Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Berita

Akut Abdomen pada Anak: Pendekatan Diagnostik dan Terapeutik

8 Juni 2025

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Akut Abdomen pada Anak: Pendekatan Diagnostik dan Terapeutik

Akut abdomen merupakan manifestasi klinis yang sering dijumpai pada anak-anak. Penyebabnya dapat bervariasi mulai dari penyakit ringan hingga kondisi yang mengancam jiwa. Secara epidemiologis, nyeri abdomen akut menyumbang sekitar 9% dari kunjungan anak ke layanan primer, dengan proporsi kasus yang memerlukan tindakan bedah berkisar antara 2% hingga 30% tergantung setting klinis dan populasi yang ditangani.


Penilaian awal pasien anak dengan akut abdomen perlu dilakukan dengan seksama dengan tujuan menyingkirkan etiologi yang memerlukan pembedahan. Gejala yang khas seperti muntah berwarna empedu (bilious vomiting), buang air besar berdarah, demam yang muncul setelah onset nyeri, nyeri tekan rebound, kaku otot dinding perut (rigidity), serta guarding otot perut, merupakan indikasi kuat bahwa pasien membutuhkan evaluasi bedah segera (red flags).


Pendekatan diagnostik akut abdomen pada anak dimulai dari anamnesis yang komprehensif, termasuk karakteristik nyeri abdomen seperti lokasi, durasi, intensitas, migrasi nyeri, dan faktor pemicu. Penilaian juga mencakup riwayat terkait, misalnya adanya muntah, demam, gangguan eliminasi urine dan tinja, serta faktor risiko spesifik seperti riwayat trauma, penyakit kronis, atau riwayat seksual pada remaja. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cermat dan meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi abdomen, disertai pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan panggul pada pasien perempuan dan skrotum pada laki-laki. Dalam kondisi anak yang rewel, pemeriksaan dapat difasilitasi dengan bantuan orang tua untuk memberikan rasa nyaman sehingga pemeriksaan dapat dilakukan lebih optimal.


Selain itu, usia anak memegang peranan penting dalam mempersempit diagnosis diferensial. Bayi dan balita lebih rentan mengalami kelainan kongenital seperti malrotasi usus dan intususepsi, sementara anak sekolah dan remaja cenderung mengalami penyakit inflamasi atau infeksi, serta patologi reproduksi pada remaja perempuan.


Evaluasi laboratorium awal meliputi hitung darah lengkap (HDL), laju endap darah (LED) atau C-reaktif protein (CRP), urinalisis, serta pemeriksaan beta human chorionic gonadotropin (β-hCG) pada anak perempuan remaja yang berpotensi hamil. USG abdomen menjadi modalitas pencitraan pertama yang direkomendasikan karena bebas radiasi dan dapat memberikan gambaran organ perut dengan baik. Jika USG tidak memberikan hasil yang meyakinkan, pemeriksaan lanjutan dengan CT scan atau MRI dapat dilakukan untuk meningkatkan akurasi diagnostik tanpa menunda tindakan. Dalam evaluasi lebih lanjut, radiografi abdomen juga dapat digunakan terutama untuk menilai konstipasi, obstruksi, atau perforasi usus.


Salah satu diagnosis yang paling sering ditemukan pada akut abdomen anak adalah appendisitis, terutama pada usia remaja. Penyakit ini disebabkan oleh inflamasi apendiks akibat obstruksi lumen, dengan gejala khas nyeri abdomen yang awalnya dirasakan di sekitar pusar kemudian bermigrasi ke kuadran kanan bawah. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan tanda-tanda spesifik seperti nyeri tekan rebound dan guarding. Diagnosis klinis dapat dibantu oleh skor prediksi seperti Alvarado Score atau Pediatric Appendicitis Score, namun keduanya memiliki keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas. Konfirmasi diagnosis biasanya melalui ultrasonografi, dan bila hasilnya tidak konklusif dapat dilanjutkan dengan CT scan atau MRI. Terapi definitif appendisitis adalah appendektomi, yang harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi seperti perforasi dan peritonitis. Pemberian analgesik opioid untuk kontrol nyeri telah terbukti aman dan tidak mengganggu akurasi diagnosis.


Pada bayi dan balita, intususepsi merupakan penyebab akut abdomen yang sering ditemui. Patofisiologi intususepsi adalah terjadinya teleskopik usus yang menyebabkan obstruksi mekanik dan gangguan vaskular. Gejala klasik berupa nyeri kolik, muntah, dan tinja bercampur darah (red currant jelly stool) hanya ditemukan pada kurang dari 50% kasus sehingga diagnosis harus dibantu dengan ultrasonografi yang menunjukkan tanda “target” atau “donat”. Terapi non-bedah berupa reduksi dengan enema udara atau kontras dapat berhasil dalam 90% kasus, namun jika gagal atau ditemukan komplikasi maka diperlukan tindakan bedah segera.


Malrotasi usus dengan volvulus adalah kondisi emergensi yang paling sering ditemukan pada neonatus dan bayi muda. Kondisi ini ditandai oleh rotasi usus yang abnormal sehingga mudah terjadi volvulus yang menyebabkan iskemia usus. Klinik yang khas adalah muntah berwarna empedu, nyeri perut, dan tanda-tanda obstruksi usus. Diagnosis konfirmasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi kontras dan USG abdomen. Penatalaksanaan membutuhkan tindakan bedah segera untuk mencegah nekrosis usus dan komplikasi fatal lainnya.


Konstipasi kronik adalah penyebab umum nyeri abdomen non-bedah pada anak usia sekolah. Penumpukan feses keras di kolon menyebabkan distensi dan nyeri abdomen yang tumpul serta dapat disertai penurunan nafsu makan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik, sementara pemeriksaan radiografi abdomen dapat membantu menegakkan diagnosis. Penatalaksanaan konservatif meliputi perubahan pola makan dengan peningkatan serat dan cairan, pemberian laksatif, serta edukasi perilaku buang air besar yang tepat.


Pada remaja perempuan, patologi ginekologi seperti torsio ovarium, kista ovarium, penyakit radang panggul, dan kehamilan ektopik harus selalu dipertimbangkan dalam menentukan diagnosis banding akut abdomen. Presentasi klinis biasanya berupa nyeri abdomen bagian bawah yang tiba-tiba, sering unilateral, disertai dengan tanda-tanda sistemik. USG transvaginal merupakan pemeriksaan utama untuk evaluasi, disertai pemeriksaan β-hCG untuk menyingkirkan kehamilan ektopik. Penatalaksanaan bervariasi mulai dari observasi hingga intervensi bedah atau terapi medis tergantung kondisi spesifik pasien.


Selain itu, infeksi saluran kemih dan penyakit infeksi sistemik lainnya juga dapat menjadi penyebab nyeri abdomen pada anak. Urinalisis dan kultur urin wajib dilakukan bila terdapat gejala urinari, dan antibiotik sesuai sensitivitas diberikan bila ditemukan infeksi. Penyakit infeksi lain seperti pneumonia atau faringitis juga dapat mempresentasikan nyeri abdomen sebagai manifestasi iradiasi nyeri atau peradangan sistemik.


Secara keseluruhan, penanganan akut abdomen pada anak harus dilakukan dengan pendekatan sistematis, berorientasi pada pengumpulan data klinis dan penunjang secara lengkap. Keputusan terapi ditentukan oleh penyebab dasar, beratnya kondisi, dan adanya komplikasi. Observasi dan revaluasi berkala penting untuk menghindari kesalahan diagnosis, sementara intervensi bedah harus dilakukan tanpa penundaan bila ditemukan tanda-tanda klinis peritonitis atau bukti adanya proses bedah akut.


Daftar Pustaka

Reust CE, Williams A. Acute Abdominal Pain in Children. Am Fam Physician. 2016;93(10):830-836.5


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan