Berita
Strategi Imunisasi Universal Menjadi Kunci Pengendalian Hepatitis B pada Anak

Hepatitis B (HB) masih menjadi salah satu penyebab utama sirosis dan hepatoselular karsinoma (HCC) di seluruh dunia. Diperkirakan lebih dari 250 juta orang hidup dengan infeksi HBV kronik, dengan beban penyakit tertinggi di negara berendemi menengah–tinggi. (1) Pada anak, infeksi yang terjadi pada periode perinatal dan awal kehidupan berkontribusi besar terhadap populasi pengidap kronik di usia dewasa, sehingga pencegahan sejak dini melalui vaksinasi hepatitis B dengan strategi universal menjadi sangat penting untuk dilakukan. (1,2)
Beban Hepatitis B dan Konteks Indonesia
Secara epidemiologis, prevalensi HBsAg digunakan untuk mengklasifikasikan endemisitas: <2% (rendah), 2–8% (menengah), dan > 8% (tinggi). (2) Indonesia sebelumnya dikategorikan sebagai negara dengan endemisitas menengah–tinggi. Implementasi program imunisasi hepatitis B menyebabkan penurunan prevalensi HBsAg dari sekitar 7,1% menjadi ±2,4% dalam satu dekade terakhir, namun angka ini masih di atas target eliminasi WHO pada anak (<0,1%). (3,4)
Penelitian sero-survey nasional memperlihatkan bahwa kelompok usia muda yang lahir setelah pengenalan imunisasi rutin menunjukkan prevalensi HBsAg jauh lebih rendah dibanding kohort yang lahir sebelumnya, menegaskan dampak protektif imunisasi universal. (4,5)
Sejarah dan Perkembangan Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatitis B generasi pertama (plasma-derived) mulai tersedia secara komersial sejak 1982, diproduksi dari partikel subviral HBsAg 22 nm yang dimurnikan dari plasma donor pengidap HBV kronik dan diinaktivasi ketat. Kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan produk plasma dan keterbatasan biaya serta kebijakan global membuat cakupan awal rendah dan berfokus pada kelompok risiko tinggi. (1)
Pada 1986, vaksin rekombinan generasi kedua dikembangkan dengan mengekspresikan HBsAg pada sel Saccharomyces cerevisiae, menghasilkan partikel mirip virus (virus-like particles / VLP) yang sangat imunogenik dan sepenuhnya menggantikan vaksin berbasis plasma. Vaksin ini mampu menghasilkan seroproteksi >95% pada bayi, anak, dan dewasa muda setelah diberikan melalui seri tiga dosis. (1)
Secara global, cakupan tiga dosis (HepB3) meningkat dari 1% pada 1990 menjadi ±85% pada 2019, dengan penurunan prevalensi HBsAg kronik pada anak <5 tahun dari 4,7% pada era pra-vaksin menjadi <1% pada 2019. (1)
Negara yang lebih awal mengadopsi imunisasi universal bayi baru lahir, seperti Taiwan, menunjukkan penurunan prevalensi HBsAg usia <20 tahun dari 9,8% menjadi 0,6% dan penurunan insidens HCC anak secara bermakna—menjadikan vaksin hepatitis B sebagai vaksin pertama yang terbukti mencegah kanker. (1)
Mengapa Strategi Imunisasi Universal Dipilih?
Pada awal ketersediaan vaksin, strategi pencegahan difokuskan pada imunisasi kelompok berisiko tinggi. Namun cakupan tiga dosis di kelompok ini terbukti rendah karena kendala logistik, kepatuhan, dan fakta bahwa hingga 30% kasus hepatitis B akut tidak memiliki faktor risiko yang teridentifikasi. (1)
Hal ini menyebabkan pendekatan terbatas pada kelompok risiko tinggi memberikan dampak minimal terhadap beban penyakit populasi. WHO kemudian merekomendasikan integrasi vaksin hepatitis B dalam program imunisasi nasional semua negara pada 1991, dengan penekanan universal infant immunization dimulai sejak lahir, disertai catch-up pada anak dan remaja yang belum diimunisasi, serta imunisasi kelompok dewasa berisiko tinggi. (1)
Program imunisasi bayi rutin terbukti menghasilkan imunitas populasi luas dan mengurangi transmisi vertikal. Bagi Indonesia, di mana transmisi perinatal dan masa kanak-kanak masih berperan penting, strategi universal jauh lebih rasional dibanding pendekatan selektif berbasis risiko, terutama karena skrining HBsAg semua ibu hamil belum bisa tercapai secara merata. (4)
Implementasi Imunisasi Hepatitis B di Indonesia
Panduan nasional dan PNPK Hepatitis B merekomendasikan pemberian dosis lahir monovalen (HB0) dalam 0–24 jam pertama kehidupan pada semua bayi, diikuti seri vaksinasi lanjutan sesuai jadwal imunisasi rutin, tidak hanya yang berisiko tinggi. Hal ini sesuai dengan anjuran Jadwal IDAI 2024 merekomendasikan pemberian hepatitis B monovalen saat lahir, kemudian vaksin kombinasi yang mengandung HB (misalnya DTP-HB-Hib) pada usia 2, 3, dan 4 bulan atau 2, 4, dan 6 bulan, disesuaikan dengan produk yang tersedia. (5) Untuk anak yang belum pernah imunisasi atau statusnya tidak jelas, catch-up dapat diberikan hingga usia remaja dengan skema 0–1–6 bulan. (1,4,5)
Dosis lahir yang diberikan <12 jam terbukti mencegah 70–95% transmisi perinatal pada bayi dari ibu HBsAg/HBeAg positif bila dilanjutkan dengan seri 3–4 dosis. (1)
Vaksinasi juga dianjurkan untuk kelompok risiko tinggi seperti petugas kesehatan, penderita penyakit hati kronik, diabetes melitus, pasien hemodialisis, serta calon penerima transfusi berulang, sesuai Jadwal Imunisasi Dewasa PAPDI. (6)
Lama Perlindungan Vaksin Hepatitis B
Data jangka panjang menunjukkan bahwa anak dan dewasa imunokompeten yang mencapai kadar anti-HBs ≥10 mIU/mL setelah seri primer tetap terlindungi dari infeksi dan penyakit kronik selama 20–30 tahun, meskipun kadar antibodi menurun hingga <10 mIU/mL. (1)
Perlindungan ini dikaitkan dengan keberadaan sel memori B dan T, sehingga sebagian besar pedoman internasional tidak merekomendasikan booster rutin pada individu imunokompeten yang telah mendapat seri lengkap. (1)
Booster selektif tetap dipertimbangkan pada kelompok risiko tinggi tertentu dengan respons awal suboptimal. (6)
Penutup
HBV merupakan penyebab penting penyakit hati kronik dan kanker pada usia dewasa, dan sebagian besar kasus kronik berakar dari infeksi yang terjadi pada masa bayi dan anak. (1,2,4) Imunisasi hepatitis B universal—dimulai dari dosis lahir dalam 24 jam, dilanjutkan seri lengkap serta catch-up—telah terbukti menurunkan secara drastis prevalensi HBsAg dan insidens HCC anak di berbagai negara, dan mulai menunjukkan dampak nyata di Indonesia. (1,3,4,5). Keberhasilan program bergantung pada cakupan tinggi, terutama pada bayi yang lahir di luar fasilitas kesehatan, serta konsistensi tenaga kesehatan dalam memberikan vaksin tepat waktu dan mengedukasi keluarga. (1,4)
Dengan memaksimalkan peran di lini pelayanan primer maupun rumah sakit—mulai dari memastikan pemberian HB0, melengkapi seri imunisasi, melakukan catch-up, hingga mengelola profilaksis pasca pajanan—dokter anak berkontribusi langsung pada upaya nasional untuk mencapai eliminasi hepatitis B sebagai masalah kesehatan masyarakat di tahun-tahun mendatang.
Daftar Pustaka
- Pattyn J, Hendrickx G, Vorsters A, Van Damme P. Hepatitis B Vaccines. J Infect Dis. 2021 Sep 30;224(12 Suppl 2):S343-S351. doi: 10.1093/infdis/jiaa668. PMID: 34590138; PMCID: PMC8482019.
- Terrault NA, Lok ASF, McMahon BJ, et al. Hepatitis B. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.
- Kementerian Kesehatan RI. Angka Hepatitis B dan C di Indonesia Turun. 2019.
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Hepatitis B 2019.
- Satgas Imunisasi IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Indonesia 2024.
- Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. Jadwal Imunisasi Dewasa Indonesia.

