Dot Grid

Berita

Kenali Dengue Sebelum Terlambat: Webinar PrimaPro Soroti Bahaya Fase Awal yang Sering Terlewat

Kenali Dengue Sebelum Terlambat: Webinar PrimaPro Soroti Bahaya Fase Awal yang Sering Terlewat

Jakarta, 9 Mei 2026 — Di balik demam tinggi yang datang tiba-tiba, nyeri kepala, dan lemas yang tampak biasa, dengue bisa diam-diam berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Inilah pesan utama yang disampaikan dalam webinar edukatif PrimaPro bertajuk "Tantangan Diagnosis Dengue pada Fase Awal dan Implikasi Klinisnya", yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 9 Mei 2026.

Webinar yang dimoderatori oleh dr. Afiah Salsabila ini menghadirkan Prof. Dr. dr. Hindra “Hinky” Irawan Satari, Sp.A, Subsp. I.P.T., M.Trop.Paed., salah satu pakar penyakit infeksi anak terkemuka di Indonesia, sebagai narasumber tunggal. Ratusan tenaga kesehatan dari berbagai penjuru Indonesia hadir untuk menyimak pemaparan mendalam soal tantangan yang selama ini kerap dihadapi di lapangan: bagaimana mengenali dengue sejak awal, sebelum pasien memasuki fase kritis.


Gejala yang Menipu

Prof. Hinky membuka sesi dengan menegaskan bahwa diagnosis dengue pada tiga hari pertama demam adalah salah satu tantangan klinis paling nyata yang dihadapi tenaga kesehatan saat ini. Pasalnya, banyak gejala awal dengue yang menyerupai penyakit lain.

Ia menjelaskan bahwa banyak pasien datang dengan demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, dan lemas. Itu juga gambaran influenza, tifoid, chikungunya, bahkan COVID-19. Tanpa tanda pembeda yang jelas, tidak sedikit kasus dengue yang terlambat teridentifikasi — hingga kondisi pasien sudah memburuk.

Kondisi ini diperparah oleh hasil laboratorium yang pada fase awal sering kali tampak normal. Trombositopenia dan peningkatan hematokrit, dua penanda khas dengue, biasanya baru muncul pada hari keempat hingga keenam. Sementara itu, pemeriksaan antibodi IgM dan IgG pun kerap masih negatif karena tubuh belum cukup membentuk respons imun. 


Satu Kasus yang Menggambarkan Segalanya

Untuk memperjelas situasi tersebut, Prof Hinky menampilkan studi kasus seorang anak perempuan berusia empat tahun yang mulai demam sejak hari pertama. Tidak ada tanda bahaya yang mencolok di awal. Namun pada hari keempat, kondisinya berubah drastis: penurunan kesadaran, tanda-tanda syok, trombosit anjlok, dan hematokrit melonjak.

Pasien akhirnya harus menjalani resusitasi cairan agresif dan dirawat intensif di PICU sebelum kondisinya perlahan membaik. Kasus ini bukan anomali;  ini gambaran yang berulang terjadi di banyak fasilitas kesehatan ketika deteksi dini terlewatkan.


NS1 dan RDT: Senjata Deteksi Dini yang Masih Kurang Dimanfaatkan

Dalam konteks ini, Prof. Hinky menyoroti pentingnya pemeriksaan antigen NS1 sebagai alat deteksi dini yang sensitif dan spesifik pada fase akut. Berbeda dari pemeriksaan antibodi, NS1 dapat terdeteksi sejak hari pertama demam, justru sebelum sistem imun sempat merespons. Namun ada catatan penting: sensitivitasnya akan menurun setelah hari keempat. Artinya, waktu pemeriksaan menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan.

Data yang dipaparkan cukup mengejutkan: penggunaan RDT terbukti mampu menurunkan angka rawat inap yang tidak perlu hingga 79%, sekaligus memangkas penggunaan antibiotik yang tidak rasional hingga 81%. Selain mempercepat diagnosis, RDT juga membantu mengurangi kecemasan pasien dan meningkatkan ketepatan keputusan rujukan.

Meski begitu, Prof. Hinky mengakui bahwa pemanfaatan RDT di fasilitas kesehatan primer Indonesia masih rendah, meskipun alat tersebut sudah tersedia. Ia menekankan perlunya standarisasi algoritma skrining demam dan peningkatan akses pemeriksaan dengue di FKTP, dua langkah yang dinilai krusial untuk mendukung target Zero Dengue Deaths 2030.


Waspada Saat Demam Turun

Salah satu poin yang paling ditekankan Prof. Hindra adalah fenomena yang sering disalahpahami oleh pasien maupun keluarganya: penurunan demam bukan berarti pasien sudah membaik.

Justru sebaliknya, periode hari ketiga hingga kelima, saat demam mulai turun, adalah fase paling berbahaya dalam perjalanan penyakit dengue. Di sinilah risiko kebocoran plasma dan syok paling tinggi. Oleh karena itu, warning signs seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan mukosa, penurunan kesadaran, dan berkurangnya frekuensi buang air kecil harus diwaspadai dengan serius.

Prof Hinky juga menekankan bahwa pemantauan serial hematokrit dan trombosit merupakan kunci supaya gambaran pemeriksaan penunjang Dengue tidak terlewat. 


Penutup: Kewaspadaan Klinis Tak Tergantikan

Menutup sesinya, Prof. Hinky menegaskan bahwa di tengah berbagai kemajuan alat diagnostik, kewaspadaan klinis tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan. Teknologi deteksi hanya akan efektif jika digunakan pada waktu yang tepat, oleh tenaga kesehatan yang memahami perjalanan penyakit dengue secara menyeluruh.

Pesan akhirnya sederhana namun tegas: diagnosis dini, pemantauan ketat, dan edukasi pasien adalah kombinasi terbaik untuk mencegah dengue berakhir dengan kematian.


Take Home Message

  • Gejala dengue hari 1–3 tidak spesifik dan mudah tertukar dengan infeksi lain
  • Pemeriksaan NS1 paling optimal digunakan sebelum hari keempat demam
  • Hasil laboratorium awal bisa tampak normal; pemantauan serial sangat penting
  • Keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko DSS, perdarahan berat, dan kematian
  • RDT dengue terbukti efektif menekan rawat inap tidak perlu dan penggunaan antibiotik berlebihan
  • Waspadai warning signs terutama saat demam mulai turun (hari ke-3 hingga ke-5)
  • Kewaspadaan klinis dan edukasi pasien adalah kunci utama menurunkan mortalitas dengue

Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan