Berita
Raw Milk: Tren yang Menyimpan Risiko bagi Anak

Belakangan ini, praktik konsumsi susu mentah atau raw milk, kembali menjadi sorotan sebagai bagian dari tren wellness global. Fenomena ini turut dipicu oleh sejumlah figur publik internasional, mulai dari atlet, aktor, hingga figur di ranah politik dan gaya hidup, yang mempromosikan raw milk sebagai pilihan diet yang dianggap lebih "alami" dan bergizi dibandingkan susu pasteurisasi. Popularitas ini mendorong sebagian orang tua turut memberikan raw milk kepada anak mereka, tanpa menyadari bahwa klaim manfaat tersebut belum didukung bukti ilmiah yang memadai, bahkan berpotensi membahayakan kesehatan anak.
Susu Pasteurisasi vs. Raw Milk
Susu sesungguhnya merupakan pelengkap diet yang baik karena mengandung protein, kalsium, dan vitamin yang penting bagi tumbuh kembang anak. Namun, susu segar dari sapi, kambing, atau domba secara alami dapat mengandung berbagai bakteri, sehingga memerlukan pasteurisasi sebelum dikonsumsi. Pasteurisasi adalah proses pemanasan yang bertujuan memusnahkan mikroorganisme patogen, dinamai sesuai penemunya, ilmuwan Prancis Louis Pasteur, yang pada abad ke-19 menunjukkan bahwa fermentasi abnormal pada anggur dan bir dapat dicegah melalui pemanasan pada suhu dan waktu tertentu. Prinsip ini kemudian diterapkan pada susu, umumnya melalui metode High Temperature Short Time yang memanaskan susu hingga sekitar 72°C selama 15 detik, sebelum didinginkan secara cepat. (1) Raw milk adalah susu yang sama sekali tidak melalui proses pemanasan tersebut.
Klaim-Klaim yang Mempopulerkan Raw Milk
Klaim yang membuat raw milk menarik bagi masyarakat umumnya berkisar pada anggapan bahwa raw milk memiliki kandungan protein dan nutrisi lebih tinggi, lebih rendah risiko alergi dan intoleransi laktosa, serta mengandung bakteri baik yang bersifat probiotik dan menyehatkan saluran cerna. Namun, kajian ilmiah menunjukkan bahwa klaim-klaim tersebut tidak berdasar. Pasteurisasi tidak mengubah struktur protein susu secara bermakna sehingga potensi alergenisitasnya tetap sama antara susu mentah dan pasteurisasi, dan bakteri dalam raw milk bukan mikroorganisme probiotik, melainkan hasil kontaminasi dari lingkungan peternakan, peralatan pemerahan, atau infeksi kelenjar susu hewan. (2)
Fakta ini dikuatkan oleh tinjauan dari organisasi profesi dokter anak, seperti American Academy of Pediatrics yang menegaskan bahwa kandungan nutrisi seperti kalsium, vitamin D, dan protein pada susu mentah maupun pasteurisasi pada dasarnya setara, sementara raw milk justru berpotensi mengandung patogen berbahaya seperti Salmonella, Escherichia coli, Listeria monocytogenes, dan Campylobacter yang tidak bersifat probiotik. (3)
Bahaya Bakteri dan Risiko Penyakit pada Anak
Risiko infeksi akibat konsumsi raw milk jauh lebih tinggi dibandingkan susu pasteurisasi, dan anak termasuk kelompok paling rentan mengalami komplikasi berat. Sebuah laporan kasus di Kanada mendokumentasikan anak laki-laki berusia delapan tahun yang mengalami sindrom hemolitik uremik akibat infeksi Escherichia coli O157:H7 setelah mengonsumsi raw milk. Anak tersebut mengalami gagal ginjal akut dan gejala neurologis yang memerlukan perawatan intensif. (4) Data surveilans di Amerika Serikat periode 1998–2018 turut mencatat 202 kejadian luar biasa terkait susu tidak dipasteurisasi, dengan 2.645 kasus sakit dan 228 pasien rawat inap, jauh melampaui kejadian luar biasa yang terkait susu pasteurisasi pada periode yang sama. (5)
Kandungan Nutrisi: Raw Milk vs Susu Pasteurisasi
Perlu ditekankan kepada orang tua bahwa proses pasteurisasi tidak menurunkan kandungan nutrisi penting dalam susu, sementara secara efektif memusnahkan patogen berbahaya. (3) Berbagai kajian menunjukkan bahwa kualitas protein pada susu pasteurisasi tidak berbeda dari susu mentah, dengan daya cerna protein yang setara antara kedua jenis susu tersebut. Kadar lemak susu juga tidak mengalami perubahan komposisi yang bermakna akibat pasteurisasi, sehingga nilai energi dan profil asam lemaknya tetap terjaga. (2)
Pada aspek mineral, konsentrasi dan bioavailabilitas kalsium, mineral terpenting dalam susu bagi pertumbuhan tulang anak, terbukti sama antara susu mentah dan pasteurisasi, demikian pula bioavailabilitas zink dan selenium. Vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K, serta sebagian besar vitamin larut air seperti riboflavin, vitamin B6, dan vitamin B12, relatif stabil terhadap panas sehingga kadarnya tidak banyak berubah setelah pasteurisasi. Satu-satunya vitamin yang cukup sensitif terhadap panas adalah vitamin C, namun secara klinis hal ini tidak signifikan karena susu bukan merupakan sumber utama vitamin C dalam diet anak. (2)
Dengan demikian, anggapan bahwa raw milk lebih unggul secara nutrisi dibandingkan susu pasteurisasi tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. (2,3) Yang membedakan secara bermakna justru adalah aspek keamanan: pasteurisasi menghilangkan risiko patogen berbahaya tanpa mengorbankan manfaat gizi yang menjadi alasan utama susu diberikan kepada anak.
Kesimpulan dan Penutup
Sebagai dokter anak, penting untuk secara proaktif mengedukasi orang tua bahwa klaim manfaat raw milk yang beredar di media sosial tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, sementara risiko kesehatannya, terutama pada anak, ibu hamil, lansia, dan individu dengan imunitas rendah, bersifat nyata dan dapat berakibat fatal. Susu pasteurisasi tetap menjadi pilihan yang aman dan bergizi bagi anak, tanpa perlu mengorbankan keamanan demi mengikuti tren wellness yang belum teruji secara ilmiah.
Daftar Pustaka
- Britannica. Pasteurization [Internet]. Encyclopedia Britannica; 2026 [cited 2026 Jul 17]. Available from: https://www.britannica.com/technology/pasteurization
- U.S. Food and Drug Administration. Raw milk misconceptions and the danger of raw milk consumption [Internet]. FDA; 2024 [cited 2026 Jul 17]. Available from: https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/raw-milk-misconceptions-and-danger-raw-milk-consumption
- American Academy of Pediatrics. Fact checked: the dangers of drinking raw milk [Internet]. AAP; 2025 [cited 2026 Jul 17]. Available from: https://www.aap.org/en/news-room/fact-checked/fact-checked-the-dangers-of-drinking-raw-milk/
- Silveira A, Carvalho JP, Loh L, Benusic M. Public health risks of raw milk consumption: Lessons from a case of paediatric hemolytic uremic syndrome. Can Commun Dis Rep. 2023 Sep 1;49(9):375-379. doi: 10.14745/ccdr.v49i09a03. PMID: 38463905; PMCID: PMC10919754.
- Koski L, Kisselburgh H, Landsman L, Hulkower R, Howard-Williams M, Salah Z, Kim S, Bruce BB, Bazaco MC, Batz MB, Parker CC, Leonard CL, Datta AR, Williams EN, Stapleton GS, Penn M, Whitham HK, Nichols M. Foodborne illness outbreaks linked to unpasteurised milk and relationship to changes in state laws - United States, 1998-2018. Epidemiol Infect. 2022 Oct 25;150:e183. doi: 10.1017/S0950268822001649. PMID: 36280604; PMCID: PMC9987020.

