Berita
Rooting Reflex: Tinjauan Klinis dan Implikasi bagi Praktik Dokter Anak

Rooting reflex merupakan salah satu refleks primitif motorik involunter yang dimediasi oleh batang otak dan memegang peranan fundamental dalam kelangsungan hidup neonatus serta perkembangan awal proses pemberian makan. Refleks ini dicetuskan oleh stimulasi taktil pada sudut mulut atau area perioral bayi, yang kemudian memicu respons berupa rotasi kepala ke arah stimulus, pembukaan mulut, dan ekstensi lidah secara koordinatif. (1) Secara neurofisiologis, jalur aferen refleks ini terutama dihantarkan melalui divisi maksilaris dan mandibularis nervus trigeminus (nervus kranialis V), sedangkan respons eferennya dimediasi oleh nervus fasialis (nervus kranialis VII) sehingga menghasilkan gerakan orofasial yang terkoordinasi. (1)
Rooting reflex mulai muncul sejak usia gestasi sekitar 28 minggu, sehingga kehadirannya dapat dijadikan salah satu indikator kematangan neurologis pada bayi prematur. (1,2) Refleks ini memiliki peran survival yang kritis: dengan mengarahkan kepala bayi ke arah stimulus, rooting reflex memungkinkan neonatus untuk menemukan dan melekat pada sumber nutrisi, baik payudara ibu maupun botol susu, sehingga inisiasi pemberian makan dapat berlangsung secara efektif. Penting untuk membedakan rooting reflex dari sucking reflex; meskipun keduanya esensial dalam proses nutrisi, keduanya memiliki pola pencetusannya tersendiri. Rooting reflex dipicu oleh stimulasi perioral, sedangkan sucking reflex dicetuskan oleh stimulasi pada palatum durum. Sucking reflex sendiri umumnya muncul antara 30 hingga 35 minggu usia gestasi dan mencapai koordinasi penuh dengan proses bernapas dan menelan pada sekitar 37 minggu gestasi. (1,4)
Rooting reflex secara fisiologis akan menghilang antara usia 4 hingga 6 bulan pascanatal, seiring dengan maturasi lobus frontalis dan korteks serebri yang secara progresif menekan refleks-refleks primitif ini. (1,3) Proses integrasi refleks primitif berbeda-beda antar jenis refleks; sebagai perbandingan, plantar grasp reflex dapat menetap hingga usia 9 hingga 12 bulan. Pemahaman terhadap timeline perkembangan ini sangat penting agar dokter anak dapat menginterpretasikan temuan pemeriksaan refleks secara akurat sesuai dengan usia kronologis maupun usia koreksi pada bayi prematur. (1,5)
Persistensi rooting reflex melampaui usia 6 bulan, terutama bila disertai dengan retensi refleks primitif lainnya, merupakan tanda peringatan klinis yang signifikan dan dapat mengindikasikan adanya patologi sistem saraf pusat (SSP). Pada populasi pediatrik, kondisi ini berkaitan erat dengan palsi serebral dan gangguan neurodevelopmental lainnya. Bayi dengan rooting reflex yang menetap kerap menunjukkan drooling serta posisi lidah anterior akibat gangguan kontrol lidah, yang pada akhirnya menyebabkan kesulitan menelan dan mengunyah. Manifestasi klinis yang menyertai antara lain tonus otot yang abnormal (hipotonia atau hipertonia), pola postur dan gaya berjalan yang asimetris, serta keterlambatan pencapaian tonggak perkembangan. (1,6) Selain itu, penelitian terkini menunjukkan bahwa retensi refleks primitif pada masa bayi semakin diakui sebagai penanda dini kondisi neurodevelopmental, termasuk autism spectrum disorder (ASD), yang dikaitkan dengan delayed cortical maturation dan berdampak pada perkembangan motorik, pemrosesan sensoris, serta regulasi emosi. (7)
Mengingat signifikansi klinis yang telah dipaparkan, pemeriksaan rooting reflex sudah seharusnya menjadi bagian integral dari pemeriksaan neurologis rutin pada setiap kunjungan bayi. Penilaian refleks ini harus dilakukan dalam konteks pemeriksaan refleks primitif yang komprehensif, karena beberapa abnormalitas refleks primitif dapat terjadi bersamaan mengingat regulasi neuroanatomisnya yang serupa melalui sirkuit lobus frontalis. (1) Studi terkini bahkan menunjukkan bahwa kehadiran 5 atau lebih refleks primitif yang menetap berkorelasi dengan gangguan motorik berat dan keterlambatan perkembangan pada anak dengan palsi serebral. (6) Oleh karena itu, deteksi dini melalui skrining sistematis memungkinkan intervensi tepat waktu yang berpotensi memperlambat progresi penyakit atau mencegah komplikasi lebih lanjut.
Apabila rooting reflex tidak muncul pada neonatus yang seharusnya sudah menunjukkannya, atau sebaliknya menetap melampaui batas usia yang diharapkan, dokter anak perlu menindaklanjuti dengan evaluasi neurologis yang komprehensif. Absennya rooting reflex dapat mencerminkan disfungsi nervus trigeminus (N. V); anestesia trigeminal kongenital, meskipun jarang, dapat berdampak signifikan pada berbagai aspek kesehatan dan perkembangan neonatal. Sementara itu, hiperrefleksia pada refleks primitif dapat mengindikasikan neonatal withdrawal syndrome akibat paparan zat psikoaktif maternal in utero, termasuk opioid. Tata laksana selanjutnya mencakup koordinasi rujukan ke spesialis neurologi anak, fisioterapi, terapi wicara, serta intervensi neurodevelopmental sesuai indikasi. Pendekatan interprofesional yang terkoordinasi antara dokter, perawat, terapis, dan tenaga kesehatan lainnya terbukti meningkatkan luaran yang berpusat pada pasien, mengoptimalkan deteksi dini gangguan neurodevelopmental, dan memastikan monitoring yang konsisten sepanjang trajektori perkembangan anak. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Rooting reflex merupakan refleks primitif yang secara klinis bernilai tinggi dalam penilaian neurologis neonatus dan bayi. Kemunculannya pada usia gestasi 28 minggu mencerminkan integritas batang otak, sementara integrasinya pada usia 4 hingga 6 bulan merupakan penanda maturasi kortikal yang normal. (1,3) Persistensi atau absensi refleks ini di luar rentang usia yang diharapkan wajib diinterpretasikan sebagai sinyal klinis yang memerlukan evaluasi lebih lanjut, mengingat kaitannya yang erat dengan palsi serebral, ASD, dan berbagai kondisi neurodevelopmental lainnya. (6,7)
Sebagai dokter anak, pemeriksaan rooting reflex hendaknya dilakukan secara sistematis pada setiap kunjungan rutin bayi sebagai bagian dari skrining neurodevelopmental yang holistik. Interpretasi temuan harus senantiasa mempertimbangkan usia kronologis atau usia koreksi pada bayi prematur, serta dikontekstualisasikan dengan hasil pemeriksaan refleks primitif lainnya dan pencapaian tonggak perkembangan secara keseluruhan. Deteksi dini, diikuti dengan rujukan dan intervensi yang tepat waktu melalui pendekatan tim interprofesional, merupakan kunci dalam mengoptimalkan luaran jangka panjang bagi setiap anak. (1)
Daftar Pustaka
1. Chamarthi VS, Yoo H. Rooting Reflex. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 [updated 2026 Jan 31]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557636/
2. Glodowski KR, Thompson RH, Martel L. The rooting reflex as an infant feeding cue. J Appl Behav Anal. 2019;52(1):17-27.
3. Harjpal P, Kovela RK, Qureshi MI. Promoting Survival and Primitive Reflexes to Prevent Brain Imbalance in Premature Infants: A Scoping Review of New Insights by Physiotherapists on Developmental Disorders. Cureus. 2023;15(8):e43757.
4. Matsuo K, Palmer JB. Coordination of Mastication, Swallowing and Breathing. Jpn Dent Sci Rev. 2009;45(1):31-40.
5. Futagi Y, Toribe Y, Suzuki Y. The grasp reflex and moro reflex in infants: hierarchy of primitive reflex responses. Int J Pediatr. 2012;2012:191562.
6. Garfinkle J, Li P, Boychuck Z, Bussières A, Majnemer A. Early Clinical Features of Cerebral Palsy in Children Without Perinatal Risk Factors: A Scoping Review. Pediatr Neurol. 2020;102:56-61.
7. Melillo R, Leisman G, Machado C, Machado-Ferrer Y, Chinchilla-Acosta M, Kamgang S, et al. Retained Primitive Reflexes and Potential for Intervention in Autistic Spectrum Disorders. Front Neurol. 2022;13:922322.

