Berita
WHO Lakukan Pra-Kualifikasi Terapi Malaria Pertama untuk Neonatus dan Bayi Muda: Terobosan Klinis dan Implikasinya bagi Praktisi

Latar Belakang
Malaria tetap menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar pada anak-anak di dunia. Menurut World Malaria Report 2025, terdapat estimasi 282 juta kasus dan 610.000 kematian akibat malaria pada tahun 2024—angka yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun 47 negara telah dinyatakan bebas malaria, kemajuan global tengah mengalami stagnasi akibat resistansi obat, resistansi insektisida, kegagalan diagnostik, dan pengurangan signifikan bantuan pembangunan internasional.
Di tengah tantangan ini, tanggal 24 April 2026—tepat sehari menjelang Hari Malaria Sedunia—WHO mengumumkan dua terobosan penting: praekualifikasi terapi malaria pertama yang dirancang khusus untuk neonatus dan bayi muda, serta praekualifikasi tiga rapid diagnostic test (RDT) generasi baru untuk mengatasi kegagalan diagnostik yang kian meluas.
Terobosan 1: Artemether-Lumefantrine untuk Neonatus dan Bayi dengan Berat 2–5 kg
Mengapa Ini Penting?
Selama ini, tidak ada formulasi antimalaria yang dikembangkan dan divalidasi secara spesifik untuk neonatus dan bayi muda dengan berat badan 2–5 kg. Praktisi terpaksa menggunakan formulasi yang diperuntukkan bagi anak yang lebih besar, yang secara inheren meningkatkan risiko kesalahan dosis (dosing errors), efek samping, dan toksisitas. Sekitar 30 juta bayi lahir setiap tahun di wilayah endemis malaria di Afrika, menjadikan kesenjangan terapeutik ini sebagai masalah kesehatan publik yang mendesak.
Praekualifikasi WHO: Apa Maknanya secara Klinis?
Praekualifikasi WHO (WHO Prequalification) merupakan proses penilaian yang memastikan suatu produk medis memenuhi standar internasional dalam hal kualitas, keamanan, dan efikasi. Status ini membuka akses pengadaan melalui sektor publik, termasuk lembaga-lembaga internasional seperti UNICEF dan Global Fund, sehingga obat ini dapat lebih cepat menjangkau fasilitas kesehatan di negara-negara endemis.
Implikasi Klinis
Tersedianya formulasi artemether-lumefantrine yang telah dioptimasi untuk kelompok berat badan 2–5 kg memberikan dasar farmakokinetik yang lebih kokoh dalam penatalaksanaan malaria pada neonatus dan bayi muda. Dokter kini memiliki acuan dosis yang tervalidasi, yang berpotensi meminimalkan toksisitas dan meningkatkan kepatuhan tatalaksana (treatment adherence) pada populasi yang paling rentan secara fisiologis ini.
Terobosan 2: Tiga RDT Generasi Baru untuk Mengatasi Kegagalan Diagnostik
Masalah: Delesi Gen pfhrp2 dan Kegagalan RDT Berbasis HRP2
Mayoritas RDT malaria untuk Plasmodium falciparum yang beredar saat ini bekerja dengan mendeteksi protein HRP2 (Histidine-Rich Protein 2). Namun, survei dan penelitian di 46 negara menunjukkan bahwa sejumlah strain P. falciparum telah kehilangan gen pfhrp2—mutasi yang menjadikan parasit tersebut "tidak terlihat" oleh RDT berbasis HRP2, menghasilkan hasil negatif palsu (false negative).
Konsekuensi klinisnya sangat serius: di negara-negara Tanduk Afrika (Horn of Africa), hingga 80% kasus malaria terlewat oleh RDT konvensional, yang berujung pada keterlambatan terapi, progresi ke penyakit berat, bahkan kematian.
Solusi: RDT Berbasis pf-LDH
Ketiga RDT yang baru dipraekualifikasi menargetkan protein parasit yang berbeda, yaitu Plasmodium falciparum lactate dehydrogenase (pf-LDH)—protein yang tidak dapat dengan mudah hilang melalui mutasi genetik seperti yang terjadi pada HRP2. Dengan demikian, RDT ini menawarkan alternatif diagnostik yang reliabel dan telah terjamin kualitasnya di wilayah-wilayah di mana RDT berbasis HRP2 mengalami kegagalan.
Rekomendasi WHO
WHO kini merekomendasikan agar negara-negara beralih ke RDT alternatif berbasis pf-LDH apabila lebih dari 5% kasus malaria terlewat akibat delesi pfhrp2/pfhrp3. Ambang batas ini merupakan sinyal klinis-epidemiologis penting yang perlu dipahami oleh praktisi, terutama di wilayah dengan transmisi tinggi dan laporan ketidaksesuaian antara hasil RDT dan gambaran klinis.
Poin Pembelajaran untuk Praktisi
Dua pengumuman WHO ini membawa beberapa implikasi langsung bagi praktik klinis:
Pertama, penatalaksanaan malaria pada neonatus dan bayi muda kini memiliki landasan terapi yang lebih kuat. Ketersediaan formulasi spesifik artemether-lumefantrine untuk berat badan 2–5 kg diharapkan menjadi standar baru yang menggantikan praktik improvisasi dosis dari formulasi anak yang lebih besar.
Kedua, klinisi perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kegagalan RDT berbasis HRP2, khususnya pada pasien dengan gambaran klinis yang sangat sugestif malaria namun hasil RDT negatif. Dalam konteks ini, pertimbangan diagnostik tambahan—seperti pemeriksaan hapusan darah tepi (peripheral blood smear) atau uji berbasis pf-LDH—menjadi sangat relevan.
Ketiga, kemajuan ini perlu diletakkan dalam konteks yang lebih luas: ancaman resistansi obat, resistansi insektisida, dan penurunan pendanaan global menunjukkan bahwa terobosan teknologi saja tidak cukup tanpa komitmen politik dan finansial yang berkelanjutan.
Penutup
Praekualifikasi artemether-lumefantrine untuk neonatus serta RDT berbasis pf-LDH menandai kemajuan bermakna dalam ekosistem pengendalian malaria global. Bagi praktisi di Indonesia—negara yang masih memiliki kantong-kantong endemis malaria di wilayah timur—pemahaman terhadap perkembangan ini penting untuk mempersiapkan diri mengadopsi standar diagnostik dan terapeutik terbaru, sekaligus berkontribusi pada upaya eliminasi malaria nasional.
Sumber: WHO News Release, 24 April 2026. "WHO prequalifies first-ever malaria treatment for newborns and infants, adds new diagnostic tests." World Malaria Report 2025, WHO.

