Berita
Beban Kanker Anak di Indonesia dan Rencana Nasional dalam Penanggulangannya
24 September 2025
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Latar Belakang
Menurut GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat 408.661 kasus kanker baru dengan 242.988 kematian, serta lebih dari 1 juta kasus prevalensi 5 tahun. Dari angka tersebut, leukemia menyumbang 13.959 kasus baru dan 10.370 kematian, menjadikannya salah satu kanker yang paling sering ditemukan pada anak. Meskipun kanker anak secara global hanya menyumbang sekitar 1–3% dari seluruh kasus kanker, kondisi ini tetap penting untuk mendapat perhatian karena merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit non-infeksi pada kelompok usia tersebut. Tak hanya itu, sebagian besar kanker anak sebenarnya dapat disembuhkan apabila didiagnosis secara dini dan ditatalaksana dengan tepat, sehingga upaya peningkatan deteksi dan penanganan menjadi krusial dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. (1)
Etiologi, Faktor Risiko, dan Patogenesis
Etiologi kanker anak berbeda dengan kanker dewasa. Faktor genetik memegang peran penting, termasuk sindrom predisposisi kanker seperti Li-Fraumeni, Down syndrome, atau mutasi germline pada gen supresor tumor. Selain itu, terdapat kontribusi faktor lingkungan seperti paparan radiasi, infeksi virus onkogenik (misalnya Epstein-Barr virus pada limfoma), serta pajanan bahan kimia tertentu. Tidak seperti kanker dewasa, hubungan dengan gaya hidup, diet, atau merokok relatif minimal pada populasi anak. (1)
Faktor risiko yang telah diidentifikasi mencakup riwayat keluarga dengan kanker, kelainan kongenital, serta status imunodefisiensi. Pada leukemia akut, kelainan sitogenetik tertentu berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk. Retinoblastoma berkaitan erat dengan mutasi gen RB1, sementara tumor otak dapat timbul akibat mutasi jalur perkembangan sel neural . (1)
Patogenesis kanker anak melibatkan gangguan regulasi proliferasi sel, diferensiasi abnormal, dan kegagalan apoptosis. Akumulasi mutasi genetik sejak masa perkembangan embrio atau awal kehidupan dapat memicu transformasi sel menjadi ganas. Mekanisme biologis ini menjelaskan mengapa kanker anak umumnya tumbuh cepat, tetapi juga lebih responsif terhadap kemoterapi dibandingkan kanker pada dewasa. (1)
Komplikasi
Kanker anak dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Secara langsung, infiltrasi sel ganas ke organ vital menyebabkan kegagalan organ, misalnya hepatosplenomegali masif pada leukemia atau peningkatan tekanan intrakranial pada tumor otak. Komplikasi tidak langsung timbul akibat terapi, seperti supresi sumsum tulang, infeksi oportunistik, atau malnutrisi akibat mual muntah berulang. Selain itu, kanker anak berdampak jangka panjang berupa keterlambatan pertumbuhan, gangguan kognitif, hingga sindrom kanker sekunder akibat terapi. (1)
Tatalaksana dan Strategi Nasional
Penatalaksanaan kanker anak bersifat multimodal, meliputi kemoterapi, radioterapi, pembedahan, hingga transplantasi sumsum tulang tergantung jenis dan stadium kanker. Di Indonesia, keterbatasan fasilitas diagnostik dan terapi menjadi kendala besar. Banyak kasus terlambat terdiagnosis, sehingga prognosis menurun dibandingkan negara dengan sistem kesehatan lebih maju. (1)
Rencana Kanker Nasional 2024–2034 menekankan penguatan sistem kesehatan untuk kanker, termasuk kanker anak. Strateginya mencakup peningkatan registrasi kanker nasional, ketersediaan pusat kanker regional, dan integrasi layanan kanker dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, pengembangan pedoman tatalaksana nasional sesuai standar internasional, serta penelitian kanker anak di Indonesia. (1)
Upaya preventif juga menjadi fokus, meskipun pencegahan primer kanker anak terbatas. Program imunisasi, seperti vaksinasi hepatitis B dan HPV, dapat menurunkan risiko kanker terkait infeksi pada usia anak dan remaja. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini, terutama pada kanker dengan tanda khas seperti leukokoria pada retinoblastoma. Pencegahan tersier mencakup optimalisasi tatalaksana agar anak yang selamat memiliki kualitas hidup baik, termasuk rehabilitasi medik, dukungan psikososial, dan monitoring efek jangka panjang. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Kanker anak di Indonesia merupakan masalah kesehatan penting meskipun prevalensinya relatif rendah dibandingkan kanker dewasa. Dampaknya terhadap mortalitas, morbiditas, dan beban sosial-ekonomi keluarga sangat signifikan. Etiologi utama adalah kelainan genetik, dengan faktor risiko berupa predisposisi herediter dan infeksi tertentu. Komplikasi dapat bersifat akut maupun kronik, baik akibat penyakit maupun terapinya.
Rencana Kanker Nasional 2024–2034 menegaskan komitmen Indonesia dalam menurunkan beban kanker melalui peningkatan akses diagnosis, terapi komprehensif, dan pencegahan sekunder. Peran dokter anak sangat sentral, tidak hanya dalam mengenali gejala awal, tetapi juga dalam advokasi, edukasi keluarga, dan kolaborasi multidisiplin. Dengan strategi nasional yang kuat dan implementasi berkesinambungan, diharapkan angka kesintasan kanker anak di Indonesia dapat meningkat signifikan dalam dekade mendatang.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI. Rencana Kanker Nasional 2024–2034. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
- Ferlay J, Ervik M, Lam F, Laversanne M, Colombet M, Mery L, et al. Global Cancer Observatory: Cancer Today. Lyon, France: International Agency for Research on Cancer; 2024. Tersedia di: https://gco.iarc.who.int/today




