Dot Grid

Berita

​Viral Klaim Herbal Bisa Cegah dan Obati TBC, Unggahan Influencer Akhirnya Ditarik

​Viral Klaim Herbal Bisa Cegah dan Obati TBC, Unggahan Influencer Akhirnya Ditarik

Beberapa waktu terakhir, ruang digital Indonesia diramaikan oleh unggahan dari seorang influencer wellness dengan akun @kynov_. Dalam unggahan tersebut dinyatakan bahwa tuberkulosis (TBC) dapat dicegah dan diobati melalui pendekatan alami menggunakan beberapa tanaman herbal. Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian publik dan memicu diskusi luas mengenai kemungkinan misinformasi kesehatan di media sosial, terutama terkait penggunaan herbal untuk penyakit infeksi serius seperti TBC.

kynov.png

Gambar 1. Unggahan @kynov_ mengenai peran herbal dalam pengobatan TB yang menuai banyak kritik dari tenaga kesehatan.

Kontroversi semakin berkembang karena unggahan tersebut menyebutkan riset yang dikaitkan dengan Dr. Kintoko. Sosok ini diketahui memiliki latar belakang akademik di bidang herbal dengan gelar doktoral dari Guangxi Medical University serta berprofesi sebagai apoteker yang terlibat dalam program saintifikasi jamu Kementerian Kesehatan. Ia juga aktif dalam komunitas edukasi herbal. Namun penting untuk dipahami bahwa ia merupakan peneliti herbal dan bukan dokter klinisi yang menangani terapi tuberkulosis secara langsung.

Di berbagai platform media sosial, termasuk Threads, sejumlah tenaga kesehatan mulai mempertanyakan klaim tersebut. Beberapa dokter dan praktisi kesehatan meminta penjelasan mengenai dasar ilmiah dari pernyataan bahwa TBC dapat dicegah atau diobati dengan herbal. Dalam diskusi tersebut, sejumlah netizen bahkan mencoba menyodorkan beberapa publikasi ilmiah yang disebut mendukung klaim tersebut.

Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, literatur yang dikutip sebagian besar hanya menunjukkan potensi herbal sebagai terapi tambahan atau adjuvant therapy, bukan sebagai terapi utama yang dapat menggantikan pengobatan standar. Bahkan salah satu studi yang disebutkan ternyata meneliti aktivitas antibakteri terhadap bakteri lain seperti Streptococcus, bukan terhadap Mycobacterium tuberculosis yang merupakan penyebab utama TBC.

Tuberkulosis sendiri merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi melalui droplet udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, meskipun dapat pula mengenai organ lain seperti tulang, kelenjar getah bening, dan sistem saraf pusat. Gejala yang umum ditemukan antara lain batuk lebih dari dua minggu, demam, keringat malam, penurunan berat badan, serta rasa lelah berkepanjangan. (1)

Dalam praktik medis modern, pengobatan TBC telah memiliki standar terapi yang jelas dan berbasis bukti ilmiah. Terapi utama untuk TBC adalah pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kombinasi yang terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol pada fase awal pengobatan. Kombinasi ini dikenal sebagai regimen RHZE dan telah digunakan secara luas secara global karena terbukti efektif dalam membunuh bakteri serta mencegah resistensi obat. (1)

Penggunaan pengobatan alternatif tanpa OAT dapat menyebabkan kegagalan terapi, memperpanjang penularan penyakit, dan meningkatkan risiko terjadinya tuberkulosis resisten obat yang jauh lebih sulit ditangani. Oleh karena itu, pengobatan standar tetap menjadi pilar utama dalam penanganan TBC. (1,2)

Seiring meningkatnya diskusi publik, unggahan asli dari akun influencer tersebut akhirnya diturunkan. Dalam klarifikasi lanjutan, ia menyatakan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud menyatakan bahwa TBC dapat disembuhkan hanya dengan herbal. Ia menjelaskan bahwa herbal yang dimaksud adalah terapi suportif yang digunakan bersama pengobatan medis standar.

Sementara itu, Dr. Kintoko juga akhirnya mengeluarkan pernyataan klarifikasi setelah beberapa kali didorong oleh pertanyaan netizen. Dalam pernyataan tersebut ia menegaskan bahwa terapi herbal tidak dapat menggantikan terapi OAT dalam pengobatan TBC. Herbal, menurutnya, hanya dapat berperan sebagai terapi suportif yang digunakan bersamaan dengan pengobatan standar. 


dokterkintoko.png

Gambar 2. Respons lanjutan akun @doktorkintoko

Situasi ini memicu diskusi yang lebih luas mengenai tanggung jawab komunikasi kesehatan di media sosial. Beberapa dokter dan tenaga kesehatan bahkan menyuarakan perlunya pelaporan terhadap konten kesehatan yang berpotensi menyesatkan kepada otoritas kesehatan seperti Kementerian Kesehatan, sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat dari disinformasi medis.

