Dot Grid

Berita

Influenza: Dari Teori Humor hingga Pemahaman Virologi Modern

Influenza: Dari Teori Humor hingga Pemahaman Virologi Modern

Latar Belakang

Dalam beberapa waktu terakhir, beredar kembali narasi di media sosial yang menyatakan bahwa influenza dan pilek terjadi akibat kondisi tubuh yang “lembab” atau dominasi sifat dingin-lembab dalam tubuh. Beberapa influencer kesehatan bahkan mengaitkan konsep ini dengan pendekatan pengobatan tradisional, seperti teori mizaj atau temperament, yang menyebutkan bahwa penyakit tertentu muncul akibat ketidakseimbangan sifat dasar tubuh, seperti panas, dingin, kering, dan lembab. Dalam kerangka ini, influenza sering dianggap sebagai manifestasi dari kondisi tubuh yang terlalu dingin dan lembab, sehingga terapi yang dianjurkan adalah konsumsi bahan bersifat panas dan kering, seperti madu.

Perbedaan antara konsep tradisional dan bukti ilmiah modern ini menjadi penting untuk dipahami, terutama dalam praktik klinis sehari-hari. Di tengah maraknya informasi kesehatan di media sosial, dokter anak perlu mampu menjelaskan secara empatik namun berbasis bukti kepada orang tua bahwa meskipun pendekatan tradisional dapat memiliki nilai budaya, etiologi influenza tetaplah infeksi virus yang memerlukan pendekatan pencegahan dan tata laksana sesuai prinsip kedokteran berbasis bukti.


Asal Muasal Teori Dingin-Lembab Sebagai Penyebab Penyakit Flu

Konsep tersebut sebenarnya memiliki akar historis panjang dalam perkembangan ilmu kedokteran klasik, khususnya dalam teori humor yang berkembang sejak era Galen. Pada masa itu, penyakit diyakini muncul akibat ketidakseimbangan empat humor tubuh, dan pendekatan terapi berfokus pada mengembalikan keseimbangan tersebut. (3,4) Pendekatan serupa juga ditemukan dalam praktik pengobatan tradisional Timur Tengah, di mana makanan dan zat tertentu diklasifikasikan berdasarkan sifat panas, dingin, kering, dan lembab. (2)

Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan ditemukannya mikroskop, paradigma ini mengalami pergeseran fundamental. Influenza kini diketahui sebagai penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus influenza dari famili Orthomyxoviridae, bukan akibat ketidakseimbangan humor atau sifat tubuh. Pemahaman berbasis virologi ini menjelaskan bahwa gejala influenza muncul akibat replikasi virus di epitel saluran napas dan respons imun tubuh terhadap infeksi tersebut. (1)


Etiologi, Variasi Strain, dan Manifestasi Klinis

Influenza merupakan infeksi akut saluran napas yang disebabkan oleh virus RNA dari famili Orthomyxoviridae. Secara klinis, virus influenza dibagi menjadi tiga tipe utama yang relevan pada manusia, yaitu influenza A, B, dan C.

Influenza A merupakan tipe yang paling virulen dan bertanggung jawab terhadap sebagian besar wabah musiman serta pandemi global. Virus ini memiliki kemampuan tinggi untuk mengalami mutasi antigenik melalui mekanisme antigenic drift dan antigenic shift, sehingga memungkinkan munculnya strain baru yang dapat menghindari imunitas populasi. Manifestasi klinis bervariasi dari gejala ringan hingga berat, dengan predileksi terhadap semua kelompok usia, namun komplikasi berat lebih sering terjadi pada bayi, anak kecil, lansia, serta individu dengan komorbid. (1)

Influenza B umumnya menyebabkan penyakit dengan derajat keparahan yang lebih ringan dibandingkan influenza A, meskipun tetap dapat menimbulkan komplikasi serius pada populasi rentan. Virus ini tidak mengalami antigenic shift, sehingga variasi genetiknya lebih terbatas. Influenza B sering ditemukan pada wabah musiman dan lebih sering menyerang anak-anak. (1)

Influenza C merupakan tipe yang paling jarang dan biasanya menyebabkan infeksi ringan atau subklinis. Manifestasi klinisnya sering tidak khas dan jarang berkontribusi terhadap beban penyakit yang signifikan secara populasi. (1)


Patogenesis, Perjalanan Penyakit, dan Faktor Risiko

Patogenesis influenza dimulai dari masuknya virus melalui saluran napas dan berikatan dengan reseptor asam sialat pada epitel respiratori. Virus kemudian bereplikasi dalam sel epitel, menyebabkan kerusakan seluler dan respons inflamasi lokal maupun sistemik. Respons imun inilah yang berkontribusi terhadap gejala sistemik seperti demam, mialgia, dan malaise. (1)

Perjalanan penyakit influenza umumnya bersifat akut, dengan onset gejala yang mendadak berupa demam tinggi, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri otot, dan kelelahan. Pada sebagian besar kasus, penyakit bersifat self-limiting dalam waktu 3–7 hari. Namun, pada kelompok risiko tinggi, influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia virus primer, pneumonia bakteri sekunder, eksaserbasi penyakit kronis, hingga kegagalan organ. (1)

Faktor risiko utama meliputi usia ekstrem (bayi dan lansia), penyakit kronis seperti asma dan penyakit jantung, status imunokompromais, serta kondisi lingkungan dengan kepadatan tinggi yang mempermudah transmisi droplet. Selain itu, rendahnya cakupan vaksinasi juga berkontribusi terhadap peningkatan kejadian influenza di populasi. (1)


Kesimpulan dan Penutup

Influenza merupakan penyakit infeksi yang telah dikenal sejak berabad-abad lalu, dengan pemahaman etiologi yang mengalami evolusi signifikan dari teori humor menuju konsep virologi modern. Saat ini, influenza dipahami sebagai infeksi virus dengan variasi strain yang memiliki karakteristik klinis dan epidemiologis berbeda. Influenza A menjadi tipe paling virulen dengan potensi pandemi, sementara influenza B dan C umumnya menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Patogenesis yang melibatkan kerusakan epitel respiratori dan respons inflamasi menjelaskan spektrum gejala yang luas, dari ringan hingga berat.

Bagi dokter anak, pemahaman komprehensif mengenai karakteristik virus, faktor risiko, serta perjalanan penyakit influenza sangat penting untuk mendukung diagnosis dini, tata laksana yang tepat, serta strategi pencegahan yang efektif. Dalam konteks praktik klinis di Indonesia, peningkatan kewaspadaan terhadap kelompok risiko tinggi dan optimalisasi upaya pencegahan, termasuk imunisasi, menjadi kunci dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat influenza. Evolusi pemahaman dari konsep tradisional menuju pendekatan berbasis bukti juga menjadi pengingat bahwa praktik kedokteran harus senantiasa berlandaskan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, serta menekankan penjelasan tentang penyebab penyakit ketika sedang mengedukasi pasien supaya terhindar dari misinformasi.


Daftar Pustaka

  1. Boktor SW, Hafner JW. Influenza. [Updated 2023 Jan 23]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459363/
  2. AlRawi SN, Zick SM. Traditional Arabic & Islamic Medicine (TAIM): Principles of Dietary Practices and the TAIM Food Pyramid. Glob J Health Sci. 2025;17(2):36-45. doi: 10.5539/gjhs.v17n2p36.
  3. Hajar R. Medicine from Galen to the Present: A Short History. Heart Views. 2021 Oct-Dec;22(4):307-308. doi: 10.4103/heartviews.heartviews_125_21.
  4. Zakerian M, Roudi F, Mahjoub F, Jamialahmadi T, Sahebkar A, Motavasselian M. The relationship between nutritional facts and temperament of selected Iranians' frequent food items: a summative content analysis study. Arch Med Sci Atheroscler Dis. 2023 Dec 29;8:e100-e111. doi: 10.5114/amsad/171707.




Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan