Berita
Perbedaan Formulasi Vaksin Difteri, Tetanus, dan Pertusis (DTaP, Tdap, Td, DT, dan DTP): Kapan Digunakan Menurut Rekomendasi IDAI dan PAPDI?

Pendahuluan
Vaksin difteri, tetanus, dan pertusis tersedia dalam beberapa formulasi, yaitu DTaP, Tdap, Td, DT, dan DTP. Banyak orang tua maupun tenaga kesehatan sering kali bertanya mengapa terdapat beberapa jenis vaksin dengan nama yang hampir serupa, padahal semuanya bertujuan mencegah penyakit yang sama.
Perbedaan formulasi ini bukan sekadar perbedaan nama. Masing-masing dirancang sesuai usia, kebutuhan sistem imun, serta tujuan pemberian vaksin, baik sebagai imunisasi dasar maupun dosis booster. Oleh karena itu, memahami perbedaan DTaP, Tdap, Td, DT, dan DTP sangat penting agar vaksin diberikan sesuai rekomendasi terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (1) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). (2)
Mengapa Ada Banyak Formulasi Vaksin Difteri, Tetanus, dan Pertusis?
Ketiga penyakit ini memiliki karakteristik berbeda. Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan toksin dan dapat menyebabkan sumbatan jalan napas serta komplikasi jantung. (3) Tetanus disebabkan oleh eksotoksin Clostridium tetani yang menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kekakuan serta spasme otot generalisata. (4) Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh Bordetella pertussis yang sangat menular dan paling berbahaya pada bayi. (5)
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan antibodi dan risiko efek samping berubah, sehingga kandungan antigen pada vaksin juga disesuaikan.
Apa Arti Huruf Besar dan Huruf Kecil pada Nama Vaksin?
Pada vaksin difteri dan pertusis, penggunaan huruf besar maupun kecil memiliki arti penting. Huruf besar (D dan P) menunjukkan kandungan antigen yang lebih tinggi (dosis penuh), sedangkan huruf kecil (d dan p) menunjukkan kandungan antigen yang lebih rendah (dosis dikurangi) yang lebih sesuai untuk remaja dan dewasa yang membutuhkan booster. (6)
Sebagai contoh, DTaP merupakan dosis penuh difteri dan pertusis aseluler, sedangkan Tdap adalah dosis tetanus penuh dengan difteri dan pertusis dosis lebih rendah.
Perbedaan Setiap Formulasi Vaksin
1. DTaP (Diphtheria, Tetanus, acellular Pertussis)
DTaP digunakan pada bayi dan anak usia di bawah 7 tahun, mengandung difteri dosis penuh, tetanus, dan pertusis aseluler. Komponen pertusis aseluler menggunakan antigen tertentu dari bakteri sehingga menimbulkan efek samping lebih ringan dibanding vaksin whole-cell. (5) Menurut jadwal IDAI, DTaP diberikan sebagai imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan, dengan booster pada usia 18 bulan serta 5–7 tahun. (1)
2. Tdap (Tetanus, reduced Diphtheria, acellular Pertussis)
Tdap merupakan vaksin booster untuk anak besar, remaja, dan dewasa dengan kandungan difteri dan pertusis yang dikurangi karena individu yang telah mendapat imunisasi dasar tidak lagi memerlukan dosis antigen penuh. (6) IDAI merekomendasikan Tdap pada usia 10–18 tahun bila belum mendapat booster pertusis usia sekolah. (1) PAPDI merekomendasikan satu kali dosis Tdap seumur hidup bagi dewasa yang belum pernah menerima, dilanjutkan booster Td atau Tdap setiap 10 tahun. (2)
3. Td (Tetanus, reduced Diphtheria)
Td hanya mengandung tetanus dan difteri dosis rendah tanpa komponen pertusis, digunakan sebagai booster jangka panjang setiap 10 tahun sepanjang hidup. (2) Td juga digunakan pada tata laksana luka berisiko tetanus apabila status imunisasi belum lengkap. (4)
4. DT (Diphtheria-Tetanus)
DT tidak mengandung komponen pertusis dan digunakan pada anak usia di bawah 7 tahun yang memiliki kontraindikasi terhadap vaksin pertusis, misalnya riwayat ensefalopati pascavaksinasi pertusis. (3) Saat ini penggunaan DT relatif jarang karena kontraindikasi terhadap pertusis sangat sedikit.
5. DTP (Whole-cell Pertussis)
DTP merupakan vaksin generasi lama yang mengandung komponen pertusis whole-cell yang telah diinaktivasi. Walaupun efektif, vaksin ini lebih sering menyebabkan demam tinggi, nyeri lokal, dan hypotonic-hyporesponsive episode (HHE) pada sebagian kecil anak, sehingga sebagian besar negara termasuk Indonesia telah beralih ke DTaP. (5)
Tabel 1. Perbedaan Formulasi
Tabel 2. Jadwal Imunisasi Menurut IDAI
Jadwal tersebut disusun berdasarkan evaluasi berkala Satuan Tugas Imunisasi IDAI yang disesuaikan dengan vaksin baru, program imunisasi Kemenkes, serta position paper WHO. (1)
Jadwal Booster Menurut PAPDI
Untuk orang dewasa, PAPDI merekomendasikan satu kali Tdap bagi setiap orang dewasa yang belum pernah mendapatkannya, dilanjutkan Td atau Tdap setiap 10 tahun. (2) Ibu hamil dianjurkan menerima satu dosis Tdap pada setiap kehamilan, idealnya pada usia kehamilan 27–36 minggu, untuk memberikan perlindungan pasif kepada bayi terhadap pertusis. (7)
Mengapa Booster Tetap Diperlukan?
Perlindungan terhadap difteri, tetanus, maupun pertusis menurun seiring waktu, sehingga tanpa booster seseorang dapat kembali rentan meskipun telah menerima imunisasi dasar saat kecil. (8) Booster bermanfaat untuk mempertahankan kadar antibodi protektif, mencegah penularan pertusis kepada bayi yang belum lengkap imunisasinya, mengurangi risiko tetanus akibat luka, serta membantu mempertahankan kekebalan komunitas. (7, 8)
Kesimpulan
Meskipun sama-sama melindungi dari difteri, tetanus, dan pertusis, DTaP, Tdap, Td, DT, dan DTP memiliki komposisi, dosis antigen, sasaran usia, serta indikasi penggunaan yang berbeda. DTaP digunakan sebagai imunisasi dasar pada anak, Tdap diberikan sebagai booster pada remaja dan dewasa, Td digunakan sebagai booster berkala setiap 10 tahun, DT menjadi alternatif bila komponen pertusis tidak dapat diberikan, sedangkan DTP merupakan vaksin generasi lama yang kini hampir seluruhnya digantikan oleh DTaP karena profil keamanannya yang lebih baik. Mengikuti jadwal imunisasi sesuai rekomendasi IDAI dan PAPDI merupakan langkah penting untuk memastikan perlindungan optimal terhadap tiga penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. (1, 2)
Referensi
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI. Jakarta: IDAI. Tersedia dari: https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun
- Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Satgas Imunisasi Dewasa. Jadwal Imunisasi Dewasa. Jakarta: PAPDI. Tersedia dari: https://satgasimunisasipapdi.com/jadwal-imunisasi-dewasa/
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book) — Chapter 7: Diphtheria. Atlanta: CDC. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-7-diphtheria.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book) — Chapter 21: Tetanus. Atlanta: CDC. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-21-tetanus.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book) — Chapter 16: Pertussis. Atlanta: CDC. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-16-pertussis.html
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Provider FAQ: Tetanus, Diphtheria, and Pertussis. Washington, DC: ACOG. Tersedia dari: https://www.acog.org/clinical-information/physician-faqs/tetanus-diphtheria-and-pertussis
- World Health Organization (WHO). Pertussis Vaccines: WHO Position Paper – August 2015. Weekly Epidemiological Record. 2015;90(35):433–460. Tersedia dari: https://www.who.int/publications/i/item/WHO-WER9035
- World Health Organization (WHO). Diphtheria Vaccines: WHO Position Paper – August 2017. Weekly Epidemiological Record. 2017;92(31):417–436. Tersedia dari: https://www.who.int/publications/i/item/diphtheria-vaccines-who-position-paper-august-2017