Kasus ini juga menyoroti persoalan yang lebih besar dalam komunikasi kesehatan modern. Saat ini, internet tidak dapat lagi dibantah sebagai salah satu sumber informasi kesehatan yang paling banyak diakses oleh masyarakat awam. Ketika seseorang mengalami keluhan, mendengar diagnosis tertentu, atau ingin mengetahui pilihan terapi, langkah pertama yang sering dilakukan bukanlah berkonsultasi ke fasilitas kesehatan, melainkan mencari jawaban melalui media sosial, mesin pencari, atau forum digital. Informasi yang mereka temukan kemudian sering kali membentuk persepsi awal tentang penyakit dan pengobatannya. (3)

Masalahnya, ruang digital tidak selalu diisi oleh sumber yang kredibel. Ketika tenaga kesehatan tidak aktif memberikan edukasi berbasis bukti di internet, akan tercipta kekosongan informasi. Kekosongan ini dengan mudah diisi oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi medis, baik yang secara sengaja menyebarkan klaim keliru demi keuntungan pribadi, maupun yang tidak bermaksud menyesatkan tetapi tetap menyebarkan informasi yang salah karena dirinya sendiri misinformed. Dalam situasi seperti ini, misinformasi tidak hanya lahir dari niat buruk, tetapi juga dari pemahaman yang setengah benar lalu disampaikan dengan keyakinan penuh kepada publik. (3,4)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi kesehatan di ruang digital memerlukan kehati-hatian yang tinggi. Informasi yang tidak lengkap atau disampaikan tanpa konteks ilmiah yang memadai dapat dengan mudah menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Dalam konteks tuberkulosis, terapi berbasis bukti tetap merupakan pendekatan utama yang tidak dapat digantikan oleh terapi alternatif. Penelitian herbal dapat memiliki potensi sebagai terapi tambahan, namun penggunaannya harus berada dalam kerangka pengobatan medis yang sudah terbukti efektif. (5)

Karena itu, peran dokter dan tenaga kesehatan saat ini tidak dapat lagi hanya berfokus pada aspek kuratif di ruang praktik. Edukasi juga perlu dilakukan secara aktif, baik di media sosial maupun, bila tidak memungkinkan, setidaknya secara konsisten di klinik dan ruang konsultasi. Kehadiran tenaga kesehatan di ruang digital menjadi penting bukan semata-mata untuk “ikut tren”, tetapi untuk memastikan bahwa masyarakat tidak belajar kesehatan dari sumber yang keliru. Dalam era ketika informasi menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, suara tenaga kesehatan yang aktif, jelas, dan berbasis bukti merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat. (6,7)

Pada akhirnya, peningkatan literasi kesehatan masyarakat serta komunikasi ilmiah yang akurat menjadi sangat penting dalam menghadapi era informasi digital yang berkembang pesat. Tenaga kesehatan memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa informasi kesehatan yang beredar tetap berdasarkan bukti ilmiah dan tidak menyesatkan masyarakat.



Referensi

  1. Effects of missed anti-tuberculosis therapy doses on treatment outcome: a multi-center cohort study
  2. Ferreira, Isabella B.B.Benjamin, A. et al.
  3. The Lancet Regional Health – Americas, Volume 48, 101162
  4. Tobin EH, Tristram D. Tuberculosis Overview. [Updated 2024 Dec 22]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441916/
  5. Moisoglou I, Katsiroumpa A, Konstantakopoulou O, Yfantis A, Galani O, Tsiachri M, Peleka P, Katsiroumpa Z, Galanis P. Online Health Misinformation Susceptibility Increases Health Risk Behaviors and Vaccine Hesitancy: Evidence from Greece. Healthcare (Basel). 2026 Feb 8;14(4):425. doi: 10.3390/healthcare14040425. PMID: 41753939; PMCID: PMC12940307.
  6. Office of the Surgeon General (OSG). Confronting Health Misinformation: The U.S. Surgeon General’s Advisory on Building a Healthy Information Environment [Internet]. Washington (DC): US Department of Health and Human Services; 2021. BACKGROUND. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK572166/
  7. Merry MS. The potential of herbal medicine as a promising complement and synergistic effects with anti-tuberculosis drugs. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia. 2024;15(3):288-290.
  8. Sheng AY, Gottlieb M, Bautista JR, Trueger NS, Westafer LM, Gisondi MA. The Role of Graduate Medical Education in the Fight Against Health Misinformation. J Grad Med Educ. 2023 Feb;15(1):9-14. doi: 10.4300/JGME-D-22-00383.1. PMID: 36817520; PMCID: PMC9934835.
  9. Anjelia LO, Mulyana D, Suminar JR. The role of Indonesian doctors as content creators in fighting health hoaxes, myths, and stigma on social media. Jurnal Komunikasi Indonesia. 2024 Aug 30;13(2):Article 11.



Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan