Dot Grid

Berita

​Sindrom Prader-Willi: Tinjauan Klinis untuk Dokter Anak

​Sindrom Prader-Willi: Tinjauan Klinis untuk Dokter Anak

Latar Belakang

Sindrom Prader-Willi (SPW) merupakan kelainan genetik kompleks yang jarang dijumpai, memengaruhi sistem metabolik, endokrin, dan neurologis, serta dikenal sebagai penyebab sindromik obesitas yang paling dominan. (1) Kondisi ini ditandai oleh hipotonia berat dan kesulitan makan pada tahun-tahun pertama kehidupan, yang kemudian berkembang menjadi keterlambatan perkembangan global, hiperfagia, dan awitan obesitas sekitar usia 3 tahun. (1) Anak dengan SPW menunjukkan ciri wajah khas, strabismus, serta kelainan muskuloskeletal, dan disfungsi hipotalamus turut berkontribusi terhadap berbagai endokrinopati seperti hipogonadisme, hipotiroidisme, insufisiensi adrenal sentral, dan defisiensi hormon pertumbuhan. (1)


Epidemiologi

Prevalensi SPW diperkirakan berkisar antara 1 di antara 10.000 hingga 30.000 kelahiran. (1)(2) Secara global, sekitar 400.000 individu diperkirakan terkena, dengan 20.000 di antaranya berada di Amerika Serikat, menjadikan SPW sebagai penyebab genetik obesitas yang mengancam jiwa paling umum. (1) Kondisi ini memengaruhi laki-laki dan perempuan secara setara, tanpa perbedaan bermakna antar kelompok ras maupun etnis. (1)


Etiologi

SPW disebabkan oleh tidak terekspresinya gen-gen yang diwariskan dari ayah pada regio kromosom 15q11.2–q13. (1) Sekitar 70% kasus terjadi akibat delesi paternal pada regio tersebut, sementara disomi uniparental maternal bertanggung jawab atas kurang lebih 25% kasus, dan sisanya disebabkan oleh defek pusat pencetakan genom (imprinting center), seperti mikrodelesi atau epimutasi pada kromosom 15. (1) Sebagian besar kasus bersifat sporadik, meskipun kasus familial dapat terjadi bila gen paternal membawa mikrodelesi pada pusat pencetakan yang diwariskan dari nenek pihak ayah. SPW menjadi kelainan genetik pertama yang teridentifikasi disebabkan oleh mekanisme genomic imprinting, yaitu ekspresi gen yang bergantung pada asal orang tua penyumbang gen tersebut. (1)


Patogenesis

Kelainan genetik pada SPW menyebabkan tidak terekspresinya sejumlah gen kunci yang diperlukan untuk fungsi hipotalamus normal, yang mendasari gambaran klinis utama berupa hipotonia neonatal, kesulitan makan pada masa bayi, diikuti oleh hiperfagia, gangguan rasa kenyang, dan obesitas berat pada masa kanak-kanak lanjut hingga dewasa. (1) Gangguan sinyal neuropeptida hipotalamus turut mengganggu pengeluaran energi serta berbagai aksis endokrin, sehingga menimbulkan defisiensi hormon pertumbuhan, hipogonadisme, hipotiroidisme, dan yang lebih jarang, insufisiensi adrenal sentral. (1) Abnormalitas sistem oksitosin dan ghrelin turut berperan dalam hiperfagia, sementara gangguan kognitif dikaitkan dengan perubahan struktur dan fungsi otak, khususnya pada jalur limbik dan frontal, dengan penurunan volume talamus, amigdala, dan batang otak yang berkorelasi dengan derajat hiperfagia dan gangguan perilaku. (1)


Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis SPW bervariasi menurut kelompok usia. Progresivitas menuju hiperfagia dan obesitas yang menjadi tanda khas kondisi ini terbagi menjadi beberapa fase nutrisi, yang secara baku diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Fase prenatal hingga lahir, ditandai penurunan gerak janin dan berat lahir lebih rendah dibanding saudara kandung.
  2. Fase bayi awal (0–9 bulan), dengan hipotonia disertai kesulitan makan dan nafsu makan menurun.
  3. Fase perbaikan (9–25 bulan), ditandai perbaikan asupan makan dan pertumbuhan yang sesuai.
  4. Fase peningkatan berat badan tanpa peningkatan nafsu makan (usia sekitar 2–4,5 tahun).
  5. Fase peningkatan nafsu makan namun masih dapat merasa kenyang (usia sekitar 4,5–8 tahun).
  6. Fase hiperfagik, ketika rasa kenyang jarang tercapai, berlangsung sejak usia 8 tahun hingga dewasa. (2)


Selain itu, ditemukan hipogonadisme pada hampir seluruh individu, dengan kriptorkismus pada 80–90% laki-laki, keterlambatan bicara dan motorik, disabilitas intelektual ringan pada mayoritas kasus, gangguan perilaku seperti kecemasan dan sifat obsesif-kompulsif, skoliosis, gangguan tidur, serta ambang nyeri yang tinggi sehingga berisiko menutupi kegawatan medis. (2)


Kapan Perlu Mencurigai Sindrom Prader-Willi pada Anak Obesitas

Kecurigaan terhadap SPW perlu dipertimbangkan bila obesitas pada anak didahului oleh riwayat hipotonia neonatal dan kesulitan makan pada masa bayi, suatu pola yang tidak lazim dijumpai pada obesitas eksogen biasa. (2) Kecurigaan semakin diperkuat apabila obesitas disertai disabilitas intelektual, keterlambatan bicara dan motorik, perawakan pendek, serta hipogonadisme. (1)(2) Pada kondisi tersebut, analisis metilasi DNA pada regio kromosom 15q11.2–q13 direkomendasikan sebagai pemeriksaan diagnostik awal. (1)


Mortalitas dan Morbiditas

Obesitas beserta komplikasinya merupakan penyumbang utama morbiditas dan mortalitas pada SPW, memengaruhi berbagai sistem organ. (1) Dengan perbaikan tata laksana, angka kematian tahunan telah menurun menjadi sekitar 1,25%. (2) Pada anak, gagal napas dan penyakit demam akut menjadi penyebab kematian tersering, sedangkan pada dewasa, penyakit jantung, tromboemboli paru, komplikasi obesitas, dan kelainan lambung lebih dominan. (2) Distensi lambung akut dengan risiko ruptur dan nekrosis, serta tersedak—terutama akibat makan terburu-buru—turut dilaporkan sebagai penyebab kematian yang signifikan pada populasi ini. (2)


Kesimpulan dan Penutup

Sindrom Prader-Willi merupakan kelainan genetik multisistem yang memerlukan kewaspadaan klinis tinggi, khususnya pada bayi dengan hipotonia, kesulitan menyusu, dan pertumbuhan yang lambat. Diagnosis dini melalui analisis metilasi DNA memungkinkan intervensi multidisiplin yang komprehensif untuk mencegah obesitas berat serta komplikasi endokrin, muskuloskeletal, dan perilaku yang menyertainya. Dokter anak memegang peran penting dalam deteksi awal, rujukan tepat waktu ke layanan genetika dan endokrinologi, serta edukasi keluarga mengenai perjalanan alamiah penyakit ini guna mengoptimalkan luaran jangka panjang pasien.


Referensi

  1. Daley SF, Fermin Gutierrez MA, Mendez MD. Prader-Willi Syndrome. [Updated 2025 Dec 13]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK553161/
  2. Driscoll DJ, Miller JL, Cassidy SB. Prader-Willi Syndrome. In: Adam MP, Bick S, Mirzaa GM, et al., editors. GeneReviews® [Internet]. Seattle (WA): University of Washington, Seattle; 1993-2026. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK1330/






Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan