebutuhan kalori anak berdasarkan usia (4,5)

Usia 

Laki-laki (kkal/kg BB/hari)

Perempuan (kkal/kg BB/hari)

0-6 bulan

120

120

6-12 bulan

110

110

1–3 tahun

100

100

4–6 tahun

90

90

7–9 tahun

80

80

10–12 tahun

60–70

50–60

12–18 tahun

50–60

40–50


Pengurangan kalori dianjurkan berkisar 200–500 kalori per hari dengan target penurunan berat badan 0,5 kg per minggu, hingga mencapai sekitar 20% di atas berat badan ideal atau cukup dipertahankan agar tidak bertambah. (1) Komposisi diet seimbang terdiri atas karbohidrat 50–60%, lemak 30%, dan protein 15–20%, disertai diet tinggi serat dengan rumus (umur dalam tahun + 5) gram per hari. (1) Sebagai alternatif, dapat digunakan the traffic light diet yang membagi makanan menjadi kelompok hijau (boleh dikonsumsi bebas), kuning (terbatas), dan merah (dibatasi maksimal sekali per minggu). (1)

Di sisi aktivitas fisik, anak dan remaja dianjurkan melakukan latihan fisik minimal 60 menit per hari yang terdiri atas aktivitas aerobik, penguatan otot, dan penguatan tulang, disertai pembatasan waktu menonton televisi atau bermain gawai hingga maksimal dua jam per hari. (1) Modifikasi perilaku turut melibatkan pengawasan mandiri terhadap berat badan dan asupan, kontrol stimulus, serta pemberian penghargaan atas perilaku sehat, dengan keterlibatan aktif orang tua, anggota keluarga, guru, dan teman sebagai bagian dari keberhasilan program. (1) Sejalan dengan ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa pencegahan obesitas memerlukan perubahan perilaku menyeluruh, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, manajemen stres, hingga kualitas tidur, yang didukung melalui program promotif dan preventif seperti Cek Kesehatan Gratis serta edukasi gaya hidup sehat CERDIK dan GERMAS. (3)


Kesimpulan dan Penutup

Obesitas pada anak dan remaja merupakan masalah kesehatan kompleks dengan tren peningkatan global dan nasional, serta berisiko menimbulkan komorbiditas metabolik dan kardiovaskular yang dapat berlanjut hingga dewasa. (1,2) Beban ini turut tercermin dari meningkatnya pembiayaan kesehatan nasional akibat penyakit tidak menular terkait obesitas, sehingga pencegahan dini menjadi semakin mendesak dari sisi klinis maupun kebijakan kesehatan publik. (3) Diagnosis memerlukan pendekatan khusus menggunakan kurva pertumbuhan sesuai usia, bukan ambang IMT dewasa yang statis, disertai evaluasi komorbiditas secara menyeluruh. Tata laksana yang berfokus pada pengaturan nutrisi dengan penghitungan kalori berdasarkan berat badan ideal, peningkatan aktivitas fisik, dan modifikasi perilaku yang melibatkan keluarga menjadi pendekatan utama yang direkomendasikan konsensus IDAI. Mengingat sulitnya tata laksana obesitas yang sudah terjadi, upaya deteksi dini dan pencegahan—primer, sekunder, maupun tersier—tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia. (1)


Referensi

  1. Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diagnosis, tata laksana dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Jakarta: IDAI; 2014.
  2. Pulungan AB, Marzuki ANS, Julia M, Rosalina I, Damayanti W, Yanuarso PB, dkk. Diagnosis dan tata laksana sindrom metabolik pada anak dan remaja. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2014.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pencegahan obesitas dan diabetes jadi kunci turunkan beban penyakit dan pembiayaan kesehatan [Internet]. Jakarta: Kemkes; 2025 [diakses 29 Jun 2026]. Tersedia pada: https://kemkes.go.id/eng/pencegahan-obesitas-dan-diabetes-jadi-kunci-turunkan-beban-penyakit-dan-pembiayaan-kesehatan
  4. Sianipar HRP, Kasie JN, Wicaksono YS. Pediatric Nutritional Assessment. Arch Pediatr Gastr Hepatol Nutr. 2023;2(4):36-46. 
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2022. 




Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan