Berita
American Academy of Pediatrics Cetuskan “5 Cs of Media Use”, Pendekatan Baru dalam Mengelola Screen Time Anak
29 Oktober 2025
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Latar Belakang
Kemajuan teknologi digital telah merevolusi cara anak belajar, bermain, dan berinteraksi. Anak usia sekolah dan remaja kini hidup dalam lingkungan yang hampir selalu terhubung, dengan akses media yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Data AAP menunjukkan bahwa sebagian besar remaja menghabiskan lebih dari enam jam per hari menggunakan media berbasis layar, mencakup televisi, permainan daring, dan media sosial. (1)
AAP menekankan bahwa paparan media digital memiliki dua sisi yang saling berlawanan. Dampak negatifnya meliputi gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, risiko obesitas, isolasi sosial, depresi, dan peningkatan paparan konten kekerasan. Penggunaan media berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan perhatian, perilaku impulsif, dan waktu tidur yang berkurang akibat paparan cahaya biru dari layar. (1)
Namun, AAP juga menyoroti bahwa media digital dapat menjadi alat pembelajaran yang berharga bila digunakan secara tepat.. Program televisi edukatif, permainan berbasis logika, dan aplikasi literasi digital terbukti meningkatkan kemampuan bahasa dan berpikir kritis. Media daring memungkinkan remaja membangun hubungan sosial, mengekspresikan diri, dan mencari dukungan psikologis, terutama pada mereka dengan keterbatasan mobilitas atau kondisi kronik. Dengan demikian, tantangan utama bagi dokter anak bukanlah melarang media, melainkan membantu keluarga menavigasi penggunaannya agar mendukung perkembangan yang sehat. (1)
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, American Academy of Pediatrics memperkenalkan pendekatan baru melalui kerangka “5 C of Media Use”: Child, Content, Calm, Crowding Out, dan Communication. (2,3) Pendekatan ini mendorong dokter anak mengalihkan fokus dari sekadar durasi waktu layar menuju pada makna dan tujuan penggunaannya.
Pendekatan 5Cs of Media Use
1. Child (Anak)
Komponen Child menekankan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam berinteraksi dengan media, tergantung pada usia, kepribadian, dan kondisi psikologisnya.
Dokter dapat mengajak orang tua berdiskusi mengenai bagaimana media yang dikonsumsi anak dapat memengaruhi perilaku. Misalnya:
- Apakah tontonan meningkatkan tantrum pada bayi, kecemasan pada remaja, atau gejala pada anak ADHD?
- Atau justru media membantu menumbuhkan bakat seni atau musiknya?
- Apakah drama di media sosial memperburuk kecemasannya, atau ia justru menemukan kelompok pertemanan daring yang suportif?
- Pertanyaan seperti ini membantu dokter memahami hubungan anak dengan media secara lebih personal dan menemukan strategi bimbingan yang sesuai. (3)
2. Content (Konten)
Penelitian menunjukkan bahwa kualitas konten sangat menentukan apakah anak memiliki hubungan yang positif atau negatif dengan media. Dokter anak disarankan untuk bertanya kepada anak dan orang tua tentang video atau gim yang sering mereka tonton atau mainkan. Ajak mereka memikirkan konten mana yang mungkin berdampak buruk, misalnya:
- Video dengan kekerasan berlebihan, perilaku kasar, atau figur panutan yang buruk.
- Tayangan dengan standar kecantikan tidak realistis atau promosi komersial berlebihan.
Hal-hal seperti ini sering kali menjadi trend di media sosial, tetapi bisa memengaruhi emosi dan perilaku anak tanpa disadari. Untuk membantu keluarga memilih alternatif tontonan yang lebih baik, AAP merekomendasikan menggunakan situs Common Sense Media untuk media berbahasa Inggris. Situs ini terdapat informasi mengenai apakah film, video, atau gim sesuai dengan usia dan memiliki nilai edukatif. (3)
3. Calm (Ketenangan)
Komponen Calm menyoroti pentingnya membantu anak mengatur emosi tanpa bergantung pada media digital. Ketika dokter berbicara tentang bagaimana anak mengelola emosi atau kesulitan tidur, tanyakan juga bagaimana peran media dalam situasi itu. Jika ternyata media menjadi satu-satunya cara anak menenangkan diri, dokter dapat menawarkan strategi alternatif untuk menenangkan pikiran dan tubuh, seperti membaca buku, menggambar, mendengarkan musik, melakukan relaksasi napas, atau berbicara dengan orang tua.
Tujuannya adalah membantu anak mengembangkan mekanisme penenangan diri yang lebih sehat dan tidak selalu bergantung pada gawai setiap kali merasa marah, sedih, atau gelisah. (3)
4. Crowding Out (Menggeser Aktivitas Penting Lain)
Alih-alih hanya menanyakan berapa jam anak menggunakan media, AAP menyarankan agar dokter anak menilai apakah penggunaan media telah “menggeser” hal-hal penting lain dalam kehidupan keluarga. Misalnya:
- Apakah waktu layar membuat anak kehilangan waktu tidur yang cukup?
- Apakah anak jarang bermain di luar ruangan atau berkurang waktu makannya bersama keluarga?
Keluarga sering kali lebih termotivasi untuk mengurangi waktu layar jika mereka menyadari bahwa dengan melakukan hal tersebut, mereka bisa punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan keluarga, tidur lebih nyenyak, atau kesempatan beraktivitas fisik di luar rumah. Dokter juga dapat membantu keluarga memahami bahwa media digital dirancang dengan banyak “hook”, yaitu fitur yang sengaja membuat pengguna betah berlama-lama menghabiskan waktu di dunia maya. Karena itu, keluarga perlu menggunakan media secara lebih sadar dan terencana, menetapkan waktu dan tempat yang jelas untuk penggunaan gawai setiap hari. (3)
5. Communication (Komunikasi)
Komponen terakhir, Communication, menekankan bahwa keluarga perlu berdiskusi secara rutin tentang media digital. Pembicaraan ini membantu anak membangun literasi digital, dan membantu orang tua mengenali lebih dini ketika anak atau remaja mulai mengalami kesulitan akibat aktivitas daringnya. Topik ini sering kali menimbulkan stres atau rasa bersalah bagi keluarga, sehingga dokter anak dapat mendorong mereka untuk menarik napas dalam-dalam, bersikap terbuka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengajukan pertanyaan karena rasa ingin tahu, bukan karena ingin menginterogasi.
Diskusi yang sering dilakukan secara ringan lebih efektif daripada mencoba mengadakan satu “pembicaraan besar” yang khusus. Melalui dialog yang berkelanjutan, anak merasa didengar, orang tua memahami kebiasaan digital anak, dan keluarga dapat bersama-sama menemukan solusi bila muncul masalah. (3)
Kesimpulan
Pendekatan 5 C AAP membantu dokter anak membimbing keluarga agar media digital tidak hanya dikendalikan dari segi durasi, tetapi juga dimaknai secara lebih kontekstual: melihat kepribadian anak (Child), menilai isi konten (Content), membantu regulasi emosi (Calm), menjaga keseimbangan aktivitas (Crowding Out), dan mendorong komunikasi terbuka (Communication). Dengan cara ini, screen time dapat berubah dari sekadar kebiasaan pasif menjadi pengalaman belajar, berkreasi, dan berhubungan sosial yang sehat bagi anak.
Daftar Pustaka
- American Academy of Pediatrics Council on Communications and Media. Media Use in School-Aged Children and Adolescents. Pediatrics. 2016;138(5):e20162592.
- Bolch MB, Moore RM, Robertson GC, Scafe MJ, Milkovich LM. Screens Are Not the Enemy: Recommendations for Developing Healthy Digital Habits in Youth. Missouri Med. 2025;122(4):297–303.
- American Academy of Pediatrics. How to Use the 5 Cs of Media Use: Tips for Pediatric Clinicians. Center of Excellence on Social Media and Youth Mental Health. 2024. Available from: https://www.aap.org/en/patient-care/media-and-children/center-of-excellence-on-social-media-and-youth-mental-health/how-to-use-the-5-cs-of-media-use-tips-for-pediatric-clinicians/




