Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Berita

​Tata Laksana Nyeri Puting pada Ibu Menyusui

21 Januari 2026

Ditulis oleh Tim Editorial PrimaPro

​Tata Laksana Nyeri Puting pada Ibu Menyusui

“Nyeri kronik pada anak merupakan kondisi kompleks dengan dampak multidimensional yang memerlukan pendekatan tata laksana komprehensif berbasis model biopsikososial. Implementasi rekomendasi WHO menekankan pentingnya pendekatan multimodal, individual, dan interdisipliner untuk mengoptimalkan kontrol nyeri sekaligus meningkatkan fungsi dan kualitas hidup anak serta keluarganya. Peran dokter anak sangat krusial dalam deteksi dini”

Nyeri kronik pada anak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan secara global dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada populasi pediatrik. Kondisi ini berdampak luas terhadap perkembangan fisik, emosional, dan sosial anak, serta secara bermakna memengaruhi kualitas hidup keluarga dan pengasuh. Nyeri kronik didefinisikan sebagai nyeri yang menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan, dan dapat bersifat primer maupun sekunder akibat kondisi medis yang jelas. Berbeda dengan orang dewasa, pengalaman nyeri pada anak dipengaruhi oleh faktor fisiologis, perkembangan sistem saraf, serta konteks sosial dan keluarga, sehingga pendekatan tata laksana nyeri dewasa tidak dapat langsung diterapkan pada populasi anak . (1)

Pengelolaan nyeri kronik pada anak bersifat kompleks dan menantang, diperberat oleh keterbatasan bukti ilmiah berkualitas tinggi mengenai efektivitas intervensi tertentu. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) menyusun pedoman berbasis bukti untuk tata laksana nyeri kronik pada anak usia 0–19 tahun, dengan menekankan pendekatan multimodal, individual, dan interdisipliner . (1)

Definisi Nyeri dan Model Biopsikososial

WHO mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, yang berhubungan atau menyerupai kerusakan jaringan aktual maupun potensial. Nyeri akut berlangsung kurang dari tiga bulan, sedangkan nyeri kronik menetap atau berulang lebih dari tiga bulan dan bersifat multifaktorial . (1)

Model biopsikososial menjadi landasan utama dalam memahami nyeri kronik pada anak. Model ini memandang nyeri sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial, termasuk kondisi medis yang mendasari, respons emosional anak, dinamika keluarga, serta lingkungan sosial. Pendekatan ini menekankan bahwa tata laksana nyeri tidak hanya berfokus pada gejala fisik, tetapi juga pada fungsi, emosi, dan partisipasi sosial anak . (1)

Klasifikasi Nyeri Kronik pada Anak

Dalam revisi ke-11 International Classification of Diseases (ICD-11), nyeri kronik diklasifikasikan menjadi nyeri primer kronik, nyeri terkait kanker, nyeri pascabedah atau pascatrauma, nyeri muskuloskeletal sekunder, nyeri viseral sekunder, nyeri neuropatik kronik, nyeri kepala atau orofasial sekunder kronik, serta nyeri kronik yang tidak terklasifikasi. Nyeri primer kronik ditandai oleh distres emosional bermakna atau gangguan fungsi, dan diagnosisnya dapat ditegakkan meskipun tidak ditemukan penyebab biologis atau psikologis yang dominan . (1)

Etiologi dan Epidemiologi

Nyeri kronik sekunder memiliki etiologi jelas, seperti penyakit kronik, cedera, atau efek pengobatan, misalnya pada kanker, penyakit sel sabit, diabetes, dan kondisi rematik. Prevalensi nyeri kronik pada anak bervariasi luas antar studi, namun diperkirakan sekitar seperempat hingga sepertiga anak mengalami nyeri kronik, dengan sekitar 1 dari 20 anak mengalami disabilitas terkait nyeri tingkat sedang hingga berat . (1)

Data WHO menunjukkan bahwa hingga 44% remaja melaporkan nyeri kronik mingguan dalam enam bulan terakhir. Prevalensi cenderung lebih tinggi pada remaja, anak dari keluarga berpenghasilan rendah, serta anak dengan kondisi kesehatan kronik, menegaskan besarnya beban penyakit ini secara global . (1)

Rekomendasi Tata Laksana WHO

WHO merekomendasikan pendekatan multimodal dalam tata laksana nyeri kronik pada anak. Berikut rekomendasi-rekomendasi utama panduannya

  1.  Pada anak dengan nyeri kronik, terapi fisik dapat digunakan, baik sebagai terapi tunggal maupun dikombinasikan dengan modalitas terapi lain
  2. a) Pada anak dengan nyeri kronik, tata laksana psikologis melalui terapi kognitif perilaku dan intervensi terkait seperti acceptance and commitment therapy, terapi perilaku, serta terapi relaksasi dapat diberikan (rekomendasi bersyarat, tingkat kepastian bukti sedang).
    b) Terapi psikologis dapat dilakukan secara tatap muka, jarak jauh, atau melalui pendekatan kombinasi (rekomendasi bersyarat, tingkat kepastian bukti sedang).
  3. Pada anak dengan nyeri kronik, tata laksana farmakologis yang disesuaikan dengan indikasi dan kondisi klinis anak dapat digunakan (rekomendasi bersyarat, tingkat kepastian bukti rendah).
  4. a) Tata laksana farmakologis yang disesuaikan dengan indikasi tertentu dapat mencakup penggunaan morfin sesuai prinsip pengelolaan opioid, khususnya untuk perawatan akhir hayat
    b) Pada anak dengan nyeri kronik yang berhubungan dengan kondisi yang membatasi harapan hidup, morfin dapat diberikan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dengan tetap menerapkan prinsip pengelolaan opioid secara ketat (1)

Untuk menentukan intervensi farmakologis yang diberikan, WHO analgesic ladder dapat digunakan sebagai panduan. Secara klasik, WHO analgesic ladder terdiri dari tiga tahap. Diagramnya dapat dilihat pada Gambar 1. Tahap pertama ditujukan untuk nyeri ringan dan menggunakan analgesik non-opioid seperti parasetamol atau antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dengan atau tanpa terapi adjuvan, yaitu obat-obatan selain parasetamol, NSAID, atau opioid yang dapat meredakan nyeri. Tahap kedua diperuntukkan bagi nyeri sedang, dengan penambahan opioid lemah seperti kodein di atas terapi non-opioid, kembali dengan kemungkinan kombinasi adjuvan. Tahap ketiga digunakan untuk nyeri berat, di mana opioid kuat seperti morfin menjadi pilihan utama, tetap dikombinasikan dengan non-opioid dan adjuvan bila diperlukan. (2) Prinsip dasarnya adalah “by the ladder, by the clock, by the mouth”, yang berarti analgesik diberikan secara bertahap sesuai intensitas nyeri, diberikan teratur, dan melalui rute oral bila memungkinkan .(2,4)

Pendekatan bertahap ini membantu klinisi memahami eskalasi terapi nyeri secara sistematis, namun tidak dimaksudkan sebagai algoritme kaku yang harus selalu diikuti secara linear.

Dosis obat-obatan analgesik yang bisa diberikan pada pasien anak bisa dilihat dalam booklet berikut: https://med.stanford.edu/content/dam/sm/pedsanesthesia/documents/pediatric-pain-pocket-reference.pdf 

Gambar 1. WHO Analgesic Ladder (4)

Nyeri kronik pada anak merupakan kondisi kompleks dengan dampak multidimensional yang memerlukan pendekatan tata laksana komprehensif berbasis model biopsikososial. Implementasi rekomendasi WHO menekankan pentingnya pendekatan multimodal, individual, dan interdisipliner untuk mengoptimalkan kontrol nyeri sekaligus meningkatkan fungsi dan kualitas hidup anak serta keluarganya. Peran dokter anak sangat krusial dalam deteksi dini, koordinasi perawatan, dan edukasi keluarga untuk memastikan tata laksana nyeri kronik yang aman, efektif, dan berkelanjutan.

Ikuti akun Instagram @official.primapro untuk mendapatkan update informasi terkait ilmu pediatri klinis, webinar dan seminar SKP. Dapatkan juga informasi terkait RME dan supply vaksin di www.primacarehealth.co.id.

FAQ

Kapan nyeri pada anak dikategorikan sebagai nyeri kronis?

Nyeri pada anak dikategorikan sebagai nyeri kronik bila menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Nyeri kronik dapat bersifat primer maupun sekunder akibat kondisi medis tertentu. (1)

Mengapa tata laksana nyeri kronis pada anak perlu menggunakan pendekatan biopsikososial?

Pengalaman nyeri pada anak dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial, termasuk penyakit yang mendasari, respons emosional, dinamika keluarga, dan lingkungan sosial. Karena itu, tata laksana tidak hanya berfokus pada intensitas nyeri, tetapi juga fungsi, kondisi emosional, dan partisipasi sosial anak. (1)

Apa saja terapi yang direkomendasikan WHO untuk nyeri kronis pada anak?

WHO merekomendasikan pendekatan multimodal dan individual, yang dapat mencakup terapi fisik, intervensi psikologis seperti cognitive behavioral therapy (CBT), acceptance and commitment therapy, terapi perilaku dan relaksasi, serta terapi farmakologis sesuai indikasi dan kondisi klinis anak. (1)

Apakah terapi psikologis dapat diberikan pada anak dengan nyeri kronis?

Ya. WHO menyatakan intervensi psikologis dapat diberikan pada anak dengan nyeri kronik dan dapat dilakukan secara tatap muka, jarak jauh, maupun kombinasi keduanya. Rekomendasi ini bersifat bersyarat dengan tingkat kepastian bukti sedang. (1)

Apakah opioid dapat digunakan untuk tata laksana nyeri kronis pada anak?

Penggunaan opioid perlu disesuaikan dengan indikasi dan dilakukan dengan prinsip pengelolaan opioid yang ketat. WHO secara khusus menyebutkan morfin dapat digunakan pada anak dengan nyeri kronik terkait kondisi yang membatasi harapan hidup, termasuk perawatan akhir hayat, oleh tenaga kesehatan yang terlatih. (1)

Apakah WHO analgesic ladder harus selalu diikuti secara berurutan?

Tidak. WHO analgesic ladder dapat membantu klinisi memahami eskalasi terapi analgesik secara sistematis, tetapi tidak dimaksudkan sebagai algoritme kaku yang harus selalu diterapkan secara linear. Pemilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan intensitas nyeri, indikasi, kondisi klinis, dan kebutuhan individual anak. (2,4)

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Guidelines on the management of chronic pain in children. Geneva: WHO; 2020. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/fca81e62-b0c1-4eca-b8f8-0bd5ad94a2d5/content
  2. Anekar AA, Hendrix JM, Cascella M. WHO Analgesic Ladder. [Updated 2023 Apr 23]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554435/
  3. Stanford Pediatric Pain Service. Pediatric Pain Pocket Reference. Stanford University; 2023.
  4. WHO guidelines for the pharmacological and radiotherapeutic management of cancer pain in adults and adolescents. Geneva: World Health Organization; 2018. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan