Berita
Intervensi Program Makan di Sekolah: Apakah Efektif?

Latar Belakang
Program makan di sekolah telah lama digunakan sebagai intervensi kesehatan dan sosial untuk meningkatkan status gizi serta akses pendidikan anak, terutama pada kelompok sosioekonomi yang rentan. Di Indonesia, Program Makan Bergizi (MBG) telah berjalan sekitar satu tahun dan memicu diskursus publik yang luas. Kritik terutama diarahkan pada isu pemerataan, kualitas menu, serta kekhawatiran penggunaan makanan ultra-proses. Namun demikian, pemerintah menekankan potensi manfaat MBG terhadap capaian pendidikan, termasuk pernyataan Wakil Menteri Pendidikan bahwa program ini berpotensi meningkatkan performa matematika dan bahasa Inggris siswa. (1,2). Klaim tersebut perlu ditinjau dalam kerangka bukti ilmiah global terkait efektivitas program makan di sekolah terhadap luaran gizi, kognitif, dan pendidikan anak. Berikut tinjauan singkat berdasarkan bukti ilmian terkini.
Bukti Ilmiah Program Makan di Sekolah
Penelitian paling komprehensif mengenai dampak program makan di sekolah berasal dari tinjauan sistematis Cochrane yang dilakukan oleh Kristjansson et al. (3). Tinjauan dan meta-analisis tersebut mengikutsertakan 18 studi, yang sebagian besar dilakukan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Studi-studi yang termasuk dalam ulasan tersebut secara khusus menargetkan anak-anak yang mengalami kerentanan gizi dan sosial, seperti tinggal di wilayah pedesaan, kawasan miskin perkotaan, atau populasi dengan prevalensi stunting dan underweight ≥30%. Asupan energi dari program sangat bervariasi, berkisar 195–730 kkal per hari dengan kandungan protein 10–27 gram, dan sebagian studi hanya menyediakan kurang dari 15% kebutuhan energi harian anak(3). Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan intervensi dengan kontribusi energi relatif kecil tetap dapat memberikan manfaat, terutama bila anak berada dalam kondisi defisit gizi.
Menurut hasil gabungan dari studi-studi yang dilakukan di negara-negara berpendapat rendah, ditemukan bahwa kelompok yang menerima program makan di sekolah mengalami peningkatan berat badan rata-rata sebesar 0,39 kg (95% CI 0,11–0,67) lebih banyak daripada kontrol setelah durasi waktu 19 bulan. Walaupun demikian, dampak intervensi program makan di sekolah terhadap pertumbuhan tinggi badan menunjukkan hasil yang tidak seragam.
Selain luaran antropometri, studi ini juga meneliti efek program makan di sekolah terhadap kehadiran sekolah dan performa akademik. Dari hasil analisis yang diperoleh, intervensi ini menghasilkan peningkatan rata-rata 4–6 hari sekolah per tahun dibandingkan kelompok kontrol. (3) Tak hanya itu, hasil gabungan dari studi-studi nonrandomized yang diikutsertakan menunjukkan bahwa program makan di sekolah dapat meningkatkan performa matematika. Sebaliknya, dampak terhadap kemampuan membaca dan tugas kognitif lain bersifat lebih kecil dan lebih tidak konsisten.
Pembaruan ulasan tersebut baru saja dipublikasikan pada bulan Januari 2026. Hasil dari studi ini memperkuat kesimpulan sebelumnya. Analisis terhadap 40 studi yang melibatkan lebih dari 91.000 anak usia 5–19 tahun menunjukkan bahwa di negara berpendapatan rendah dan menengah, program makan di sekolah menghasilkan peningkatan kecil namun konsisten pada skor matematika, status gizi berat dan tinggi badan menurut umur, serta peningkatan angka pendaftaran sekolah.. (4). Namun, efek terhadap kehadiran harian dan kemampuan membaca relatif minimal, dan bukti mengenai dampak terhadap gizi lebih masih belum jelas.
Kesimpulan dan Penutup
Secara keseluruhan, bukti ilmiah terikini menunjukkan bahwa program makan di sekolah memberikan manfaat kecil namun bermakna terhadap berat badan, performa matematika, dan partisipasi sekolah, terutama pada anak-anak yang memiliki status ekonomi rendah. Bagi Indonesia, implementasi MBG perlu berlandaskan bukti ilmiah, memenuhi kebutuhan gizi dan energi anak, mengutamakan pangan lokal yang minim ultraprocessed food, serta dievaluasi secara berkala. Dokter anak memiliki peran penting dalam memberikan perspektif ilmiah yang seimbang, mendukung intervensi berbasis bukti, dan memastikan bahwa tujuan utama program, yaitu mendukung tumbuh kembang dan potensi anak Indonesia, dapat tercapai secara optimal.
Ingin baca pembahasan lebih lanjut tentang pemenuhan gizi anak? Kunjungi artikel-artikel terkait berikut!
- Hidden Hunger pada Anak di Indonesia
- Angka Kecukupan Gizi Mikronutrien pada Anak
- Angka Kecukupan Gizi Anak di Indonesia
Daftar Pustaka
- Antara News. Wamen Stella: MBG berpotensi tingkatkan kemampuan matematika dan bahasa Inggris. Available from: https://www.antaranews.com/berita/5025477/wamen-stella-mbg-berpotensi-tingkatkan-kemampuan-matematika-dan-bahasa-inggris
- Detik Edu. Pakar UGM tolak menu ultra-processed food dalam MBG. Available from: https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8299021/pakar-ugm-tolak-menu-ultra-processed-food-dalam-mbg-ini-alasannya
- Kristjansson B, Petticrew M, MacDonald B, Krasevec J, Janzen L, Greenhalgh T, Wells GA, MacGowan J, Farmer AP, Shea B, Mayhew A, Tugwell P, Welch V. School feeding for improving the physical and psychosocial health of disadvantaged students. Cochrane Database of Systematic Reviews 2007, Issue 1. Art. No.: CD004676. DOI: 10.1002/14651858.CD004676.pub2.
- Kristjansson E, Dignam M, Rizvi A, Osman M, Magwood O, Olarte D, Cohen JFW, Krasevec J, Grover T, Labelle PR, Garner JA, Janzen L, Rossiter S, Dewidar O, Shea B, Welch V, Wells GA. School feeding programs for improving the physical and psychological health of school children experiencing socioeconomic disadvantage. Cochrane Database of Systematic Reviews 2025, Issue 12. Art. No.: CD014794. DOI: 10.1002/14651858.CD014794.pub2. Accessed 26 January 2026.

