Berita
Cara Mendiagnosis Dengue pada Anak Berdasarkan Pedoman WHO 2025
5 Juni 2025
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Dengue atau demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini sangat berbahaya terutama pada anak-anak, yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat. Oleh karena itu, diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting untuk memastikan penanganan yang optimal dan mencegah risiko kematian.
Definisi Kasus Dengue: Suspek, Probable, dan Confirmed
Menurut pedoman WHO terbaru, kategori kasus dengue perlu ditentukan sesuai definisi standar yang telah ditentukan agar penanganan dan pelaporan kasus dilakukan dengan tepat. Kasus suspek atau suspected case adalah anak yang tinggal atau pernah bepergian ke daerah endemis dalam 14 hari terakhir, mengalami demam akut selama 2 hingga 7 hari, disertai dengan beberapa gejala seperti mual, muntah, ruam, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, munculnya bintik merah kecil pada kulit, serta penurunan jumlah sel darah putih. Pada anak-anak di daerah endemik, khususnya bayi, demam yang tidak diketahui penyebabnya juga sudah dapat dianggap sebagai suspek dengue.
Selanjutnya, kasus probable adalah kasus suspek yang didukung oleh hasil pemeriksaan awal laboratorium, misalnya ditemukan antibodi IgM dengue pada satu sampel darah atau memiliki kaitan epidemiologis dengan kasus dengue yang sudah dikonfirmasi. Kategori ini menunjukkan tingkat keyakinan lebih tinggi terhadap diagnosis dengue tetapi belum dipastikan secara definitif.
Kasus confirmed atau terkonfirmasi merupakan kasus suspek dengue yang telah didukung hasil laboratorium definitif. Konfirmasi ini bisa diperoleh melalui deteksi langsung virus dengue menggunakan teknik molekuler seperti RT-PCR, isolasi virus dari sampel klinis, deteksi antigen NS1 menggunakan metode ELISA atau rapid diagnostic test (RDT), atau adanya serokonversi antibodi IgM/IgG yang signifikan (peningkatan empat kali lipat) antara sampel akut dan konvalesen. Pada kasus kematian, virus dengue juga dapat dideteksi pada jaringan melalui pemeriksaan molekuler atau imunohistokimia. Memahami ketiga kategori ini membantu tenaga medis dalam mengambil keputusan yang tepat terkait manajemen dan pelaporan kasus dengue pada anak.
Metode Diagnosis Dengue pada Anak
Diagnosis laboratorium dengue menggunakan dua pendekatan utama, yaitu deteksi langsung virus dan komponennya pada fase akut infeksi, serta deteksi antibodi yang dihasilkan oleh sistem imun pada fase berikutnya.
Pada hari-hari pertama setelah muncul demam, yakni dalam 0 hingga 7 hari, virus dengue dan protein antigen NS1 dapat dideteksi dalam darah anak. Metode paling akurat untuk mendeteksi RNA virus dengue adalah RT-PCR, sebuah teknik amplifikasi asam nukleat yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi. RT-PCR juga mampu membedakan keempat serotipe virus dengue, namun karena memerlukan fasilitas laboratorium lengkap dan tenaga ahli, pemeriksaan ini biasanya dilakukan di laboratorium rujukan.
Selain itu, deteksi antigen NS1 dilakukan menggunakan ELISA di laboratorium atau RDT yang lebih sederhana dan cepat, serta dapat dilakukan bahkan di fasilitas primer. NS1 hadir dalam darah hingga sembilan hari pada infeksi primer, namun tingkat deteksinya menurun pada infeksi sekunder karena adanya kompleks antigen-antibodi. Untuk anak kecil, terutama bayi dan balita, pengambilan darah kapiler (tetesan darah dari jari atau tumit) digunakan untuk pemeriksaan RDT ini, yang lebih ramah dan minim trauma.
Setelah melewati fase akut, sistem imun anak mulai memproduksi antibodi dengue. IgM biasanya mulai muncul antara hari ketiga hingga kelima sejak demam, mencapai puncak sekitar minggu kedua, dan bertahan selama beberapa bulan. Sedangkan IgG muncul lebih lambat pada infeksi primer, namun meningkat cepat dan dominan pada infeksi sekunder. Pengambilan sampel serum akut dan konvalesen dengan interval 10 hingga 14 hari sangat dianjurkan untuk mendeteksi serokonversi atau peningkatan titer antibodi secara signifikan, yang menjadi bukti konfirmasi infeksi dengue serta membedakan infeksi primer dari sekunder. Tes serologi ini dapat dilakukan dengan ELISA yang memiliki akurasi tinggi atau dengan RDT yang lebih cepat dan mudah diakses, meski sensitivitas dan spesifisitasnya sedikit lebih rendah.
Algoritma Diagnosis Berdasarkan Hari Onset Gejala
Pedoman WHO merekomendasikan agar diagnosis dengue mengikuti algoritma berdasarkan lama waktu sejak munculnya gejala. Pada hari pertama hingga ketujuh setelah demam, diagnosis utama menggunakan RT-PCR untuk deteksi RNA virus atau deteksi antigen NS1 dengan ELISA atau RDT. Kombinasi deteksi NS1 dan antibodi IgM dalam RDT mampu meningkatkan sensitivitas diagnosis terutama dalam kasus infeksi sekunder yang imunologinya lebih kompleks.
Setelah hari ketujuh, pemeriksaan antibodi IgM menjadi metode utama. Jika hasil pemeriksaan IgM negatif tetapi kecurigaan klinis terhadap dengue tetap tinggi, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang dengan serum konvalesen guna mendeteksi serokonversi. Namun, hasil negatif dari seluruh pemeriksaan laboratorium ini tidak serta merta menyingkirkan kemungkinan dengue, sehingga evaluasi klinis dan pemeriksaan tambahan untuk diagnosis banding tetap harus dilakukan secara cermat.
Pertimbangan Khusus Diagnosis Dengue pada Anak
Diagnosis dengue pada anak perlu perhatian khusus karena gejala pada anak sering kali kurang spesifik dan bisa berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak, terutama bayi, mungkin hanya menunjukkan gejala demam dengan tanda-tanda yang tidak khas seperti iritabilitas atau ruam kulit ringan. Teknik pengambilan sampel darah yang ramah anak seperti darah kapiler lebih disarankan guna mengurangi trauma dan kesulitan prosedur.
Selain itu, anak yang lahir dari ibu dengan riwayat dengue atau yang terinfeksi secara perinatal memiliki risiko khusus untuk mengalami dengue berat dan perlu pengawasan lebih ketat. Dengan tingkat risiko komplikasi yang lebih tinggi, diagnosis dan manajemen anak harus dilakukan dengan ketelitian lebih, agar penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin dan mencegah komplikasi yang mengancam nyawa.
Pengambilan dan Penanganan Sampel untuk Diagnosis
Jenis sampel yang direkomendasikan untuk diagnosis dengue pada anak adalah serum dari darah vena dengan volume minimal 0,5 ml. Namun, darah kapiler juga dapat digunakan, terutama untuk rapid diagnostic test pada anak bayi dan balita. Setelah pengambilan, sampel harus disimpan pada suhu 2 sampai 8 derajat Celsius jika akan diperiksa dalam waktu 48 jam, atau disimpan pada suhu beku -20 derajat Celsius untuk penyimpanan lebih lama. Penanganan dan transportasi sampel yang benar sangat penting agar kualitas dan hasil pemeriksaan tetap akurat dan dapat diandalkan.
Kesimpulan
Diagnosis dengue pada anak berdasarkan pedoman WHO 2025 menekankan perpaduan antara penilaian klinis dan pemeriksaan laboratorium yang tepat waktu dan sesuai fase penyakit. Dengan memahami definisi kasus suspek, probable, dan confirmed, tenaga medis dapat mengambil langkah penanganan dan pelaporan yang sesuai. Metode diagnostik utama meliputi deteksi langsung RNA virus dan antigen NS1 pada fase akut, serta pemeriksaan antibodi IgM dan IgG pada fase selanjutnya. Kombinasi penggunaan rapid diagnostic test yang menggabungkan NS1 dan IgM sangat membantu dalam mempercepat diagnosis di fasilitas kesehatan primer, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas. Selain itu, perhatian khusus diberikan pada karakteristik anak dalam pengambilan sampel dan interpretasi hasil laboratorium. Pendekatan ini memungkinkan diagnosis dini, intervensi cepat, dan penanganan yang efektif guna mencegah komplikasi berat dan kematian akibat dengue pada anak.
Referensi:
Laboratory testing for dengue virus: interim guidance. Geneva: World Health Organization; 2025B09394-eng.




