Berita
Apakah Vaksin Rotavirus dapat Menyebabkan Intususepsi?

Latar Belakang
Vaksinasi rotavirus merupakan salah satu intervensi penting dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas diare berat pada bayi dan anak. Efektivitasnya dalam mencegah rawat inap dan kematian akibat gastroenteritis sudah terbukti secara konsisten. Namun, sejak ditemukannya peningkatan risiko intususepsi pada vaksin rotavirus generasi awal RRV-TV – yang akhirnya ditarik dari pasaran – isu keamanan vaksin rotavirus generasi berikutnya menjadi perhatian khusus.
Informasi pascapemasaran sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa vaksin rotavirus dapat meningkatkan risiko intususepsi, khususnya setelah dosis pertama. Hal ini mendorong perlunya evaluasi menyeluruh berbasis uji klinis acak terkontrol (RCT). Pertanyaan utamanya adalah: apakah benar vaksin rotavirus generasi terbaru masih berkaitan dengan kejadian intususepsi?
Intususepsi dan Hubungan dengan Vaksin Rotavirus
Intususepsi adalah keadaan darurat pada anak ketika segmen usus masuk ke dalam lumen usus yang berdekatan. Hal ini dapat menimbulkan obstruksi yang berpotensi menyebabkan iskemia. Jika dibiarkan, usus dapat mengalami nekrosis. Untuk menjelaskan risiko intususepsi akibat vaksin rotavirus, beberapa ilmuwan memiliki hipotesis bahwa stimulasi jaringan limfoid usus oleh replikasi virus vaksin dapat memicu lead point di mana intususepsi terjadi. Meskipun bisa terjadi, kausalitasnya belum terbukti.
Bukti yang Ada di Literatur
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Lu dkk. yang mencakup 25 uji acak terkontrol dengan lebih dari 200.000 bayi sebagai partisipan, mengevaluasi keamanan vaksin rotavirus (termasuk RV1, RV5, 116E, BRV-PV, dan RV3-BB) terhadap risiko terjadinya intususepsi dibandingkan plasebo.
Studi ini menemukan bahwa dalam 31 hari setelah vaksinasi, tidak ditemukan peningkatan signifikan terhadap risiko intususepsi, relative risk (RR) sebesar 1,14 (95% CI 0,49–2,64; p=0,77). Penelitian dilanjutkan dengan follow-up satu tahun sejak vaksinasi. Hasilnya, peningkatan risiko intususepsi masih tidak signifikan pada RR = 0,84 (95% CI 0,53–1,32; p=0,45). Demikian pula pada follow-up 2 tahun sejak vaksinasi, RR tetap tidak menunjukkan hubungan signifikan, yakni sebesar 0,91 (95% CI 0,55–1,52; p=0,73). Temuan ini memperkuat bukti bahwa vaksinasi rotavirus tidak berhubungan dengan peningkatan risiko intususepsi dalam jangka pendek maupun panjang.
Ketiga analisis ini konsisten menunjukkan tidak ada peningkatan risiko bermakna antara kelompok vaksinasi dan plasebo.
Rekomendasi Klinis
Berdasarkan penemuan tersebut, vaksin rotavirus tidak terbukti meningkatkan risiko intususepsi. Walaupun pemantauan pascapemasaran tetap penting, data terkini mendukung keamanan vaksin ini. Dengan demikian, pemberian rotavirus, khususnya dengan jenis vaksin yang disebutkan sebelumnya, masih sangat direkomendasikan, apalagi mengingat konsekuensi yang berpotensi fatal jika tidak dilakukan pencegahan terhadap rotavirus samasekali.
Kesimpulan
Penemuan bahwa intususepsi dapat terjadi pascavaksinasi rotavirus sempat menimbulkan kekhawatiran. Namun, bukti terbaru dari meta-analisis dari berbagai uji acak terkontrol menunjukkan bahwa vaksin rotavirus aman dan tidak meningkatkan risiko intususepsi secara signifikan. Vaksin ini tetap sangat direkomendasikan untuk diberikan pada bayi, mengingat manfaatnya yang jauh melebihi potensi risiko yang dapat ditimbulkan.
Referensi
Lu HL, Ding Y, Goyal H, Xu HG. Association between rotavirus vaccination and risk of intussusception among neonates and infants: a systematic review and meta-analysis. JAMA Netw Open. 2019;2(10):e1912458. doi:10.1001/jamanetworkopen.2019.12458.

