Berita
Separation Anxiety pada Anak: Apakah Normal?

Latar Belakang
Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anaknya menangis histeris, menempel erat, atau menolak ditinggalkan saat akan dipisahkan dari pengasuh utamanya. Fenomena ini dikenal sebagai separation anxiety, yaitu kecemasan yang timbul akibat perpisahan aktual atau antisipasi perpisahan dengan figur lekat (attachment figure). Secara klinis, kecemasan ini ditandai oleh rasa khawatir berlebihan, menangis, hingga keluhan somatik saat anak diperkirakan akan berpisah dari pengasuhnya. (1) Pertanyaan yang kerap muncul di ruang praktik adalah: apakah perilaku ini normal, ataukah sudah menjadi tanda gangguan psikiatri yang membutuhkan intervensi lebih lanjut?
Ansietas sebagai Mekanisme Pertahanan
Ansietas pada dasarnya merupakan respons emosional yang adaptif dan diperlukan sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terhadap ancaman yang dipersepsikan maupun nyata. (1) Secara evolusioner, separation anxiety pada bayi dan anak kecil memiliki fungsi protektif penting, yaitu mendorong anak untuk tetap berada dekat dengan pengasuhnya sehingga risiko bahaya akibat keterpisahan dapat diminimalkan. (1) Secara perkembangan, separation anxiety yang fisiologis mulai tampak pada usia 6–12 bulan, mencapai puncak antara usia 9–18 bulan, dan secara bertahap menghilang seiring anak membangun rasa otonomi, kemampuan kognitif, serta pemahaman bahwa figur lekat akan kembali. (1) Periode normatif ini umumnya tetap dapat diamati hingga sekitar usia 3 tahun, dan kemunculan kembali kecemasan transien saat anak mulai masuk sekolah pun masih tergolong respons yang wajar. (1)
Batas antara Separation Anxiety Fisiologis dan Patologis
Permasalahan muncul ketika intensitas kecemasan tersebut tidak proporsional dengan usia atau konteksnya, berlangsung lebih lama dari yang diharapkan, dan mulai mengganggu kualitas hidup anak maupun keluarganya, misalnya tangisan yang berlebihan, penolakan sekolah, atau keluhan fisik berulang setiap kali perpisahan terjadi. (1) Anxiety dikatakan menjadi patologis ketika intensitasnya membebani sedemikian rupa sehingga timbul distres yang menetap, penurunan kualitas hidup, dan gangguan fungsi pada aktivitas hidup utama. (1)
Kriteria Diagnostik DSM-5-TR untuk Separation Anxiety Disorder
Pembeda klinis antara separation anxiety fisiologis dan separation anxiety disorder (SAD) terletak pada usia, intensitas, durasi, dan dampak fungsionalnya. Kriteria diagnostik DSM-5-TR untuk SAD adalah sebagai berikut: (1)
- Kecemasan berlebihan dan tidak sesuai tahap perkembangan terhadap perpisahan dari figur kelekatan, dibuktikan dengan minimal 3 dari gejala berikut:
- Distres berulang dan berlebihan saat perpisahan aktual atau diantisipasi
- Kekhawatiran menetap akan kehilangan figur kelekatan atau bahaya yang menimpanya (sakit, cedera, bencana, kematian)
- Kekhawatiran menetap bahwa suatu peristiwa buruk akan menyebabkan perpisahan permanen
- Keengganan atau penolakan untuk pergi (misalnya ke sekolah) karena takut berpisah
- Penolakan untuk sendirian di rumah atau lingkungan lain tanpa figur kelekatan
- Penolakan tidur tanpa berada di dekat figur lekat
- Mimpi buruk berulang bertema perpisahan
- Keluhan fisik berulang saat perpisahan terjadi atau diantisipasi
- Gejala berlangsung minimal 4 minggu pada anak dan remaja
- Gangguan menimbulkan hendaya bermakna pada fungsi utama (akademik, sosial)
- Gejala tidak lebih baik dijelaskan oleh kondisi psikiatri lain
Epidemiologi Separation Anxiety Disorder
Dari sisi epidemiologi, SAD merupakan gangguan ansietas anak yang paling sering terdiagnosis, dengan prevalensi diperkirakan sekitar 4% pada populasi umum dan meningkat hingga 7,6% pada sampel klinis pediatrik, serta usia onset rata-rata sekitar 6 tahun. (1)
Kapan Perlu Rujukan ke Psikiatri
Dalam praktik sehari-hari, klinisi perlu menelaah konteks usia, durasi, intensitas gejala, serta dampaknya terhadap aktivitas anak (sekolah, tidur, interaksi sosial) untuk membedakan respons yang masih fisiologis dari yang sudah mengarah ke gangguan. Edukasi awal kepada orang tua dapat meliputi konsistensi rutinitas perpisahan, ritual pamit yang singkat namun penuh kasih, serta menepati janji waktu kembali, karena pendekatan ini terbukti membantu anak membangun rasa percaya dan kemandirian secara bertahap. (2) Apabila kecemasan tetap menetap setiap hari melewati usia prasekolah, atau telah memenuhi kriteria DSM di atas dengan hendaya fungsional yang jelas—seperti penolakan sekolah berulang, gangguan tidur kronis, atau keluhan somatik berat—maka rujukan untuk evaluasi psikiatri, idealnya oleh psikiater anak dan remaja, menjadi langkah yang tepat untuk memastikan diagnosis dan merencanakan terapi, yang lazimnya berbasis terapi kognitif-perilaku dengan atau tanpa farmakoterapi sebagai lini berikutnya. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Separation anxiety merupakan fenomena perkembangan yang normal dan bahkan adaptif pada rentang usia tertentu, mencerminkan kelekatan yang sehat antara anak dan pengasuhnya. Namun, ketika intensitas, durasi, dan dampaknya melampaui batas perkembangan yang wajar serta mulai mengganggu fungsi kehidupan anak secara bermakna, kondisi ini perlu dipertimbangkan sebagai separation anxiety disorder yang memenuhi kriteria diagnostik formal. Dokter anak memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mengidentifikasi pola kecemasan yang menyimpang dari perjalanan alamiahnya, memberikan edukasi awal kepada keluarga, serta merujuk pasien secara tepat waktu kepada layanan psikiatri bila kriteria klinis terpenuhi, sehingga tatalaksana dapat diberikan sejak dini dan prognosis jangka panjang anak dapat dioptimalkan.
Referensi
- Feriante J, Torrico TJ, Bernstein B. Separation Anxiety Disorder. [Updated 2023 Feb 26]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560793/
- Swanson WS. How to Ease Your Child's Separation Anxiety [Internet]. Itasca (IL): American Academy of Pediatrics; HealthyChildren.org. Available from: https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/Pages/Soothing-Your-Childs-Separation-Anxiety.aspx

