Berita
WHO Klasifikasikan Daging Ultra-proses Sebagai Karsinogen Grup 1

Latar Belakang
Ultra-processed food (UPF) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan modern, baik pada anak maupun dewasa. Produk seperti minuman berpemanis, sereal instan, camilan kemasan, nugget, sosis, hingga makanan cepat saji kini mudah diakses, relatif murah, dan praktis. Dalam konteks keluarga urban di Indonesia, UPF sering menjadi solusi cepat di tengah keterbatasan waktu. Namun, konsumsi UPF secara berlebihan dan konsisten dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk obesitas, gangguan metabolik, penyakit kardiovaskular, serta kanker. (1,2,3)
Seiring meningkatnya bukti epidemiologis, perhatian global terhadap dampak jangka panjang UPF semakin menguat. Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) di bawah WHO menggunakan sistem klasifikasi karsinogen berdasarkan kekuatan bukti ilmiah. Menurut WHO, UPF diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1. Lantas, apakah UPF seberbahaya tokok dan bahkan asbestos? (5)
Definisi UPF dan Karsinogen Grup 1
UPF didefinisikan sebagai produk pangan industri yang mengalami pemrosesan intensif, mengandung bahan tambahan seperti emulsifier, penguat rasa, pemanis buatan, pewarna, serta sedikit atau tanpa bahan pangan utuh. Berbeda dengan makanan olahan sederhana, UPF umumnya memiliki kepadatan energi tinggi, tinggi gula, garam, dan lemak jenuh, namun rendah serat dan mikronutrien. (2)
Dalam sistem klasifikasi IARC, karsinogen dibagi menjadi beberapa kelompok: Grup 1 (karsinogenik pada manusia), Grup 2A (mungkin karsinogenik), Grup 2B (kemungkinan karsinogenik), dan seterusnya. Penempatan suatu agen dalam Grup 1 berarti terdapat bukti epidemiologis yang cukup pada manusia, bukan berarti risiko absolutnya paling tinggi dibanding agen lain dalam kelompok tersebut. Sebagai contoh, konsumsi daging olahan telah diklasifikasikan sebagai karsinogen grup 1 karena memiliki bukti kuat terkait hubungannya dengan kanker kolorektal. (2, 4)
Penting untuk dipahami bahwa klasifikasi ini merefleksikan kekuatan bukti, bukan besarnya risiko atau effect size. Dengan kata lain, suatu agen yang termasuk Grup 1, misalkan UPF, tidak otomatis memiliki risiko yang setara dengan rokok atau asbestos, tetapi bukti kausalitasnya dinilai kuat. (5)
Hubungan UPF dan Risiko Kanker
Studi prospektif besar menunjukkan adanya hubungan signifikan antara konsumsi UPF dan risiko prekursor kanker kolorektal. Analisis terhadap tiga kohort prospektif menemukan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko adenoma kolorektal, khususnya pada laki-laki. (1) Adenoma kolorektal merupakan lesi prakanker yang berpotensi berkembang menjadi kanker invasif.Secara mekanistik, UPF dapat berkontribusi terhadap karsinogenesis melalui beberapa jalur, termasuk inflamasi kronik, resistensi insulin, disbiosis mikrobiota usus, stres oksidatif, serta paparan aditif dan kontaminan yang bersifat pro-karsinogenik. Kandungan tinggi gula sederhana dan lemak jenuh juga dapat mendorong obesitas dan hiperinsulinemia, yang diketahui berperan dalam proliferasi sel abnormal. (2)
Dalam populasi anak, dampak UPF terhadap kesehatan sudah terlihat dalam bentuk obesitas, sindrom metabolik, dan gangguan inflamasi derajat rendah. (5) Jika konsumsi tinggi UPF dimulai sejak usia dini, maka paparan kumulatif terhadap faktor risiko karsinogenik berlangsung lebih lama. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa generasi mendatang dapat menghadapi peningkatan beban kanker usia dewasa yang berakar sejak masa kanak-kanak. (3). Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengukur dampak jangka panjang untuk mendapatkan data yang lebih valid. (5)
Kesimpulan dan Penutup
UPF telah menjadi bagian dominan dari pola makan anak modern, namun bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi tinggi UPF dan peningkatan risiko prekursor kanker kolorektal serta berbagai gangguan metabolik. Klasifikasi sebagai karsinogen Grup 1 merefleksikan kuatnya bukti kausalitas, bukan besarnya risiko absolut dibanding agen lain.
Bagi dokter anak di Indonesia, pesan yang perlu disampaikan kepada orang tua bukanlah kepanikan, melainkan edukasi rasional berbasis bukti. Anjuran untuk mengutamakan makanan utuh, minim proses, tinggi serat, dan sesuai dengan pedoman gizi seimbang menjadi langkah preventif penting. Intervensi sejak dini memiliki potensi besar dalam menurunkan paparan kumulatif terhadap faktor risiko kanker dan penyakit kronik di kemudian hari.
Daftar Pustaka
- Hang D, Wang L, Fang Z, Du M, Wang K, He X, et al. Ultra-processed food consumption and risk of colorectal cancer precursors: results from 3 prospective cohorts. J Natl Cancer Inst. 2023;115(2):155–164.
- Menegassi B, Vinciguerra M. Ultraprocessed food and risk of cancer: mechanistic pathways and public health implications. Cancers (Basel). 2025;17(13):2064.
- Chamarthi VS, Shirsat P, Sonavane K, Parsi S, Ravi U, Ponnam HC, et al. The impact of ultra-processed foods on pediatric health. Obes Pillars. 2025;100203.
- International Agency for Research on Cancer (IARC). IARC monographs classification of carcinogenic hazards to humans. 2023 update.
- World Health Organization. Cancer: carcinogenicity of the consumption of red meat and processed meat. Available from: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/cancer-carcinogenicity-of-the-consumption-of-red-meat-and-processed-meat

