Berita
Apakah Pungsi Lumbal diperlukan pada Diagnosis Kejang Demam?

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi saat suhu tubuh naik di atas 38°C, tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat, pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. (2) Kejang demam dibagi menjadi dua bentuk, yaitu kejang demam sederhana dan kompleks. Kejang demam sederhana berlangsung kurang dari 15 menit, berbentuk tonik-klonik umum, dan tidak berulang dalam 24 jam. Sebaliknya, kejang demam kompleks memiliki durasi lebih dari 15 menit, dapat berupa kejang fokal, atau berulang dalam 24 jam. (2)
Pemeriksaan Penunjang dan Peran Pungsi Lumbal pada Diagnosis Kejang Demam
IDAI dalam konsensus 2006 menyatakan bahwa pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin, tetapi dianjurkan untuk bayi <12 bulan dan a 12–18 bulan. Jika anak >18 bulan, pungsi lumbal hanya disarankan jika ada tanda klinis yang mengarah ke meningitis, misalkan jika ada kaku kuduk, gangguan kesadaran, atau iritabilitas berat. (2)
Pedoman AAP 2011 dan Data Epidemiologi
AAP menyatakan bahwa pungsi lumbal hanya direkomendasikan pada anak dengan kejang demam sederhana yang memiliki tanda klinis meningitis, status imunisasi yang belum lengkap terhadap Haemophilus influenzae tipe b dan Streptococcus pneumoniae, atau telah mendapat antibiotik sebelumnya. (1)
Apakah Aman Tanpa Pungsi Lumbal?
Raghavan et al. (3) melakukan studi retrospektif terhadap 142.121 anak dengan kejang demam sederhana di Amerika Serikat dari 2005 hingga 2019. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan tajam dalam angka pungsi lumbal, dari 11,6% pada 2005 menjadi hanya 0,6% pada 2019.
Menariknya, penurunan angka ini tidak disertai peningkatan diagnosis meningitis yang tertunda. Pada periode sebelum pedoman 2011, angka misdiagnosis meningitis adalah 0,0040%, dan setelahnya 0,0032% (tidak signifikan secara statistik). (3) Data ini menunjukkan bahwa tidak melakukan pungsi lumbal pada anak dengan kejang demam sederhana tanpa tanda meningitis adalah aman.
Rekomendasi Praktis: Kapan Pungsi Lumbal Tetap Diperlukan?
Pungsi lumbal tetap relevan apabila terdapat keraguan terhadap diagnosis. Beberapa situasi yang menjadi indikasi pungsi lumbal meliputi:
- Bayi usia <12 bulan dengan kejang pertama dan klinis tidak jelas
- Anak dengan kejang demam disertai perubahan status mental
- Tanda klinis meningitis: kaku kuduk, fotofobia, muntah proyektil, atau fontanel menonjol
- Anak yang mendapat antibiotik sebelum evaluasi (menutupi gejala meningitis)
- Status imunisasi yang tidak lengkap atau tidak diketahui
- Di luar kondisi-kondisi tersebut, jika hasil pemeriksaan fisik dan anamnesis tidak mengarah pada meningitis, maka pungsi lumbal dapat ditunda atau tidak dilakukan. (2,3)
Kesimpulan
Pungsi lumbal tidak direkomendasikan sebagai prosedur rutin pada semua anak dengan kejang demam. Keputusan klinis harus mempertimbangkan usia, gejala klinis, dan status imunisasi. Bukti terkini menunjukkan bahwa pengurangan penggunaan pungsi lumbal tidak meningkatkan risiko misdiagnosis meningitis. Dengan pendekatan berbasis bukti ini, dokter anak dapat menghindari prosedur invasif yang tidak perlu dilakukan.
Pantau terus linimasa artikel PrimaPro untuk pembaruan seputar kejang demam dan kondisi neurologis lainnya pada anak. Jika Dokter ingin pembahasan lanjutan tentang kejang demam kompleks atau pendekatan diagnostik lainnya, tuliskan pendapat Anda di kolom komentar.
Daftar Pustaka
- American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guideline—Febrile Seizures: Guidelines for Neurodiagnostic Evaluation of the Child With a Simple Febrile Seizure. Pediatrics. 2011;127(2):389–394.
- Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S, editor. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2006.
- Raghavan VR, Porter JJ, Neuman MI, Lyons TW. Trends in Management of Simple Febrile Seizures at US Children’s Hospitals. Pediatrics. 2021;148(5):e2021051517. doi:10.1542/peds.2021-051517.

