Berita
Risiko Kematian Kanker Serviks Mendekati Nol di Inggris

Latar Belakang
Kanker serviks merupakan salah satu beban kesehatan global utama pada populasi wanita dan pernah menempati posisi kanker tersering kedua pada wanita di dunia sebelum program vaksinasi human papillomavirus (HPV) diperkenalkan secara luas. Human papillomavirus, khususnya genotipe risiko tinggi, telah diketahui sebagai agen kausal pada hampir seluruh kasus kanker serviks, sehingga eliminasi kanker serviks menjadi target strategis jangka panjang berbagai negara.
Vaksin HPV telah berulang kali ditunjukkan efektif mencegah infeksi HPV persisten serta lesi prakanker derajat tinggi pada serviks. Meskipun demikian, keraguan terhadap manfaat jangka panjangnya masih ditemukan di tengah masyarakat, antara lain karena kekhawatiran keamanan vaksin dan jarak waktu panjang antara pemberian vaksin pada usia remaja dengan potensi manifestasi kanker serviks yang umumnya muncul satu dekade atau lebih kemudian. Selama ini bukti mengenai dampak vaksinasi HPV terhadap insidensi lesi prakanker sudah cukup banyak, namun bukti langsung terhadap angka kematian akibat kanker serviks masih terbatas.
Studi Populasi yang Menilai Dampak HPV terhadap Mortalitas Kanker Serviks
Studi terbaru yang dipublikasikan di The Lancet pada Juni 2026 menunjukkan temuan yang sangat menjanjikan: pada kohort wanita muda yang divaksinasi HPV sejak remaja melalui program nasional, angka kematian akibat kanker serviks turun hingga mendekati nol pada kelompok usia tertentu. Temuan ini merupakan bukti populasi pertama yang secara langsung mengonfirmasi bahwa vaksinasi HPV tidak hanya menurunkan insidensi lesi prakanker, tetapi juga menyelamatkan nyawa, dan menegaskan pentingnya penggencaran program vaksinasi HPV, termasuk di Indonesia. (1)
Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Queen Mary University of London, Inggris, dengan pendanaan Cancer Research UK, dan dipublikasikan daring di The Lancet pada 17 Juni 2026 . (1) Penelitian ini menganalisis data mortalitas kanker serviks berbasis populasi di Inggris periode 2001–2024, dengan fokus pada wanita usia 20–24, 25–29, dan 30–34 tahun . Rentang usia tersebut dipilih berdasarkan momentum waktu sejak program vaksinasi HPV nasional pertama diperkenalkan di Inggris tahun 2008 bagi anak perempuan usia 12–13 tahun, dengan cakupan 80–90% sebelum pandemi COVID-19, disertai program catch-up pada 2008–2010 untuk usia 14–18 tahun . (1)
Secara metodologis, penelitian ini bersifat observasional dengan desain analisis tren mortalitas berbasis populasi, membandingkan angka kematian aktual pada kohort pascavaksinasi dengan angka kematian yang diproyeksikan dari tren historis sebelum vaksinasi diperkenalkan . (1) Pendekatan ini memungkinkan estimasi jumlah kematian yang dicegah oleh program vaksinasi.
Temuan utamanya sangat mencolok bila disampaikan sederhana: pada periode 2020–2024, tidak ditemukan satu pun kematian akibat kanker serviks pada wanita usia 20–24 tahun di Inggris yang merupakan kohort tervaksinasi melalui program sekolah, capaian yang belum pernah tercatat sebelumnya . (2) Sebagai pembanding, tanpa vaksinasi, peneliti memproyeksikan sekitar 23 kematian pada kelompok usia dan periode yang sama . (2) Artinya, hampir seluruh kematian yang diproyeksikan berhasil dicegah pada kohort tersebut.
Program Vaksinasi HPV Diperkirakan Mencegah Ratusan Kematian
Secara kumulatif sejak 2008, program vaksinasi HPV di Inggris diestimasi telah mencegah sekitar 200 kematian akibat kanker serviks . Peneliti menekankan angka ini kemungkinan masih konservatif, mengingat kanker serviks umumnya berkembang satu dekade atau lebih sejak infeksi awal, sementara kohort tervaksinasi pertama baru memasuki rentang usia berisiko lebih tinggi (30 tahun ke atas) . Pada kelompok usia 30–34 tahun, risiko relatif kematian akibat kanker serviks pada wanita tervaksinasi tercatat 63% lebih rendah dibandingkan yang tidak divaksinasi pada usia sama, menunjukkan efek protektif yang tetap konsisten memasuki dekade ketiga kehidupan . (1)
Besarnya effect size ini sulit diabaikan: penurunan mendekati 100% pada angka kematian di kelompok usia termuda merupakan magnitude yang jarang ditemukan pada studi intervensi kesehatan masyarakat berskala populasi. Peneliti utama menyebut temuan ini baru permulaan, karena dampak penuhnya akan semakin terlihat saat kohort tervaksinasi memasuki dekade keempat dan kelima kehidupan, periode dengan beban kanker serviks historis tertinggi . (1) Kerugian yang dapat dihindarkan, baik nyawa maupun beban pengobatan kanker stadium lanjut, menjadi jauh lebih besar bila diproyeksikan sepanjang siklus hidup populasi tervaksinasi.
Perlu dicatat temuan ini bersifat observasional dari satu negara dengan cakupan vaksinasi tinggi pada masanya, dan cakupan vaksinasi HPV di Inggris saat ini berada di bawah ambang 90% yang direkomendasikan WHO untuk eliminasi kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat, sehingga penguatan program vaksinasi tetap mendesak . (1)
Kesimpulan dan Penutup
Studi populasi berbasis register mortalitas di Inggris ini memberikan bukti nasional pertama yang secara langsung mengonfirmasi bahwa vaksinasi HPV pada usia remaja berasosiasi dengan penurunan substansial angka kematian akibat kanker serviks, bukan sekadar penurunan insidensi lesi prakanker sebagaimana telah banyak dilaporkan sebelumnya . (1) Tidak ditemukannya kematian akibat kanker serviks pada kohort tervaksinasi usia 20–24 tahun selama 2020–2024 merupakan tonggak epidemiologis yang menggambarkan potensi vaksinasi HPV sebagai strategi pencegahan primer dengan efektivitas tinggi terhadap mortalitas jangka panjang . (2)
Bagi dokter anak yang berperan penting dalam edukasi dan pemberian vaksinasi pada populasi remaja, temuan ini memperkuat landasan ilmiah untuk terus menggencarkan imunisasi HPV sejak usia dini, idealnya sebelum terpapar infeksi HPV melalui aktivitas seksual. Dengan efek protektif yang terbukti bertahan hingga dekade ketiga kehidupan dan berpotensi semakin besar pada usia lebih lanjut, intervensi ini layak dipandang sebagai salah satu strategi kesehatan masyarakat paling cost-effective dalam mengurangi beban kanker serviks secara global, termasuk di Indonesia, dengan tetap memperhatikan bahwa vaksinasi HPV merupakan pelengkap, bukan pengganti, skrining serviks rutin.
Referensi
1. Sasieni P, Falcaro M. Cervical cancer mortality trends following HPV vaccination in England, 2001-24: an analysis of population-based mortality data. Lancet. 2026 Jun 17. doi:10.1016/S0140-6736(26)00918-9.
2. BBC News. HPV vaccine means young women now have 'close to zero' risk of cervical cancer death [Internet]. London: BBC; 2026 Jun 18 [cited 2026 Jun 23]. Available from: https://www.bbc.com/news/articles/c621z28z138o

