Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

RME

Kewajiban Fasyankes yang Utama Menurut Permenkes RME

30 Oktober 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Kewajiban Fasyankes yang Utama Menurut Permenkes RME

“RME adalah sistem pelayanan dan tata kelola, bukan sekadar aplikasi; regulasi serta dokumentasi SATUSEHAT perlu dibaca dari sumber resmi terbaru; hak akses, keamanan, backup, dan prosedur gangguan harus diuji; pengguna klinis perlu dilibatkan sejak pemetaan hingga evaluasi; serta implementasi bertahap membantu mengendalikan risiko dan memperbaiki mutu data.”

Permenkes RME menjadi rujukan penting bagi fasilitas pelayanan kesehatan dalam menyelenggarakan rekam medis secara elektronik. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 mengatur rekam medis dan menekankan keamanan serta kerahasiaan data dan informasi. Namun, membaca kewajiban tidak cukup hanya dengan membuat daftar dokumen. Fasyankes perlu menerjemahkan ketentuan ke dalam alur kerja, tanggung jawab, hak akses, pengendalian perubahan, penyimpanan, pencadangan, pemulihan, dan penanganan insiden. Implementasi juga harus mengikuti jenis layanan serta kapasitas organisasi. Artikel ini menjelaskan peran fasyankes dalam mengaplikasikan Permenkes RME dalam kerangka praktis untuk membantu pimpinan, penanggung jawab rekam medis, tenaga kesehatan, dan tim IT melakukan penilaian kesiapan.


Ruang Lingkup Permenkes RME

Gunakan naskah resmi Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 sebagai sumber utama. Identifikasi ketentuan yang berlaku untuk bentuk dan layanan fasyankes, lalu petakan setiap kewajiban ke kebijakan, SOP, sistem, serta bukti pelaksanaan. Hindari hanya mengandalkan ringkasan pihak ketiga karena konteks pasal dan definisi dapat terlewat.

Buat matriks kepatuhan dengan kolom kewajiban, proses terkait, pemilik, bukti, status, risiko, dan rencana tindakan. Matriks harus ditinjau ketika sistem atau layanan berubah. Tandai area yang membutuhkan klarifikasi resmi agar tim tidak mengisi kekosongan dengan asumsi.

Tanggung Jawab, Akses, dan Kerahasiaan

Tetapkan peran pengguna berdasarkan kebutuhan kerja minimum. Akun tidak boleh dipakai bersama, hak akses perlu disetujui, dan akses mantan pegawai harus dicabut tepat waktu. Riwayat aktivitas sistem dipantau untuk mendeteksi akses tidak wajar, perubahan, serta aktivitas yang perlu ditindaklanjuti.

Kerahasiaan membutuhkan kombinasi kebijakan, teknologi, lingkungan kerja, dan perilaku. Atur layar, perangkat, pencetakan, pengiriman dokumen, percakapan, penyimpanan lokal, serta penggunaan media eksternal. Pelatihan perlu menggunakan contoh situasi yang benar-benar dihadapi staf.

Keutuhan, Penyimpanan, dan Ketersediaan Data

Fasyankes perlu menjaga agar catatan lengkap, akurat, dapat ditelusuri, dan tersedia bagi pihak berwenang sesuai kebutuhan pelayanan. Atur koreksi tanpa menghilangkan riwayat, sinkronisasi waktu, pengecekan identitas, dan penanganan duplikasi. Tentukan standar kelengkapan serta proses tindak lanjut catatan yang belum selesai.

Bangun pencadangan dengan frekuensi, lokasi, perlindungan, dan retensi yang ditetapkan. Keberhasilan backup tidak sama dengan keberhasilan pemulihan. Lakukan uji restore berkala, dokumentasikan hasil, dan siapkan prosedur pelayanan ketika sistem utama tidak tersedia.

Menerjemahkan Aturan ke Program Kerja

Susun prioritas berdasarkan risiko pasien, kepatuhan, dan ketergantungan. Tindakan awal biasanya meliputi inventaris sistem, penetapan pemilik data, perbaikan akun, SOP gangguan, pencadangan, serta pelatihan. Setiap tindakan memiliki tenggat dan bukti penyelesaian.

Gunakan panduan registrasi SATUSEHAT di serta panduan kemampuan sistem untuk bertukar data di untuk area integrasi. Pastikan vendor menjelaskan pembagian tanggung jawab, dukungan, perubahan, dan mekanisme eskalasi secara tertulis.

Pada tahap penerapan, fasilitas kesehatan perlu mengubah kebutuhan RME menjadi skenario kerja yang dapat diuji oleh pengguna. Petakan alur sejak registrasi, pemeriksaan, tindakan, resep, rujukan, pembayaran, hingga pelaporan, lalu tentukan informasi yang harus tersedia pada setiap tahap. Dokter, perawat, petugas rekam medis, administrasi, manajemen, dan tim teknologi perlu menguji skenario normal maupun gangguan. Uji tersebut mencakup kesalahan identitas, data tidak lengkap, koneksi terputus, akun terkunci, koreksi catatan, pergantian petugas, dan kebutuhan mengakses riwayat secara cepat. Hak akses harus mengikuti peran, sedangkan perubahan data perlu dapat ditelusuri dan ditinjau oleh pihak berwenang. Sebelum digunakan lebih luas, klinik dapat menjalankan uji terbatas pada layanan atau kelompok pengguna tertentu, mencatat hambatan, dan memperbaiki instruksi kerja. Materi pelatihan sebaiknya menggunakan contoh alur klinik sendiri agar pengguna memahami dampak setiap isian terhadap pelayanan, pelaporan, dan integrasi. Tetapkan pula prosedur pencadangan, pemulihan, pelaporan insiden, serta layanan ketika sistem tidak tersedia. Setelah implementasi, evaluasi tidak berhenti pada status aktif. Pantau kelengkapan catatan, waktu penyelesaian, kesalahan berulang, permintaan bantuan, kepuasan pengguna, dan tindak lanjut insiden. Temuan tersebut menjadi dasar untuk menyesuaikan pengaturan, pelatihan, dukungan, serta tata kelola tanpa mengorbankan kesinambungan pelayanan atau kerahasiaan pasien.

Agar tindak lanjut tetap konsisten, dokumentasikan keputusan dalam format singkat yang memuat kondisi awal, tindakan, pemilik, tenggat, dan hasil. Simpan bukti yang mudah ditinjau, lalu gunakan pertemuan rutin untuk membahas penyimpangan yang paling berdampak. Bila hasil belum sesuai, periksa kembali asumsi, kapasitas tim, serta hambatan pada alur kerja sebelum menambah aturan baru. Perbaikan yang sederhana, dipahami pelaksana, dan dievaluasi secara teratur biasanya lebih mudah dipertahankan daripada prosedur panjang yang jarang digunakan.

Apa Prioritas Fasyankes dalam Memenuhi Kewajiban RME?

Pemilihan RME perlu dimulai dari kebutuhan pelayanan, alur pengguna, kewajiban regulasi, integrasi, keamanan, serta kapasitas dukungan. PrimaCare menyediakan informasi solusi RME melalui yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan perbandingan. Pendekatan konsultatif membantu klinik menjelaskan modul prioritas, jumlah pengguna, lokasi, kebutuhan data, dan tahapan implementasi.

Sebelum mengambil keputusan, minta demonstrasi berdasarkan skenario klinik, dokumentasi dukungan, ketentuan akses data, rencana migrasi, mekanisme backup, penanganan gangguan, dan pembagian tanggung jawab integrasi. Keputusan akhir perlu melalui penilaian klinis, teknis, keuangan, kepatuhan, serta keamanan. Vendor tidak menggantikan tanggung jawab tata kelola fasyankes.

Agar implementasi dapat diuji, gunakan rencana 30 hari. Minggu pertama berfokus pada pemetaan proses, inventaris data, dan penetapan pemilik. Minggu kedua digunakan untuk pengaturan serta uji skenario terbatas. Minggu ketiga menilai kualitas data, hak akses, pelatihan, dukungan, dan penanganan gangguan. Minggu keempat digunakan untuk memperbaiki temuan serta menentukan completion gate. Dokumentasikan keputusan, pengecualian, risiko yang diterima, dan tindakan lanjutan. Jangan memperluas penggunaan sebelum masalah keselamatan, kerahasiaan, atau kehilangan data diselesaikan. Setelah sistem berjalan, adakan tinjauan berkala bersama pengguna dan vendor agar perubahan tidak mengurangi mutu pelayanan.

Gunakan daftar kesiapan sebelum setiap tahap. Daftar tersebut mencakup pemilik proses, daftar pengguna aktif, perangkat, konektivitas, data referensi, formulir, prosedur waktu sistem tidak bisa digunakan, kontak dukungan, jadwal pelatihan, dan bukti pengujian. Pastikan tenaga yang menjalankan pelayanan memahami perubahan dan memiliki kesempatan menyampaikan masalah. Tinjau hasil uji berdasarkan dampak terhadap keselamatan pasien, kerahasiaan, kelengkapan catatan, waktu pelayanan, dan kemampuan pemulihan. Temuan kritis harus diselesaikan sebelum perluasan. Temuan lain memiliki penanggung jawab serta tenggat yang disetujui. Pendekatan ini mencegah proyek dinilai hanya dari keberhasilan login atau tampilan aplikasi. Keberhasilan yang lebih penting adalah sistem dapat digunakan secara konsisten, data dapat dipercaya, dan pelayanan tetap berjalan ketika terjadi gangguan. Simpan notulen keputusan agar perubahan pengaturan, penerimaan risiko, dan persetujuan dapat ditelusuri pada evaluasi berikutnya.

Permenkes RME: Kewajiban Fasyankes yang Utama perlu dinilai dari kesesuaian proses, data, manusia, teknologi, keamanan, dan regulasi. Gunakan sumber resmi, tetapkan tanggung jawab, uji skenario nyata, dan simpan bukti pelaksanaan. Mulailah dari lingkup yang dapat dikendalikan, lalu perluas setelah hasil stabil. Pendekatan ini membantu klinik mendapatkan manfaat RME tanpa mengabaikan kerahasiaan, kesinambungan pelayanan, dan kemampuan pemulihan. Untuk mendukung proses tersebut, PrimaCare membantu fasilitas kesehatan memetakan kebutuhan RME, kesiapan pengguna, keamanan data, dan integrasi yang relevan melalui layanan PrimaCare, dengan keputusan akhir tetap mengikuti tata kelola serta ketentuan resmi.

FAQ

1. Apa langkah pertama terkait Permenkes RME?

Mulailah dengan membaca regulasi dan panduan resmi, memetakan alur saat ini, serta menentukan pemilik klinis, rekam medis, teknis, dan manajemen.

2. Apakah vendor memegang seluruh tanggung jawab RME?

Tidak. Vendor menyediakan sistem dan dukungan sesuai kontrak, sedangkan fasyankes tetap perlu mengelola kebijakan, pengguna, proses, risiko, serta kepatuhan.

3. Apa yang harus diuji sebelum go-live?

Uji identitas, hak akses, pencatatan, koreksi, pencarian, laporan, integrasi, backup, pemulihan, waktu sistem tidak bisa digunakan, dan eskalasi dukungan menggunakan skenario layanan.

4. Seberapa sering akses pengguna ditinjau?

Tinjau secara rutin dan segera ketika ada perubahan peran, mutasi, cuti panjang, penghentian kerja, insiden, atau perubahan sistem.

5. Bagaimana memastikan dokumentasi tetap terbaru?

Tetapkan pemilik dokumen, versi, tanggal tinjau, riwayat perubahan, dan sumber resmi. Evaluasi ulang saat regulasi, SATUSEHAT, layanan, atau vendor berubah.

Referensi

  1. JDIH Kementerian Kesehatan : Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis
  2. SATUSEHAT Platform : Panduan Registrasi
  3. SATUSEHAT Platform : Panduan Kemampuan sistem untuk bertukar data
  4. SATUSEHAT Platform : Resume Medis Rawat Jalan
  5. PrimaCare : Solusi Supply dan RME
  6. PrimaCare : Memilih supplier vaksin tepercaya
  7. PrimaCare : Kolaborasi distribusi vaksin


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan