Dot Grid

Berita

Apakah Penggunaan Farmakoterapi untuk Obesitas pada Anak Boleh Dilakukan?

Apakah Penggunaan Farmakoterapi untuk Obesitas pada Anak Boleh Dilakukan?

Latar Belakang

 Obesitas anak merupakan salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat global. Secara global, prevalensi overweight dan obesitas pada anak meningkat dari 4,2% pada tahun 1990 menjadi 6,7% pada 2010 dan diproyeksikan mencapai 9,1% pada tahun 2020. Di Indonesia, Riskesdas 2013 mencatat prevalensi overweight dan obesitas pada anak usia 5–12 tahun masing-masing sebesar 10,8% dan 8,8%, menunjukkan tren yang serupa dengan global (1).

Obesitas pada anak dikaitkan dengan berbagai komplikasi jangka pendek dan panjang, termasuk diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, hipertensi, sleep apnea, gangguan muskuloskeletal, serta gangguan psikososial seperti depresi dan isolasi sosial (1). Intervensi utama tetap berfokus pada modifikasi gaya hidup melalui diet dan peningkatan aktivitas fisik. Namun, dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan resistensi terhadap terapi konvensional, perhatian terhadap farmakoterapi sebagai intervensi tambahan semakin berkembang, terutama setelah keberhasilannya di populasi dewasa.


Panduan IDAI dan AAP Terkait Farmakoterapi

Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2015, farmakoterapi dapat dipertimbangkan pada anak dengan obesitas berat dan komorbiditas yang tidak menunjukkan perbaikan setelah modifikasi gaya hidup intensif minimal 6 bulan. IDAI menyatakan bahwa orlistat merupakan satu-satunya obat penurun berat badan yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan pada remaja di atas 12 tahun. Dosis yang dianjurkan adalah 120 mg per hari, dengan efek samping utama berupa gangguan gastrointestinal akibat malabsorpsi lemak, serta potensi defisiensi vitamin larut lemak yang memerlukan suplementasi tambahan (1).

IDAI juga menyinggung penggunaan metformin, yang secara luas digunakan pada pasien dengan resistensi insulin, meski belum diindikasikan untuk penurunan berat badan pada anak tanpa kelainan metabolik. Sementara itu, obat seperti sibutramin telah ditarik dari peredaran karena peningkatan risiko kardiovaskular yang signifikan (1).

American Academy of Pediatrics (AAP) juga memberikan rekomendasi yang serupa. Pedoman AAP menetapkan bahwa intervensi pertama yang direkomendasikan adalah terapi perilaku kesehatan dan gaya hidup intensif (Intensive Health Behavior and Lifestyle Treatment (IHBLT), yaitu konseling berbasis keluarga secara intensif dan berkelanjutan dengan tenaga kesehatan yang sangat terlatih selama beberapa bulan, idealnya mencakup setidaknya 26 jam pertemuan tatap muka. Namun, intervensi gaya hidup saja umumnya hanya menghasilkan penurunan berat badan yang moderat pada anak dan remaja, sehingga kurang agresif bagi anak-anak dengan obesitas. Untuk remaja usia 12 tahun ke atas, pedoman AAP juga merekomendasikan pemberian farmakoterapi sebagai terapi tambahan terhadap IHBLT. Sementara itu, untuk anak usia 8–11 tahun, farmakoterapi tidak direkomendasikan secara rutin karena bukti ilmiah yang masih terbatas, meskipun dapat dipertimbangkan secara individual berdasarkan kasus per kasus.

AAP juga merinci beberapa obat yang dapat dipertimbangkan, antara lain orlistat dan liraglutide—yang keduanya telah mendapat persetujuan FDA untuk populasi anak. (2)


Tantangan Implementasi di Lapangan

Walaupun AAP memberikan kerangka kerja yang lebih proaktif terhadap farmakoterapi, aplikasi panduan tersebut di Indonesia perlu disesuaikan dengan realitas lokal. Hingga kini, orlistat tersedia terbatas dan penggunaannya masih jarang dilakukan pada anak. Liraglutide belum banyak tersedia di fasilitas kesehatan untuk pasien pediatrik. Metformin lebih lazim digunakan, tetapi hanya diindikasikan pada pasien dengan gangguan metabolik seperti prediabetes atau diabetes tipe 2.(1)

Selain aspek ketersediaan, faktor keamanan, regulasi lokal, dan keterbatasan data efikasi jangka panjang juga menjadi alasan mengapa pendekatan farmakologis masih memerlukan evaluasi kritis sebelum diadopsi secara luas di Indonesia.


Rekomendasi Klinis

Dalam praktik klinis, pendekatan utama tetap mengutamakan intervensi gaya hidup sebagai langkah awal. Farmakoterapi dapat menjadi opsi tambahan pada pasien obesitas dengan:

  • Usia ≥12 tahun,
  • Obesitas dengan komorbiditas serius,
  • Kegagalan modifikasi gaya hidup selama ≥6 bulan.


Farmakoterapi tidak boleh digunakan sebagai monoterapi dan harus disertai pemantauan ketat oleh tim medis multidisiplin. Pilihan farmakologis harus mempertimbangkan usia, efek samping, status metabolik, dan kesiapan keluarga terhadap kepatuhan terapi jangka panjang.


Kesimpulan

Farmakoterapi bukan terapi utama pada anak dengan obesitas. Namun, dalam kasus refrakter atau dengan komorbiditas yang signifikan, farmakoterapi dapat menjadi bagian dari terapi multimodal. Rekomendasi IDAI dan AAP dapat menjadi panduan, namun implementasinya di Indonesia membutuhkan adaptasi berdasarkan ketersediaan obat, regulasi, dan karakteristik pasien lokal. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan jangka panjang dari agen farmakoterapi seperti orlistat, liraglutide, dan agen potensial lainnya dalam populasi anak Indonesia.


Daftar Pustaka 

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Diagnosis, Tata Laksana dan Pencegahan Obesitas pada Anak dan Remaja. Jakarta: IDAI; 2015.
  2. Hampl SE, Hassink SG, Skinner AC, Armstrong SC, Barlow SE, Bolling CF, et al. Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Treatment of Children and Adolescents With Obesity. Pediatrics. 2023;151(2):e2022060640.
  3. Styne DM, Arslanian SA, Connor EL, Farooqi IS, Murad MH, Silverstein JH, et al. Pediatric Obesity—Assessment, Treatment, and Prevention: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2017;102(3):709–57.

Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan