Dot Grid

Berita

Campak Masih Mewabah, Berikut Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan

Campak Masih Mewabah, Berikut Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan

KLB Campak di Indonesia

Pada 25 Agustus 2025, lanskap kesehatan Indonesia diguncang dengan berita adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Sumenep, Jawa Timur, yang mencatat adanya 2035 kasus dan 17 kematian. Tak lama kemudian, Kementerian Kesehatan menyoroti bahwa ternyata KLB Campak juga terjadi di 46 wilayah di 13 Provinsi di Indonesia. [1]

Kejadian Luar Biasa (KLB) ini bukan pertama kalinya terjadi. Tahun 2022 ada 64 wilayah yang terkena KLB, kemudian naik menjadi 95 pada 2023, dan 53 di 2024. Maka, tak menutup kemungkinan bahwa KLB dapat terjadi kembali. Dengan itu, sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan, dokter anak dan tenaga medis lainnya perlu mengetahui cara mendeteksi, merawat, sekaligus mencegah penularan lebih lanjut, sesuai dengan panduan WHO Measles Outbreak Guide (2022). [2]


Kenapa Perlu Respons Cepat?

Campak termasuk penyakit dengan daya tular paling tinggi pada manusia, dengan nilai R0 antara 12–18. Seorang anak yang terinfeksi dapat menularkan sejak 4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari sesudahnya. Komplikasinya pun berat: pneumonia, diare, radang otak, bahkan SSPE yang bisa muncul bertahun-tahun kemudian dan bersifat fatal. [1,2]

Oleh karena itu, WHO menegaskan bahwa setiap kasus campak harus dianggap sebagai potensi KLB sampai terbukti sebaliknya. Dalam masyarakat dengan cakupan imunisasi rendah, satu kasus saja bisa memicu lonjakan yang meluas hanya dalam beberapa minggu. [2]


Surveilans dan Konfirmasi Kasus

Dalam kondisi KLB, dokter anak memiliki tanggung jawab vital sebagai detektor dini. Setiap anak dengan demam, ruam makulopapular, disertai batuk, pilek, atau konjungtivitis harus segera dicurigai sebagai suspek campak dan dilaporkan ke sistem surveilans. Pemeriksaan laboratorium dengan deteksi IgM campak atau RT-PCR, bila tersedia, menjadi penentu untuk konfirmasi, sekaligus membantu pemetaan pola penularan di lapangan. [2]


Investigasi Epidemiologi

Investigasi lapangan penting dilakukan segera setelah ada kasus. Tim gabungan akan menelusuri kemungkinan kasus tambahan di sekolah, posyandu, atau fasilitas kesehatan, mendeskripsikan sebaran berdasarkan umur, status imunisasi, serta lokasi, dan menilai akar masalah mengapa terjadi KLB. Di Sumenep, data menunjukkan lebih dari separuh kasus terjadi pada anak usia 1–4 tahun, memperkuat gambaran bahwa kelompok usia balita menjadi kelompok paling rentan karena banyak yang belum lengkap menerima dua dosis vaksin campak-rubela. [1,2]


Outbreak Response Immunization (ORI) sebagai Strategi Utama

Salah satu strategi paling penting dalam mengendalikan KLB campak adalah Outbreak Response Immunization (ORI). Berbeda dengan imunisasi rutin yang mengikuti jadwal nasional, ORI dilakukan segera begitu ada wabah. Tujuannya sederhana namun mendesak: menutup kesenjangan imunisasi di masyarakat yang terdampak secepat mungkin. [2]

Di Sumenep, pelaksanaan ORI dimulai pada 25 Agustus 2025 dan menyasar semua anak usia 9 bulan hingga 6 tahun, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Prinsipnya, dalam situasi wabah tidak ada waktu untuk memilah siapa yang sudah atau belum divaksin, sebab setiap anak yang tidak terlindungi berpotensi menjadi mata rantai baru penularan. ORI pun bukan sekadar kegiatan medis, melainkan upaya kolaboratif lintas sektor. Advokasi dilakukan ke Bupati, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, organisasi masyarakat seperti NU dan Aisyiyah, hingga PKK, agar anak-anak sekolah, pesantren, dan komunitas terpencil dapat dijangkau. [1]

Peran dokter anak dalam ORI sangat besar, bukan hanya memastikan kelancaran pemberian vaksin di lapangan, tetapi juga mengedukasi orang tua. Banyak orang tua masih ragu atau takut imunisasi, padahal vaksin MR terbukti aman dan efektif. Di sinilah dokter anak perlu hadir, memberikan pemahaman bahwa vaksinasi adalah kunci agar wabah tidak semakin meluas. [1,2]


Tata Laksana Klinis

Selain pencegahan melalui imunisasi, penanganan kasus campak tetap menjadi bagian yang sangat penting. WHO merekomendasikan pemberian vitamin A kepada semua pasien campak. Dosisnya disesuaikan dengan usia: bayi di bawah 6 bulan mendapat 50.000 IU, anak usia 6–11 bulan mendapat 100.000 IU, sedangkan anak berusia 12 bulan ke atas hingga dewasa mendapat 200.000 IU. Semua diberikan secara oral, sekali sehari selama dua hari berturut-turut. Pada anak dengan tanda defisiensi vitamin A atau komplikasi berat, dosis ketiga dianjurkan diberikan kembali 4–6 minggu kemudian. [2[

Pemberian vitamin A ini bukan hanya formalitas, melainkan intervensi yang terbukti menurunkan angka morbiditas dan mortalitas campak. Selain itu, tata laksana suportif meliputi hidrasi adekuat, nutrisi optimal, pengendalian demam dengan antipiretik, serta antibiotik bila ada infeksi sekunder. Pasien harus diisolasi, baik di rumah sakit maupun di rumah dengan ventilasi baik, untuk mencegah penularan lebih luas. Bagi dokter anak, kewaspadaan terhadap komplikasi berat seperti pneumonia atau ensefalitis harus selalu tinggi agar rujukan cepat dapat dilakukan bila diperlukan. [2]


Pencegahan Penularan di Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan sering kali menjadi titik risiko penularan baru jika pencegahan tidak ketat. Oleh karena itu, tenaga medis harus memastikan status imunisasi campak-rubela lengkap, menggunakan masker medis atau N95 saat kontak dengan pasien, dan mengatur alur triase agar pasien suspek campak tidak bercampur dengan pasien lain sejak awal kedatangan. [2]


Edukasi dan Keterlibatan Komunitas

Tidak ada upaya pengendalian wabah yang bisa berhasil tanpa keterlibatan masyarakat. Tantangan terbesar sering kali justru datang dari misinformasi dan keraguan terhadap vaksinasi. Dokter anak memiliki peran strategis sebagai komunikator, menjelaskan kepada orang tua bahwa campak bukan penyakit ringan dan bahwa vaksin aman serta gratis disediakan pemerintah. Melibatkan tokoh masyarakat, guru, organisasi keagamaan, dan kader posyandu menjadi cara efektif untuk memperluas jangkauan pesan ini. [1,2]


Kesimpulan

KLB campak yang terjadi di Sumenep dan berbagai daerah di Indonesia membuktikan rapuhnya sistem pertahanan kesehatan bila cakupan imunisasi menurun. WHO menekankan bahwa respons cepat berupa ORI, dikombinasikan dengan surveilans aktif, investigasi epidemiologi, tata laksana klinis yang tepat termasuk pemberian vitamin A sesuai dosis, serta pencegahan penularan di fasilitas kesehatan, merupakan strategi menyeluruh untuk menghentikan wabah.

Bagi dokter anak, memahami dan menjalankan peran ini bukan sekadar kewajiban klinis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan setiap anak terlindungi dari komplikasi campak yang serius. Dengan komitmen bersama dan edukasi yang terus-menerus, rantai penularan dapat diputus, dan target eliminasi campak di Indonesia dapat kembali dikejar.



Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lengkap. Jakarta: Kementerian Kesehatan; 2025 Aug 26 [cited 2025 Sep 2]. Available from: https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap
  2. World Health Organization. Measles outbreak guide. Geneva: World Health Organization; 2022. 196 p. Available from: https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/360891/9789240052079-eng.pdf?sequence=1




Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan