Berita
Diagnosis dan Tatalaksana Chikungunya pada Anak di Indonesia
18 Juni 2025
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV) dan ditularkan oleh nyamuk Aedes, sama seperti dengue virus (DENV). (1,2,3) Di Indonesia, penyakit ini tergolong endemik dan telah beberapa kali menyebabkan wabah. Namun, angka kejadiannya yang tercatat secara resmi kemungkinan besar jauh lebih rendah dibandingkan angka sebenarnya. Hal ini mengindikasikan adanya underdiagnosis yang signifikan, terutama pada anak-anak. Sebuah studi multisenter di Indonesia menemukan bahwa 40 dari 1089 pasien rawat inap yang awalnya diduga mengalami infeksi lain seperti demam dengue atau tifus, ternyata mengalami infeksi akut chikungunya berdasarkan pemeriksaan serologi dan PCR .(1)
Mengapa Underdiagnosis Chikungunya dapat Terjadi?
Underdiagnosis chikungunya di Indonesia dapat dijelaskan oleh beberapa faktor utama. Pertama, gejala klinis chikungunya sangat mirip dengan demam dengue dan infeksi penyebab demam lainnya yang umum di Indonesia, seperti demam tifoid dan leptospirosis. Kedua, adanya keterbatasan alat diagnostik chikungunya di fasilitas layanan kesehatan primer termasuk keterbatasan uji RT-PCR dan serologi yang valid. Ketiga, adanya keterbatasan pada kesadaran klinisi terhadap karakteristik khas chikungunya, yang menyebabkan penegakan diagnosis lebih mengarah pada DBD yang lebih dikenal dan diwaspadai. Selain itu, tidak adanya terapi spesifik atau kebutuhan isolasi yang mendesak juga membuat penyakit ini kurang mendapat perhatian dibandingkan infeksi lain. (1)
Perbedaan Klinis antara Chikungunya dan Demam Dengue
Secara umum, perjalanan penyakit chikungunya dan demam dengue sama-sama dimulai dengan demam tinggi akut. Namun, tahap penyakit berikutnya pada kedua penyakit ini sangat berbeda. Biasanya, Chikungunya berlangsung dalam tiga fase: akut (7–10 hari), subakut (hingga 3 bulan), dan kronik (lebih dari 3 bulan). Pada fase akut, chikungunya ditandai oleh demam, ruam, nyeri kepala, artralgia, yang dapat bermanifestasi secara poliartrikuler, berat, dan menetap. (4) Sedangkan, demam dengue terdiri dari fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. DI fase kritis, biasanya terjadi penurunan demam yang disertai kebocoran plasma dan angka platelet yang merosot. Jika tidak ditangani dengan cepat dengan hidrasi dan terapi suportif lainnya, mekanisme-mekanisme tersebut sangat berpotensi untuk menyebabkan syok dan perdarahan, yang dapat mengancam jiwa. Dibandingkan dengan demam dengue, chikungunya lebih jarang mengarah pada komplikasi yang berat. Walaupun demikian, komplikasi-komplikasi seperti seperti ensefalitis, miokarditis, dan sindrom Guillain-Barré pernah dilaporkan dan biasanya lebih sering terjadi pada anak daripada pasien dewasa. (2,3)
Membedakan chikungunya dan DBD penting karena dapat mmengaruhi bagaimana pasien akan ditatalaksana dan dipantau. Pasien DBD memerlukan pengawasan ketat terhadap tanda-tanda syok dan perdarahan selama fase kritis, sedangkan chikungunya memerlukan perhatian lebih terhadap nyeri sendi persisten dan potensi komplikasi neurologis. Kesalahan diagnosis dapat menyebabkan tindakan yang tidak perlu seperti pemberian cairan berlebihan pada chikungunya atau keterlambatan resusitasi pada demam dengue. Di Indonesia, pemahaman klinis untuk membedakan keduanya sangat penting karena keduanya disebarkan oleh vektor yang sama dan sering terjadi bersamaan.
Tatalaksana Chikungunya pada Anak
Saat ini, belum ada terapi antivirus spesifik untuk chikungunya; tatalaksana yang direkomendasikan bersifat suportif, mirip dengan penatalaksanaan kasus demam dengue tanpa kebocoran plasma. Perbedaan utama terletak pada perhatian terhadap nyeri sendi yang menetap. Dalam beberapa kasus, terapi analgesik jangka panjang dan evaluasi lanjutan pada fase kronik diperlukan. (4) Pada fase akut, pemantauan status hidrasi, suhu, serta evaluasi terhadap komplikasi berat seperti kejang atau ensefalitis perlu dilakukan. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sebaiknya dihindari sampai demam dengue dapat disingkirkan untuk mencegah risiko perdarahan. Kortikosteroid tidak dianjurkan dalam fase akut, tetapi mungkin dapat dipertimbangkan pada fase kronik dengan artritis berat. (4)
Penutup
Chikungunya adalah penyakit endemik di Indonesia yang memiliki manifestasi klinis yang serupa, tetapi sejatinya berbeda dengan demam dengue. Meskipun jarang menyebabkan kematian, dampak jangka panjang seperti artritis kronik dapat sangat mengganggu kualitas hidup anak. Penting bagi dokter anak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap chikungunya, terutama pada kasus demam akut dengan nyeri sendi yang dominan.
Membedakan chikungunya dan DBD penting karena implikasinya terhadap tatalaksana dan pemantauan. Pasien DBD memerlukan pengawasan ketat terhadap tanda-tanda syok dan perdarahan selama fase kritis, sedangkan chikungunya memerlukan perhatian lebih terhadap nyeri sendi persisten dan potensi komplikasi neurologis. Kesalahan diagnosis dapat menyebabkan tindakan yang tidak perlu seperti pemberian cairan berlebihan pada chikungunya atau keterlambatan resusitasi pada demam dengue. Di Indonesia, pemahaman klinis untuk membedakan keduanya sangat penting karena keduanya disebarkan oleh vektor yang sama dan sering terjadi bersamaan.
Apakah Dokter pernah menangani pasien dengan chikungunya? Bagaimana pengalaman Dokter dalam menatalaksananya? Kami sangat ingin mendengar pendapat dan pengalaman Dokter! Silakan tulis jawaban atau tanggapan lainnya di kolom komentar di bawah artikel ini.
Daftar Pustaka
- Arif M, et al. Chikungunya in Indonesia: Epidemiology and diagnostic challenges. PLoS Negl Trop Dis. 2020;14(6):e0008355.
- Vikhe VB, et al. Dengue and Chikungunya Co-Infection-Associated Multi-Organ Dysfunction Syndrome: A Case Report. Cureus. 2023;15(12):e50196.
- de Lima Cavalcanti TYV, et al. A Review on Chikungunya Virus Epidemiology, Pathogenesis and Current Vaccine Development. Viruses. 2022;14(5):969.
- Webb E, et al. An evaluation of global Chikungunya clinical management guidelines: A systematic review. EClinicalMedicine. 2022;54:101672.




