Dot Grid

Berita

Apakah Paracetamol dapat Menyebabkan Autisme?

Apakah Paracetamol dapat Menyebabkan Autisme?

Latar Belakang

Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat antipiretik dan analgetik yang sangat umum direkomendasikan selama kehamilan karena profil keamanannya yang relatif tinggi dibandingkan obat lain dalam kelompoknya. Obat ini banyak digunakan untuk mengatasi demam, nyeri kepala, atau nyeri muskuloskeletal ringan pada ibu hamil. Namun, dalam dekade terakhir, muncul kekhawatiran akan potensi efek jangka panjang dari paparan prenatal parasetamol terhadap perkembangan neurokognitif anak, khususnya terkait autisme spectrum disorder (ASD), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan intellectual disability (ID). Kekhawatiran ini muncul seiring dengan hasil beberapa studi observasional yang menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan parasetamol selama kehamilan dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan pada anak.

Namun, perlu dicermati bahwa sebagian besar studi terdahulu tersebut memiliki keterbatasan dalam mengontrol faktor-faktor pembaur (confounders), khususnya faktor genetik dan lingkungan keluarga yang dapat secara signifikan memengaruhi perkembangan neurologis anak.


Studi Kohort Nasional di Swedia

Studi kohort nasional yang dilakukan di Swedia dan dipublikasikan pada JAMA tahun 2024 merupakan salah satu studi terbesar dan terlengkap yang meneliti hubungan antara penggunaan asetaminofen selama kehamilan dengan risiko ASD, ADHD, dan ID pada anak. Studi ini mencakup lebih dari 2,4 juta anak yang lahir di Swedia antara tahun 1995 hingga 2019, dengan data yang dikumpulkan melalui berbagai registri nasional yang terintegrasi secara longitudinal. (1)

Analisis awal studi ini menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar asetaminofen selama kehamilan memiliki risiko sedikit lebih tinggi untuk mengalami ASD (hazard ratio [HR] 1,07), ADHD (HR 1,07), dan ID (HR 1,19) dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar. Meski demikian, nilai hazard ratio yang ditemukan hanya sedikit meningkat dan signifikansi klinisnya masih diragukan. Lebih lanjut, temuan ini memerlukan validasi dengan pendekatan yang dapat mengurangi risiko bias akibat faktor genetik dan lingkungan yang tidak terukur.


Penjelasan Metode Sibling Control

Untuk mengatasi keterbatasan dari studi observasional tradisional, para peneliti menggunakan pendekatan sibling control, yaitu metode yang membandingkan anak-anak dalam satu keluarga (saudara kandung) yang terpapar dan tidak terpapar asetaminofen selama kehamilan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengontrol faktor-faktor pembaur yang bersifat tetap dalam satu keluarga, seperti predisposisi genetik, status sosial ekonomi, pola pengasuhan, dan kondisi lingkungan rumah tangga.

Sibling control dianggap sebagai metode yang sangat kuat dalam studi epidemiologi karena memungkinkan kontrol alami terhadap banyak variabel yang biasanya sulit diukur secara langsung. Dengan kata lain, metode ini menjawab pertanyaan: apakah perbedaan hasil (dalam hal risiko ASD, ADHD, atau ID) benar-benar disebabkan oleh paparan asetaminofen, atau justru disebabkan oleh perbedaan faktor genetik atau lingkungan di antara keluarga yang berbeda?

Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi sekitar 1,5 juta pasangan saudara kandung dari total populasi studi dan membandingkan risiko gangguan perkembangan antara saudara yang terpapar asetaminofen selama kehamilan dan yang tidak. Hasil dari analisis sibling control menunjukkan bahwa tidak terdapat peningkatan risiko signifikan secara statistik untuk ASD (HR 0,98; 95% CI 0,93–1,03), ADHD (HR 0,99; 95% CI 0,94–1,04), maupun ID (HR 0,98; 95% CI 0,89–1,09). (1)

Selain itu, studi ini juga tidak menemukan adanya pola dose-response yang konsisten, yang umumnya diharapkan jika memang terdapat hubungan kausal antara dosis paparan dan peningkatan risiko. Temuan ini memperkuat argumen bahwa hubungan yang sebelumnya ditemukan pada studi lain kemungkinan besar merupakan artefak dari familial confounding.


Implikasi Klinis dan Kesimpulan

Hasil dari studi kohort skala besar ini memberikan kejelasan dan konfirmasi penting bahwa penggunaan parasetamol selama kehamilan tidak meningkatkan risiko autisme, ADHD, maupun disabilitas intelektual pada anak. Asosiasi yang sebelumnya dilaporkan oleh studi-studi observasional kemungkinan besar merupakan hasil dari faktor genetik dan lingkungan yang tidak terkontrol, dan bukan merupakan efek langsung dari paparan obat. (1) 

Bagi dokter anak dan tenaga kesehatan yang mendampingi ibu hamil dan anak-anak dalam praktik klinis sehari-hari, temuan ini memberikan dasar yang kuat untuk tetap merekomendasikan parasetamol sebagai lini pertama pengobatan gejala nyeri dan demam ringan pada kehamilan, dengan tetap memperhatikan prinsip penggunaan obat yang rasional dan berbasis kebutuhan medis.

Penting untuk diingat bahwa setiap terapi, termasuk yang tergolong aman seperti parasetamol, harus selalu mempertimbangkan risk-benefit ratio dan dilakukan dalam pengawasan medis yang memadai. Edukasi kepada orang tua juga menjadi bagian penting dari upaya mitigasi risiko dan menghindari kekhawatiran yang tidak berdasar dari informasi yang keliru di masyarakat.


Daftar Pustaka

Ahlqvist VH, Sjöqvist H, Dalman C, et al. Acetaminophen Use During Pregnancy and Children’s Risk of Autism, ADHD, and Intellectual Disability. JAMA. 2024;331(14):1205–1214. doi:10.1001/jama.2024.3172


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan