Dot Grid

Berita

Peran Dokter Anak dalam Menjaga Kesehatan Gigi Anak

 Peran Dokter Anak dalam Menjaga Kesehatan Gigi Anak

Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut merupakan komponen penting dari kesehatan umum anak. Meskipun akses terhadap layanan gigi meningkat di berbagai negara, karies gigi tetap menjadi penyakit kronis paling umum pada anak-anak. Di Amerika Serikat, lebih dari 45% anak usia 2–19 tahun mengalami karies, dan hampir 25% anak di bawah usia 5 tahun memiliki gigi berlubang yang tidak diobati. (1) Di Indonesia, prevalensinya lebih tinggi akibat rendahnya kesadaran kebersihan gigi dan keterbatasan akses terhadap layanan kedokteran gigi anak.

Karies disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demineralisasi dan remineralisasi enamel akibat aktivitas bakteri Streptococcus mutans yang memfermentasi gula menjadi asam. (2) Faktor risiko utama meliputi konsumsi gula berlebihan, kebersihan gigi yang buruk, paparan fluoride yang tidak adekuat, serta transmisi bakteri dari ibu ke anak. (1) Karena dokter anak lebih sering berinteraksi dengan pasien dibanding dokter gigi, mereka berperan penting dalam skrining risiko, edukasi, dan intervensi preventif sejak dini. (1,2)


Upaya Menjaga Kesehatan Gigi Anak


1. Skrining Dini dan Penilaian Risiko (Early Childhood Caries Disease,)

Dokter anak dianjurkan melakukan skrining risiko karies sejak usia 6 bulan, bersamaan dengan erupsi gigi pertama. (2) Skrining dapat menggunakan AAP Oral Health Risk Assessment Tool, yang menilai faktor seperti konsumsi gula, riwayat karies keluarga, kebiasaan tidur dengan botol, serta paparan air berfluorida. (1)

Anak dengan risiko tinggi perlu dirujuk ke dokter gigi anak untuk membentuk dental home sebelum usia 12 bulan. Pendekatan ini memungkinkan intervensi preventif sebelum terbentuk kavitas, seperti pemberian fluoride varnish dan edukasi tentang kebersihan gigi keluarga. (2)



2. Teknik Menyikat Gigi 

Penyikatan gigi harus dimulai segera setelah gigi pertama tumbuh, menggunakan sikat gigi lembut dengan kepala kecil dan bulu halus. (1) Untuk anak di bawah 3 tahun, gunakan pasta gigi berfluorida seukuran butir beras, sedangkan anak usia 3–6 tahun menggunakan seukuran kacang polong. (3) Menyikat gigi dilakukan dua kali sehari — setelah sarapan dan sebelum tidur.

Supervisi penuh oleh orang tua diperlukan hingga anak berusia sekitar 10 tahun, karena kemampuan motorik halus belum sempurna. (1) Orang tua juga harus menjadi model perilaku dengan menyikat gigi bersama anak, menghindari berbagi alat makan, dan menjaga kebersihan mulutnya sendiri. (2)


3. Fluoride: Dosis dan Cara Pemberian

Fluoride merupakan agen utama dalam pencegahan karies dengan tiga mekanisme utama: menghambat demineralisasi, meningkatkan remineralisasi, dan menghambat enzim bakteri. (3)

Sumber fluoride meliputi air minum berfluorida (ideal 0,7 ppm), pasta gigi, suplemen oral, dan aplikasi profesional seperti fluoride varnish. (1,3) AAP merekomendasikan aplikasi fluoride varnish pada setiap anak sejak erupsi gigi pertama, dilakukan dua hingga empat kali per tahun. (3)


4. Flossing, Kunjungan ke Dokter Gigi, dan Pencegahan Trauma

Flossing dimulai ketika dua gigi sudah saling bersentuhan, umumnya sekitar usia 2–3 tahun. (2) Orang tua harus membantu flossing hingga anak mampu melakukannya sendiri.

AAP dan AAPD merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi pada usia 12 bulan atau dalam 6 bulan setelah erupsi gigi pertama. (1,2) Kunjungan rutin tiap enam bulan bertujuan memantau pertumbuhan rahang, kebersihan mulut, serta deteksi dini maloklusi atau lesi karies.

Pencegahan trauma gigi juga krusial: orang tua perlu melindungi anak dari risiko cedera orofasial dengan memasang pelindung pada sudut meja, menggunakan kursi mobil sesuai usia, dan mendorong penggunaan mouthguard saat berolahraga. (1)



5. Edukasi Orang Tua dan Anak

Edukasi kepada orang tua merupakan kunci utama keberhasilan pencegahan. Dokter anak harus menekankan bahwa pencegahan dimulai di rumah. (1) Untuk anak sehat, orang tua perlu memastikan rutinitas menyikat gigi dua kali sehari, membatasi asupan makanan dan minuman manis, menghindari tidur sambil minum susu, dan memperkenalkan air putih sebagai minuman utama.

Pada anak dengan kondisi medis tertentu — seperti penyakit jantung bawaan, diabetes, atau asma kronik — kebersihan gigi menjadi lebih penting karena infeksi gigi dapat memperburuk penyakit sistemik. (2) Orang tua juga perlu diberi tahu mengenai tanda-tanda awal infeksi mulut seperti gusi berdarah, nyeri mengunyah, atau bau mulut.

Selain itu, edukasi harus mencakup kebiasaan orang tua sendiri: tidak membersihkan dot dengan mulut, tidak berbagi sendok makan, serta menggunakan permen xylitol untuk mengurangi transmisi Streptococcus mutans. (2) Edukasi berbasis perilaku seperti program Brush, Book, Bed juga dapat membantu menanamkan kebiasaan sehat pada keluarga. (1)

Kolaborasi lintas profesi memperluas cakupan pelayanan, khususnya bagi anak di daerah dengan akses terbatas ke dokter gigi. Dokter anak dapat menerapkan aplikasi fluoride varnish di klinik, melakukan rujukan langsung, dan berpartisipasi dalam kampanye kesehatan mulut berbasis komunitas. (3) Pendekatan multidisiplin ini akan memperkuat upaya pencegahan penyakit gigi pada populasi anak Indonesia.


Kesimpulan dan Penutup

Kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesejahteraan anak secara keseluruhan. Karies gigi dapat dicegah sepenuhnya melalui kombinasi edukasi, skrining dini, penggunaan fluoride, serta kolaborasi antara dokter anak, dokter gigi, dan orang tua.

Sebagai lini pertama dalam pelayanan kesehatan anak, dokter anak perlu memandang kesehatan gigi bukan sebagai ranah tersendiri, melainkan bagian dari tumbuh kembang dan pencegahan penyakit kronik pada anak. Melalui langkah kecil namun konsisten — dari skrining risiko hingga edukasi keluarga — dokter anak dapat berkontribusi signifikan dalam menurunkan prevalensi karies dan meningkatkan kualitas hidup anak Indonesia.



Daftar Pustaka

  1. Krol DM, Whelan K. Maintaining and Improving the Oral Health of Young Children. Pediatrics. 2023;151(1):e2022060417.
  2. American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on Infant Oral Health Care. Pediatr Dent. 2012;34(special issue):47–100.
  3. Clark MB, Keels MA, Slayton RL. Fluoride Use in Caries Prevention in the Primary Care Setting. Pediatrics. 2020;146(6):e2020034637.





Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan