Dot Grid

Berita

Bagaimana Cara Mendiagnosis Hipertensi di Anak?

Bagaimana Cara Mendiagnosis Hipertensi di Anak?

Latar Belakang

Hipertensi pada anak semakin sering dijumpai seiring meningkatnya prevalensi obesitas di populasi anak dan remaja. Data di Indonesia masih terbatas, namun Riskesdas 2018 melaporkan prevalensi hipertensi pada dewasa mencapai 34,1%. Hipertensi pada usia anak dapat menetap dan berlanjut ke usia dewasa jika dibiarkan saja, maka dari itu penemuan ini masih dapat mendukung urgensi deteksi dini sejak masa anak.[1] Panduan hipertensi yang terdahulu, yaitu Fourth Report 2004, dinilai kurang sensitif dalam mengenali hipertensi anak. Hal ini mendorong American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan Clinical Practice Guideline for Screening and Management of High Blood Pressure in Children and Adolescents pada 2017, yang kemudian diadaptasi ke dalam PNPK Hipertensi Anak 2021 [1,2].


Etiologi, Faktor Risiko, dan Patogenesis

Hipertensi anak dibagi menjadi primer dan sekunder. Pada anak pra-adolesen, mayoritas kasus bersifat sekunder, mayoritas kasus diakibatkan oleh penyakit parenkim ginjal (60–70%). Sementara pada remaja, hipertensi primer lebih sering ditemukan, biasanya berhubungan dengan obesitas atau riwayat keluarga hipertensi. [1]

Faktor risiko meliputi obesitas, riwayat keluarga hipertensi, prematuritas, berat lahir rendah, asupan natrium tinggi, serta penggunaan obat tertentu seperti kortikosteroid. [1] Patogenesis hipertensi primer terkait dengan resistensi vaskular sistemik, aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, dan disfungsi endotel. Pada hipertensi sekunder, mekanisme penyakit yang mendasarinya, misalnya kelainan ginjal, koarktasio aorta, atau gangguan endokrin tertentu. [1]

Hipertensi yang tidak dikenali sejak dini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti hipertrofi ventrikel kiri, disfungsi ginjal, serta peningkatan risiko kardiovaskular jangka panjang. [2. Oleh karena itu, pengukuran tekanan darah secara rutin merupakan bagian penting dalam praktik klinis anak.


Rekomendasi Diagnosis: AAP 2017 dan PNPK 2021

AAP 2017 merekomendasikan melakukan skrining hipertensi melalui pengukuran tekanan darah dimulai sejak usia 3 tahun, dilakukan setidaknya setahun sekali, serta pada setiap kunjungan medis bagi anak dengan faktor risiko (obesitas, diabetes, penyakit ginjal, riwayat koarktasio aorta) [1].

Klasifikasi Hipertensi Anak (AAP 2017)

Usia 1–13 tahun:

  • Normal: < persentil 90
  • Tekanan darah meningkat: ≥ persentil 90 hingga < persentil 95, atau ≥120/80 mmHg (mana yang lebih rendah)
  • Hipertensi tahap 1: ≥ persentil 95 hingga < persentil 95+12 mmHg, atau 130/80–139/89 mmHg
  • Hipertensi tahap 2: ≥ persentil 95+12 mmHg, atau ≥140/90 mmHg

Usia ≥13 tahun:

  • Normal: <120/80 mmHg
  • Tekanan darah meningkat: 120–129/<80 mmHg
  • Hipertensi tahap 1: 130/80–139/89 mmHg
  • Hipertensi tahap 2: ≥140/90 mmHg [1,2]


Klasifikasi ini menggantikan istilah “prehipertensi” dengan “tekanan darah meningkat” agar lebih konsisten dengan guideline dewasa. [2]


Tabel Simplifikasi

AAP 2017 juga memperkenalkan tabel skrining sederhana berdasarkan usia dan jenis kelamin. Tabel ini memudahkan skrining awal di layanan primer tanpa harus menghitung persentil kompleks. Sensitivitasnya sangat tinggi, meskipun spesifisitas lebih rendah. [2]


tabel TD.png


Pendekatan Klinis 

Nilai tekanan darah anak dapat bervariasi, baik antar kunjungan maupun dalam satu kunjungan, dengan faktor kecemasan berperan penting. Umumnya tekanan darah menurun bila diulang, meski tidak banyak memengaruhi klasifikasi. Pemeriksaan awal dapat menggunakan alat osilometrik terkalibrasi atau teknik auskultasi dengan sfigmomanometer aneroid/air raksa. Jika hasil awal > persentil 90, perlu dua kali pengukuran tambahan pada kunjungan yang sama dan dirata-rata. Bila rata-rata osilometrik tetap > persentil 90, maka dilakukan dua kali pemeriksaan auskultasi dan hasilnya dirata-ratakan untuk penentuan diagnosis. Pengukuran dilakukan  dengan teknik auskultasi atau osilometrik yang tervalidasi Bila hasil konsisten di atas ambang batas, barulah diagnosis hipertensi ditegakkan.[1]. 

Jika terdapat hipertensi, evaluasi lanjutan perlu dilakukan untuk bertujuan menentukan etiologi, komorbiditas, dan kerusakan organ target. Workup singkat yang direkomendasikan AAP 2017 dan PNPK 2021 meliputi:

  • Laboratorium dasar: urinalisis, elektrolit, ureum, kreatinin, profil lipid.
  • USG ginjal: untuk anak <6 tahun atau dengan kelainan ginjal.
  • Ekokardiografi: bila dipertimbangkan terapi farmakologis, untuk deteksi hipertrofi ventrikel kiri.
  • Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM): untuk konfirmasi diagnosis, menyingkirkan white coat hypertension atau masked hypertension, serta menilai respons terapi [1,2].


Kesimpulan

Hipertensi pada anak semakin relevan dengan meningkatnya prevalensi obesitas. Panduan AAP 2017, yang telah diadopsi dalam PNPK 2021, memberikan kerangka kerja baru yang lebih sensitif dalam deteksi dan klasifikasi. Diagnosis harus ditegakkan melalui pengukuran berulang dan bila perlu dilanjutkan dengan workup terarah. Pendekatan ini memungkinkan intervensi lebih dini, baik berupa perubahan gaya hidup maupun terapi farmakologis, untuk mencegah komplikasi kardiovaskular di masa depan.


Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi pada Anak. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
  2. Blanchette E, Flynn JT. Implications of the 2017 AAP Clinical Practice Guidelines for Management of Hypertension in Children and Adolescents: a Review. Curr Hypertens Rep. 2019;21(5):35. doi:10.1007/s11906-019-0943-x.

Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan