Dot Grid

Berita

​Vaksinasi HPV pada Anak Laki-Laki: Mengapa DKI Jakarta Memperluas Sasaran Imunisasi di 2026

​Vaksinasi HPV pada Anak Laki-Laki: Mengapa DKI Jakarta Memperluas Sasaran Imunisasi di 2026

Latar Belakang Kebijakan

Sejak tahun 2026, Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu dari tiga provinsi perintis—bersama DI Yogyakarta dan Bali, yang menjalankan pilot program imunisasi human papillomavirus (HPV) pada anak laki-laki. (1) Kebijakan ini merupakan bagian dari revisi Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030 yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2176/2023, dengan visi menjadikan Indonesia negara yang bebas dari kanker leher rahim. (1) Salah satu strategi utama dalam RAN tersebut adalah memastikan tersedianya imunisasi HPV yang memadai, terjangkau, dan terpercaya, sekaligus meningkatkan kualitas, cakupan, dan efisiensi pemberian imunisasi. (1)


Alasan Perluasan Sasaran ke Anak Laki-Laki

Perluasan imunisasi HPV ke anak laki-laki didasarkan pada pemahaman bahwa infeksi HPV tidak hanya berisiko menimbulkan kanker leher rahim pada perempuan, tetapi juga berkontribusi terhadap penyakit lain seperti kutil kelamin, kanker anus, dan kanker orofaring. Dengan memvaksinasi anak laki-laki, transmisi HPV dalam populasi dapat ditekan lebih luas, sehingga turut memperkuat proteksi tidak langsung (herd protection) terhadap perempuan yang belum atau tidak mendapatkan vaksinasi. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip umum imunisasi anak usia sekolah, di mana beberapa penyakit—termasuk HPV—baru menimbulkan risiko signifikan pada usia dewasa, sehingga pencegahan sejak usia sekolah dianggap strategis. (1)


Roadmap Pilot Program dan Perluasan Nasional

Pilot program imunisasi HPV pada anak laki-laki direncanakan berjalan bertahap. Pada 2026, program dimulai di 3 provinsi; jumlah ini bertambah menjadi 6 provinsi pada 2027 (ditambah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten), 7 provinsi pada 2028 (ditambah Jawa Timur), sebelum akhirnya diperluas secara nasional ke 38 provinsi pada 2029 dan 2030. Perluasan nasional ini bersifat kondisional—hasil pilot program periode 2026–2028 terlebih dahulu harus dievaluasi melalui kajian cost-effectiveness dan analisis dampak anggaran (budget impact) sebelum introduksi nasional dipertimbangkan. (1)


Sasaran dan Jadwal Pemberian di DKI Jakarta

Imunisasi HPV pada anak laki-laki diberikan sebanyak satu dosis. (1) Pada 2026, sasarannya adalah anak laki-laki kelas 5 SD/MI/sederajat atau usia 11 tahun. (1) Pada periode 2027–2029, sasaran diperluas mencakup anak laki-laki kelas 5 (usia 11 tahun) maupun kelas 6 (usia 12 tahun) sebagai imunisasi kejar bagi yang belum menerima dosis sebelumnya. Pada 2030, sasaran kembali diperluas mencakup anak laki-laki kelas 9 SMP/MTs atau usia 15 tahun sebagai kelompok imunisasi kejar tambahan. Pelaksanaan imunisasi HPV pada anak laki-laki diintegrasikan dalam kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Agustus, dan dapat dilakukan di satuan pendidikan, puskesmas, posyandu, pondok pesantren, maupun lembaga kesejahteraan sosial anak, dengan pencatatan cakupan melalui aplikasi ASIK dan pencatatan logistik vaksin melalui sistem SMILE. (1)


Skema Satu Dosis: Berlaku Merata bagi Anak Perempuan dan Laki-Laki

Mulai tahun 2026, skema satu dosis ini turut diberlakukan pada imunisasi HPV rutin bagi anak perempuan kelas 5 SD/MI/sederajat, menggantikan skema dua dosis yang sebelumnya berlaku. (1) Perubahan ini merujuk pada rekomendasi Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) WHO tahun 2022, yang menyimpulkan bahwa satu dosis vaksin HPV memberikan proteksi yang setara dengan skema dua atau tiga dosis. (4) Kesimpulan SAGE tersebut didukung oleh tinjauan bukti dari berbagai uji klinis dan studi imunogenisitas, termasuk meta-analisis terhadap lebih dari 900.000 perempuan yang telah divaksinasi, yang menunjukkan bahwa satu dosis vaksin HPV memberikan efektivitas klinis yang sebanding dengan skema dua atau tiga dosis, dengan proteksi imunogenik yang bertahan setidaknya delapan tahun pascavaksinasi. (5) Dengan demikian, sejak 2026, baik anak perempuan maupun anak laki-laki di DKI Jakarta menerima imunisasi HPV dengan skema satu dosis yang sama, sehingga penyederhanaan ini turut berpotensi mengurangi beban logistik dan meningkatkan efisiensi cakupan program. (1,4)

Perlu dicatat bahwa sebagian besar bukti efektivitas satu dosis tersebut berasal dari studi terkait pencegahan kanker leher rahim dan lesi prakanker serviks pada perempuan, dengan masa pemantauan hingga sekitar delapan tahun pascavaksinasi. (5) Data mengenai efektivitas satu dosis terhadap pencegahan kanker terkait HPV lain di luar serviks, termasuk kanker anus dan orofaring yang relevan bagi laki-laki, maupun data pemantauan jangka panjang di atas satu dekade, masih lebih terbatas dan terus dikaji lebih lanjut. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan mengapa pilot program pada anak laki-laki dirancang bertahap dan diikuti evaluasi cost-effectiveness sebelum diperluas secara nasional. (1)


Tantangan Penerimaan Masyarakat

Perluasan sasaran imunisasi HPV ke anak laki-laki berpotensi menghadapi tantangan penerimaan yang serupa dengan program HPV pada anak perempuan, mengingat isu hoaks seputar HPV tercatat sebagai salah satu kendala utama pelaksanaan BIAS pada 2025. (1) Kekhawatiran mengenai dampak vaksin HPV terhadap kesuburan telah diteliti melalui studi kohort nasional terhadap hampir satu juta perempuan di Denmark, yang tidak menemukan hubungan antara vaksinasi HPV dan insufisiensi ovarium primer. (2) Temuan ini konsisten dengan kesimpulan Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) di bawah World Health Organization (WHO), yang menyatakan bahwa data yang tersedia tidak mendukung adanya hubungan antara vaksinasi HPV dengan infertilitas maupun insufisiensi ovarium primer. (3) Strategi edukasi turut menekankan pentingnya keterlibatan organisasi profesi, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat, karena edukasi dari figur yang dekat dengan masyarakatm, seperti guru, kader PKK, dan ketua RT, dinilai lebih dipercaya dibandingkan sumber informasi digital yang tidak terverifikasi. (1)


Kesimpulan

Perluasan imunisasi HPV pada anak laki-laki di DKI Jakarta merupakan langkah strategis dalam upaya eliminasi kanker leher rahim, sekaligus perluasan cakupan proteksi terhadap penyakit terkait HPV pada laki-laki itu sendiri. Meski roadmap perluasan nasional telah dirancang secara bertahap hingga 2030, keberhasilan pilot program pada tahap awal sangat bergantung pada kesiapan komunikasi risiko dan penanganan isu hoaks yang selama ini menjadi kendala signifikan dalam pelaksanaan BIAS. Bukti ilmiah yang tersedia—baik dari studi kohort nasional maupun kajian komite keamanan vaksin WHO—secara konsisten tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksinasi HPV dengan gangguan kesuburan, sehingga dapat menjadi landasan penguatan komunikasi risiko kepada masyarakat. Skema satu dosis yang kini berlaku merata bagi anak perempuan dan laki-laki juga telah didukung rekomendasi SAGE WHO sebagai setara efektivitasnya dengan skema multidosis untuk pencegahan kanker serviks, meski data jangka panjang untuk kanker terkait HPV lain pada laki-laki masih terus dikembangkan. Dengan pendekatan berbasis bukti dan pelibatan tokoh masyarakat yang lebih sistematis, pilot program ini diharapkan dapat memberikan data cost-effectiveness yang memadai untuk mendukung keputusan introduksi nasional imunisasi HPV pada anak laki-laki di tahun-tahun mendatang.


Daftar Pustaka

  1. Tandy G. Kebijakan Pelaksanaan Imunisasi Anak Usia Sekolah pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) [bahan presentasi]. Direktorat Imunisasi, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI. Disampaikan pada: Sosialisasi BIAS dan HPV pada Anak Laki-Laki, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta; 2026 Jun 28; Jakarta, Indonesia.
  2. Hviid A, Myrup Thiesson E. Association between human papillomavirus vaccination and primary ovarian insufficiency in a nationwide cohort. JAMA Netw Open. 2021;4(8):e2120391.
  3. World Health Organization, Global Advisory Committee on Vaccine Safety. Statement on safety of HPV vaccines [internet]. Geneva: WHO; 2019 [cited 2026 Jul 31].
  4. World Health Organization. One-dose human papillomavirus (HPV) vaccine offers solid protection against cervical cancer [internet]. Geneva: WHO; 2022 Apr 11 [cited 2026 Jul 31].
  5. Zhang M, Wu D, Liang XF. Protection efficiency and vaccination strategy of single-dose HPV vaccine: opportunity and challenges. Chin J Public Health. 2023.

Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan