Berita
Hubungan Anemia Defisiensi Besi dan Stunting pada Anak

Latar Belakang
Anemia defisiensi besi (ADB) dan stunting merupakan dua masalah gizi yang prevalensinya masih tinggi di Indonesia. Kedua kondisi ini dapat mengganggu perkembangan kognitif, motorik, imunitas anak, kapasitas intelektual, dan produktivitas jangka panjang anak. Tak hanya itu, bukti ilmiah menunjukkan bahwa keduanya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan memperburuk keadaan satu sama lain. (1,2)
Definisi dan Epidemiologi
ADB merupakan bentuk anemia paling sering ditemukan pada anak-anak. World Health Organization memperkirakan adanya sekitar 40% anak dengan usia di bawah lima tahun secara global mengalami anemia, dengan separuh kasus diakibatkan oleh defisiensi besi. (1) Di Indonesia, survei menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 5–14 tahun mencapai 26,8% pada 2018. (2)
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi global 21,3% pada anak di bawah lima tahun pada 2019, dan di Indonesia prevalensinya dilaporkan sebesar 22,6% pada anak usia 5–12 tahun. (2) Angka ini menegaskan beban ganda malnutrisi yang dialami anak-anak di Indonesia.
Tak hanya itu, data dari Indonesian Family Life Survey-5 menunjukkan bahwa prevalensi masing-masing dari stunting, ADB, dan koeksistensi dari komorbiditas stunting dan ADB pada anak 6-9 tahun adalah sebesar 24,8%, 30,5%, dan 8,8% pada anak usia 6–9 tahun. (2) Fakta bahwa hampir 1 dari 10 anak mengalami keduanya sekaligus menegaskan perlunya intervensi terpadu.
Koeksistensi ADB dan stunting (CSA) merupakan kondisi yang sangat mengkhawatirkan karena meningkatkan risiko keterlambatan perkembangan psikomotor, penurunan perhatian, performa akademik rendah, hingga gangguan sosial-emosional (2).
Mekanisme Hubungan ADB dan Stunting
Hubungan antara ADB dan stunting bersifat timbal balik. Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa anak dengan stunting memiliki risiko 1,31–6,785 kali lebih tinggi mengalami ADB, sedangkan anak dengan ADB memiliki peluang 2,27 kali lebih besar untuk mengalami stunting. (1)
Secara biologis, defisiensi besi dapat mengganggu pertumbuhan linier melalui beberapa mekanisme. Besi merupakan kofaktor penting dalam sintesis DNA dan produksi enzim ribonukleotida reduktase. Kekurangan besi menghambat proliferasi sel, mengurangi produksi ATP, serta menurunkan sintesis protein, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan jaringan. Selain itu, ADB meningkatkan kerentanan terhadap infeksi akibat disfungsi imun, dan infeksi kronis merupakan salah satu faktor utama penyebab stunting. (1)
Sebaliknya, stunting akibat malnutrisi kronis dapat memperburuk risiko anemia. Kekurangan zat gizi makro dan mikro, termasuk besi, vitamin A, dan seng, sering ditemukan pada anak stunting. Defisiensi gizi jangka panjang ini mengganggu metabolisme besi serta eritropoiesis, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya ADB. (2)
Komplikasi Jangka Panjang
Baik stunting maupun ADB memiliki komplikasi jangka panjang yang serius. Stunting berhubungan dengan gangguan perkembangan kognitif, rendahnya kemampuan kerja motorik halus, serta peningkatan risiko penyakit metabolik di usia dewasa. Sementara itu, ADB terbukti menurunkan IQ, prestasi akademik, serta meningkatkan risiko attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). (1)
Kombinasi keduanya dapat memperburuk kerugian ganda: anak bukan hanya lebih pendek dari standar usianya, tetapi juga berisiko mengalami gangguan fungsi kognitif permanen yang tidak dapat sepenuhnya dipulihkan meski dengan terapi nutrisi di kemudian hari.
Tatalaksana
- Penanganan ADB dan stunting harus dilakukan secara simultan melalui pendekatan multisektoral.
- Suplementasi zat besi: WHO merekomendasikan pemberian suplementasi besi pada anak berisiko tinggi, terutama usia 6–23 bulan, diikuti pemantauan kadar hemoglobin secara berkala. (1)
- Fortifikasi pangan: Berbagai program fortifikasi, misalnya fortifikasi tepung terigu dan beras, dapat membantu meningkatkan asupan zat besi masyarakat luas, meski distribusi dan ketersediaan di Indonesia masih belum merata (1).
- Perbaikan gizi ibu hamil: Anemia pada ibu hamil berkontribusi terhadap rendahnya cadangan besi bayi saat lahir. Suplementasi besi dan asam folat pada kehamilan harus dipastikan terlaksana. (1)
- Peningkatan diversifikasi pangan: Asupan makanan kaya zat besi heme (daging merah, hati, ikan) dan pangan pendamping ASI yang bervariasi dapat mencegah kekurangan zat besi pada anak.(2)
- Intervensi gizi spesifik stunting: Termasuk suplementasi vitamin A, zink, promosi ASI eksklusif, MPASI bergizi seimbang, serta penanganan infeksi berulang. (2)
- Intervensi sensitif: Meliputi perbaikan sanitasi, peningkatan literasi gizi, serta akses pendidikan terutama bagi ibu. Faktor-faktor ini terbukti berhubungan dengan penurunan risiko stunting dan anemia di Indonesia (2).
Kesimpulan
Anemia defisiensi besi dan stunting merupakan masalah gizi yang saling terkait dan memperburuk kondisi satu sama lain. Anak dengan ADB lebih rentan mengalami stunting, dan anak yang stunting lebih berisiko menderita anemia. Di Indonesia, prevalensi keduanya masih tinggi, bahkan tidak jarang terjadi secara bersamaan pada anak usia sekolah.
Tatalaksana harus bersifat integratif, melibatkan suplementasi dan fortifikasi besi, diversifikasi pangan, intervensi maternal, serta perbaikan lingkungan sosial-ekonomi. Upaya komprehensif lintas sektor sangat mendesak untuk memutus beban ganda malnutrisi ini.
Referensi
- Oktarina C, Dilantika C, Sitorus NL, Basrowi RW. Relationship between iron deficiency anemia and stunting in pediatric populations in developing countries: a systematic review and meta-analysis. Children. 2024;11(1268). doi:10.3390/children11101268.
- Utami MMH, Kustiyah L, Dwiriani CM. Risk factors of stunting, iron deficiency anemia, and their coexistence among children aged 6–9 years in Indonesia: results from the Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014–2015. Amerta Nutr. 2023;7(1):120–30. doi:10.20473/amnt.v7i1.2023.120-130.

