Berita
Diagnosis Asma pada Anak di Bawah 5 Tahun

Asma merupakan penyakit pernapasan kronik paling umum pada masa kanak-kanak. Meskipun prevalensinya tinggi—sekitar 14% anak di dunia mengalami gejala asma—diagnosis asma, terutama pada anak usia di bawah lima tahun, tetap menjadi tantangan klinis yang signifikan. Hal ini dikarenakan keterbatasan pemeriksaan objektif serta tumpang tindih gejala dengan kondisi lain, yang sering kali mengarah pada overdiagnosis maupun underdiagnosis.
Pada anak usia dini, manifestasi gejala seperti batuk, napas berbunyi (wheezing), dan sesak napas memang sering dijumpai. Namun, tidak semua anak dengan wheezing memiliki asma. Di usia ini, banyak anak yang mengalami “preschool wheeze”, yang merupakan wheezing berulang akibat infeksi virus tanpa disertai inflamasi kronik saluran napas seperti pada asma. Dalam panduan National Institute for Health and Care Excellence (NICE), diagnosis asma pada anak usia di bawah lima tahun tidak mengandalkan pemeriksaan objektif seperti spirometri atau pengukuran fractional exhaled nitric oxide (FeNO), karena anak usia ini belum dapat melakukan manuver pernapasan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, penegakan diagnosis sangat bergantung pada anamnesis klinis, riwayat gejala, serta respons terhadap uji coba terapi.
Pendekatan Diagnosis Berdasarkan NICE untuk Anak <5 Tahun
Menurut pedoman NICE yang dikutip dalam BMJ Paediatrics Open, diagnosis asma pada anak usia di bawah 5 tahun ditetapkan melalui:
- Identifikasi gejala yang konsisten dengan asma, seperti wheezing yang berulang, batuk malam hari, dan sesak napas yang dipicu oleh infeksi virus, aktivitas fisik, atau paparan alergen.
- Evaluasi faktor risiko, termasuk riwayat atopik (eksim, rinitis alergi), riwayat keluarga dengan asma, kelahiran prematur, atau paparan asap rokok.
- Uji coba pengobatan menggunakan bronkodilator (SABA) atau inhaled corticosteroids (ICS). Respons positif terhadap terapi ini, misalnya berkurangnya frekuensi gejala dan perbaikan kualitas hidup, mendukung dugaan asma.
- Tindak lanjut jangka panjang, karena fenotipe asma dapat berubah seiring waktu. Diagnosis perlu dievaluasi ulang secara berkala untuk memastikan bahwa pengobatan masih tepat sasaran
Perbedaan dengan Diagnosis Asma pada Anak Usia >5 Tahun
Pada anak yang lebih besar, terutama di atas lima tahun, pendekatan diagnostik lebih mengandalkan pengujian objektif. NICE merekomendasikan penggunaan spirometri untuk menilai obstruksi aliran udara dan reversibilitasnya setelah pemberian bronkodilator. FeNO juga dapat digunakan sebagai penanda inflamasi eosinofilik, khususnya pada dugaan asma tipe atopi
Selain itu, anak di atas lima tahun dapat mengikuti uji provokasi seperti exercise challenge atau bronchial challenge untuk menilai variabilitas fungsi paru, yang menjadi salah satu ciri khas asma. Sayangnya, pemeriksaan ini tidak mungkin dilakukan pada balita, sehingga mempertegas tantangan diagnosis pada kelompok usia tersebut.
Hal yang Harus Diperhatikan agar Tidak Salah Diagnosis
Karena diagnosis pada anak kecil sangat bergantung pada interpretasi klinis, maka penting untuk tidak terburu-buru memberi label “asma” tanpa evaluasi menyeluruh. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Pemahaman orang tua terhadap istilah "wheezing" atau “mengi” bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, dokter perlu memastikan apakah suara yang dimaksud benar-benar wheezing ekspirasi yang khas
- Riwayat gejala harus dicatat secara rinci, termasuk pemicu, frekuensi, dan pola munculnya gejala (misalnya hanya saat infeksi atau terus-menerus).
- Eksklusi diagnosis banding penting dilakukan. Beberapa kondisi seperti refluks gastroesofagus, aspirasi benda asing, bronkiolitis kronik, dan kelainan struktural saluran napas bisa meniru gejala asma
- Tinjauan ulang diagnosis secara berkala, terutama jika tidak ada respons terhadap terapi atau jika gejala tidak konsisten.
Dalam beberapa kasus, overdiagnosis asma berakibat pada paparan kortikosteroid inhalasi jangka panjang yang tidak perlu. Sebaliknya, underdiagnosis bisa membuat anak tidak menerima pengobatan yang seharusnya dapat mencegah eksaserbasi atau komplikasi.
Kesimpulan
Mendiagnosis asma pada anak di bawah lima tahun adalah proses yang dinamis dan memerlukan kehati-hatian ekstra. Tidak adanya pemeriksaan objektif yang valid pada kelompok usia ini menjadikan diagnosis bergantung sepenuhnya pada riwayat klinis, respons terapi, dan pemantauan jangka panjang. Pendekatan ini sangat berbeda dari diagnosis pada anak di atas lima tahun yang dapat menggunakan alat bantu seperti spirometri dan FeNO.
Penting bagi tenaga kesehatan untuk menyadari bahwa diagnosis asma pada usia dini bukanlah keputusan satu kali, melainkan proses evaluasi berulang. Tujuannya bukan hanya mengidentifikasi asma, tetapi juga menghindari kesalahan diagnosis yang dapat berdampak jangka panjang pada kualitas hidup anak.
Daftar Pustaka
Martin J, Townshend J, Brodlie M. Diagnosis and management of asthma in children. BMJ Paediatrics Open. 2022;6(1):e001277. doi:10.1136/bmjpo-2021-001277

