Berita
IPA dan YKAG Bahas Peran Faktor Epigenetik dalam Kesehatan Anak Bersama Prof. Joseph Haddad

Jakarta — Yayasan Kesehatan Anak Global (YKAG) menggelar Round Table Discussion (RTD) bertajuk “Global Perspectives in Child Health” pada Jumat, 10 Oktober 2025 silam. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai anggota organisasi dan institusi yang bergerak di bidang kesehatan anak. Sebagai salah satu perwakilan platform digital yang bergerak dalam bidang kesehatan anak di Indonesia, PrimaKu dan PrimaPro mendapatkan kesempatan diundang untuk hadir.
Diskusi ini menghadirkan narasumber utama Prof. Joseph Haddad, Presiden International Pediatric Association (IPA), dengan moderator Prof. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), Subsp. Endo, FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.), yang menjabat sebagai Ketua YKAG dan anggota eksekutif IPA.
Epigenetik dan Awal Kehidupan Anak
Dalam paparannya bertajuk “Giving Every Child the Best Start in Life”, Prof. Haddad menjelaskan bahwa faktor epigenetik memiliki peran besar dalam menentukan kesehatan anak sepanjang hidupnya.
Beliau menjelaskan kalau epigenetik adalah mekanisme biologis di mana faktor lingkungan dapat mengubah ekspresi gen tanpa mengubah urutan DNA. Melalui proses seperti metilasi DNA dan modifikasi histon, paparan dari luar — seperti stres, polusi, malnutrisi, atau kekerasan — dapat memengaruhi produksi protein yang berperan dalam berbagai fungsi tubuh. “Perubahan ini bisa menguntungkan atau merugikan, tergantung dari kualitas lingkungan di mana anak tumbuh,” jelasnya.
Prof. Haddad memperkenalkan konsep “epigenetic wave” — perubahan ekspresi gen yang dipicu oleh faktor lingkungan pada berbagai tahap kehidupan. Menurutnya, pencegahan terhadap efek negatif epigenetik harus dilakukan sejak sebelum konsepsi. Tahapan ini disebut sebagai pencegahan primer, yang mencakup kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, status gizi, serta pencegahan penyakit tidak menular (non-communicable diseases) dan infeksi menular seksual.
Beliau juga menambahkan kalau kemiskinan, penelantaran, trauma, dan abuse dapat menciptakan toxic stress yang menurunkan perfusi otak dan berdampak pada fungsi kognitif anak. Ia menambahkan bahwa diskriminasi sosial, polusi udara, dan ketidakadilan sosial juga menjadi stresor epigenetik yang terbukti meningkatkan risiko penyakit kronik di masa dewasa.
Pencegahan Sekunder dan Tersier
Pencegahan sekunder berfokus pada masa kehamilan, di mana minimal empat kali kunjungan antenatal direkomendasikan untuk memastikan kesehatan ibu dan janin. Faktor maternal seperti konsumsi alkohol dan merokok selama kehamilan terbukti menyebabkan perubahan epigenetik yang bisa diwariskan hingga dua generasi berikutnya. .
Sementara pada tahap pencegahan tersier, intervensi setelah kelahiran menjadi krusial. Prof. Haddad menyoroti bahwa bayi yang lahir melalui operasi caesar memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, asma, dan diabetes tipe 1 di usia dewasa akibat perbedaan kolonisasi mikrobiota usus. Ia juga mengingatkan pentingnya intervensi “golden minute”, yakni akses ventilasi dalam satu menit pertama kehidupan untuk mencegah kematian neonatal.
Jendela Emas Perkembangan Otak
Menurut Prof. Haddad, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode terpenting pada anak. Di masa ini, terjadi proses pembentukan neuron dan koneksi saraf berlangsung pesat.
Ia juga menekankan pentingnya menyusui eksklusif, yang tidak hanya menyediakan nutrisi optimal tetapi juga mendukung maturasi kortikal dan mielinisasi, terutama pada bayi prematur. Ia juga menjelaskan pentingnya peran Kangaroo Mother Care (KMC) dalam menurunkan risiko depresi pada ibu serta kecemasan pada bayi.
Peran Nutrisi dalam Regulasi Epigenetik
Nutrisi menjadi faktor dominan dalam menjaga keseimbangan ekspresi gen. Kekurangan protein, zat besi, dan vitamin D dapat mengganggu pembentukan neuron dan sinapsis otak, sementara kelebihan nutrisi (overnutrition) juga dapat mengaktifkan gen yang memicu obesitas dan resistensi insulin. Ia menyampaikan kalau masalah gizi anak sekarang bukan hanya gizi kurang, tapi juga gizi berlebih — keduanya bisa mengubah kode epigenetik dan meningkatkan risiko penyakit metabolik.
Diskusi dan Sesi Tanya Jawab
Sesi diskusi berlangsung aktif, dengan berbagai pertanyaan dari peserta tentang bagaimana meningkatkan kesehatan anak dalam konteks negara berkembang. Menanggapi pertanyaan perwakilan dari PrimaKu/PrimaPro mengenai bagaimana cara meyakinkan pemimpin-pemimpin negara dan pemangku kebijakan untuk memprioritaskan kesehatan anak, beliau menekankan pentingnya pengembangan riset epidemiologi . Beliau juga menganjurkan untuk selalu menggunakan data dari bukti ilmiah terpercaya ketika hendak meyakinkan pihak-pihak tersebut.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber, menandai berakhirnya diskusi yang hangat dan penuh inspirasi. Para peserta, termasuk perwakilan dari PrimaKu dan PrimaPro, menyampaikan apresiasi atas ilmu yang dibagikan oleh Prof. Joseph Haddad.
Momen ini menjadi pengingat penting bahwa upaya meningkatkan kesehatan anak Indonesia membutuhkan sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kolaborasi dari berbagai pihak

