Berita
Apakah Anak dengan Alergi Telur Boleh Vaksin Flu?

Latar Belakang
Vaksin influenza merupakan salah satu intervensi pencegahan paling penting dalam praktik pediatri, terutama pada anak dengan risiko tinggi komplikasi influenza. Namun, isu keamanan vaksin influenza pada pasien dengan alergi telur masih sering menjadi kekhawatiran, baik di kalangan orang tua maupun tenaga kesehatan. Kekhawatiran ini berakar dari proses produksi sebagian besar vaksin influenza yang secara historis menggunakan telur ayam berembrio, sehingga berpotensi mengandung residu protein telur, terutama ovalbumin. Pertanyaan klinis yang sering muncul adalah apakah keberadaan residu protein telur tersebut dapat memicu reaksi alergi, termasuk anafilaksis, pada anak dengan alergi telur. Bukti ilmiah terkini secara konsisten menunjukkan bahwa vaksin influenza aman diberikan pada pasien dengan alergi telur, termasuk mereka dengan riwayat reaksi alergi berat. (1)
Jenis dan Proses Produksi Vaksin Influenza
Vaksin influenza tersedia dalam beberapa jenis, termasuk vaksin influenza inaktif (inactivated influenza vaccine, IIV) dan vaksin influenza hidup yang dilemahkan (live attenuated influenza vaccine, LAIV). Secara tradisional, sebagian besar vaksin influenza diproduksi menggunakan telur ayam berembrio, di mana virus influenza diinokulasikan dan dibiakkan sebelum dimurnikan dan diinaktivasi. Proses ini dapat meninggalkan residu protein telur dalam jumlah sangat kecil pada produk akhir vaksin. Namun, kemajuan teknologi manufaktur telah menghasilkan vaksin dengan kandungan ovalbumin yang sangat rendah, umumnya jauh di bawah ambang batas yang diketahui dapat memicu reaksi alergi klinis. Selain itu, saat ini juga tersedia vaksin influenza berbasis kultur sel dan vaksin rekombinan yang tidak menggunakan telur sama sekali, meskipun ketersediaannya dapat bervariasi antar negara. (2)
Keamanan Vaksin Influenza pada Pasien dengan Alergi Telur
Berbagai studi observasional dan uji klinis telah mengevaluasi keamanan vaksin influenza pada individu dengan alergi telur, termasuk mereka yang memiliki riwayat anafilaksis terhadap telur. Hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa risiko reaksi alergi berat akibat vaksin influenza sangat rendah dan tidak lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Practice parameter yang diterbitkan oleh Greenhawt et al. di jurnal Annals of Allergy, Asthma and Immunology menegaskan bahwa vaksin influenza dapat diberikan secara aman kepada pasien dengan alergi telur tanpa perlu tindakan pencegahan khusus, seperti pemberian dosis bertahap atau penggunaan vaksin alternatif. (3)
Data epidemiologis menunjukkan bahwa angka anafilaksis setelah vaksin influenza sangat jarang, diperkirakan sekitar 1–2 kasus per satu juta dosis vaksin yang diberikan, dan sebagian besar kasus tersebut tidak secara spesifik berkaitan dengan alergi telur. Beberapa laporan bahkan menunjukkan bahwa reaksi anafilaksis lebih sering disebabkan oleh komponen lain dalam vaksin atau faktor non-imunologis. Dengan demikian, alergi telur tidak lagi dianggap sebagai kontraindikasi terhadap vaksin influenza. (1,3)
Dasar Ilmiah Keamanan Vaksin Influenza pada Alergi Telur
Keamanan vaksin influenza pada pasien dengan alergi telur dapat dijelaskan oleh beberapa faktor. Pertama, kandungan ovalbumin dalam vaksin influenza modern sangat minimal dan sering kali berada di bawah ambang reaktivitas klinis. Kedua, sebagian besar reaksi alergi terhadap telur dimediasi oleh paparan protein dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan residu yang terdapat dalam vaksin. Ketiga, respons imun terhadap vaksin influenza terutama dipicu oleh antigen virus influenza itu sendiri, bukan oleh protein telur. Bukti ini mendukung kesimpulan bahwa paparan residu telur dalam vaksin influenza tidak cukup untuk memicu reaksi alergi sistemik pada sebagian besar pasien. (2,3)
Pertimbangan Praktis dalam Pemberian Vaksin
Meskipun vaksin influenza aman untuk pasien dengan alergi telur, rekomendasi tetap menekankan bahwa vaksinasi harus dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki kemampuan untuk mengenali dan menangani reaksi anafilaksis. Hal ini bukan merupakan tindakan pencegahan khusus bagi pasien alergi telur, melainkan prinsip umum dalam praktik imunisasi. American Academy of Pediatrics melalui policy statement terbaru menegaskan bahwa tidak diperlukan penundaan, pengamatan khusus yang berkepanjangan, maupun rujukan ke fasilitas tertentu hanya karena riwayat alergi telur. (1)
Kesimpulan
Bukti ilmiah terkini secara konsisten menunjukkan bahwa vaksin influenza aman diberikan kepada anak dengan alergi telur, termasuk mereka dengan riwayat reaksi alergi berat. Kandungan protein telur dalam vaksin influenza modern sangat minimal dan tidak terbukti meningkatkan risiko anafilaksis. Alergi telur bukan merupakan kontraindikasi terhadap vaksin influenza, dan penundaan vaksinasi justru berpotensi meningkatkan risiko morbiditas akibat infeksi influenza. Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman berbasis bukti ini penting untuk mendukung praktik imunisasi yang aman, rasional, dan selaras dengan rekomendasi internasional, serta untuk memberikan edukasi yang tepat kepada orang tua.
Daftar Pustaka
- Committee on Infectious Diseases. Recommendations for prevention and control of influenza in children, 2025–2026. Pediatrics. 2025;156(6):e2025073620.
- Kalarikkal SM, Jaishankar GB. Influenza vaccine. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025.
- Greenhawt M, Turner PJ, Kelso JM, et al. Administration of influenza vaccines to egg allergic recipients: A practice parameter update 2017. Ann Allergy Asthma Immunol. 2018;120(1):49–52.

