Dot Grid

Berita

​Peran C-Peptide dalam Diagnostic Workup Pasien Diabetes pada Anak

​Peran C-Peptide dalam Diagnostic Workup Pasien Diabetes pada Anak

Latar Belakang

C-peptide merupakan komponen penting dalam biosintesis insulin endogen yang dalam beberapa dekade terakhir semakin mendapat perhatian dalam evaluasi dan klasifikasi diabetes. Pada praktik klinis sehari-hari, terutama pada populasi anak dan remaja, penegakan diagnosis tipe diabetes sering kali menghadapi tantangan karena adanya tumpang tindih karakteristik klinis antara diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2. Kondisi ini semakin kompleks dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan diabetes tipe 2 pada usia anak. Dalam konteks tersebut, pemeriksaan C-peptide berperan sebagai penanda sekresi insulin endogen yang dapat membantu dokter anak dalam proses diagnostic workup, perencanaan terapi, serta penilaian prognosis jangka panjang. (2)


Definisi, Struktur, dan Mekanisme Sekresi C-Peptide

C-peptide atau connecting peptide adalah rantai peptida pendek yang menghubungkan rantai A dan B pada molekul proinsulin. Secara biokimia, proinsulin disintesis di sel beta pankreas dan kemudian diproses menjadi insulin aktif dan C-peptide dalam jumlah molar yang ekuivalen. Setelah dilepaskan ke sirkulasi, insulin dan C-peptide memiliki karakteristik farmakokinetik yang berbeda. Insulin mengalami metabolisme lintas pertama di hati, sedangkan C-peptide tidak mengalami metabolisme hepatik yang signifikan dan memiliki waktu paruh yang lebih panjang. Oleh karena itu, kadar C-peptide dalam darah dianggap sebagai refleksi yang lebih stabil dari sekresi insulin endogen dibandingkan kadar insulin itu sendiri. Alih-alih mengukur insulin secara langsung, C-peptide dipilih sebagai penanda fungsi sel beta pankreas karena karakteristik farmakokinetiknya yang lebih stabil. Insulin memiliki waktu paruh yang sangat singkat dan mengalami metabolisme lintas pertama di hati dalam jumlah besar, sehingga kadar insulin sirkulasi dapat berfluktuasi tajam dalam waktu singkat dan kurang merefleksikan sekresi endogen yang sebenarnya. Waktu paruh C-peptide mencapai 20-30 menit, jauh lebih lama dari insulin yang hanya 2-3 menit. Oleh karena itu, pengukuran C-peptide memberikan estimasi fungsi sel beta yang lebih konsisten, dapat direproduksi, dan lebih andal dibandingkan pengukuran insulin langsung. (3)


Indikasi Pemeriksaan C-Peptide pada Pasien Diabetes Anak

Pemeriksaan C-peptide memiliki peran utama dalam membedakan diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2, terutama pada pasien dengan gambaran klinis yang tidak khas. Pada diabetes tipe 1, destruksi autoimun sel beta pankreas menyebabkan penurunan progresif hingga hilangnya sekresi insulin endogen, yang tercermin dari kadar C-peptide yang rendah atau tidak terdeteksi. Sebaliknya, pada diabetes tipe 2, terutama pada fase awal, kadar C-peptide umumnya masih terjaga atau bahkan meningkat sebagai respons terhadap resistensi insulin. Studi menunjukkan bahwa C-peptide memiliki potensi prediktif yang baik dalam membedakan diabetes tipe 1 dan tipe 2, termasuk pada populasi rawat jalan dengan karakteristik klinis yang heterogen. (1)

Selain klasifikasi tipe diabetes, C-peptide juga bermanfaat dalam menilai sisa fungsi sel beta pada anak dengan diabetes tipe 1. Keberadaan sekresi insulin residu, meskipun minimal, telah dikaitkan dengan kontrol glikemik yang lebih baik, risiko hipoglikemia yang lebih rendah, serta penurunan risiko komplikasi mikrovaskular jangka panjang. Oleh karena itu, C-peptide dapat memberikan informasi prognostik yang relevan dalam tatalaksana jangka panjang pasien diabetes anak. (2)


Sensitivitas, Spesifisitas, dan Pertimbangan Pemeriksaan

Nilai diagnostik C-peptide dipengaruhi oleh metode pemeriksaan, kondisi puasa atau stimulasi, serta durasi penyakit. Pemeriksaan C-peptide puasa maupun pascastimulasi, misalnya setelah mixed-meal tolerance test, dapat digunakan untuk menilai kapasitas sekresi insulin. Sebuah studi retrospektif menunjukkan bahwa kadar C-peptide yang sangat rendah (≤0.16 nmol/L ) memiliki sensitivitas sebanyak 92.9% dan spesifisitas sebanyak 97,6%. Namun demikian, tidak terdapat satu titik potong universal yang sepenuhnya memisahkan kedua tipe diabetes, sehingga interpretasi hasil harus selalu dikaitkan dengan konteks klinis dan pemeriksaan penunjang lainnya. (2)

Pada anak, pemeriksaan C-peptide tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin untuk semua pasien diabetes. Indikasinya lebih selektif, terutama pada kasus dengan ketidakpastian diagnosis, fenotipe atipikal, atau kebutuhan penilaian fungsi sel beta residual. Ketersediaan pemeriksaan C-peptide di Indonesia masih terbatas pada fasilitas laboratorium tertentu, namun secara global pemeriksaan ini telah menjadi bagian dari praktik klinis standar di banyak negara. Di Amerika Serikat, misalnya, kadar C-peptide digunakan sebagai salah satu kriteria untuk menentukan kelayakan pasien dalam klaim penggunaan insulin pump, dengan tujuan memastikan adanya atau tidaknya sekresi insulin endogen yang bermakna. (2)


Kesimpulan

C-peptide merupakan biomarker penting yang mencerminkan sekresi insulin endogen dan memiliki peran signifikan dalam diagnostic workup pasien diabetes pada anak. Pemeriksaan ini membantu membedakan diabetes tipe 1 dan tipe 2, menilai sisa fungsi sel beta, serta memberikan informasi prognostik yang bernilai klinis. Meskipun tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada semua pasien, penggunaan C-peptide secara selektif dan terarah dapat mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat. Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman yang baik mengenai peran dan keterbatasan C-peptide sangat penting untuk optimalisasi diagnosis dan tatalaksana diabetes pada populasi pediatrik.



Daftar Pustaka

  1. Iqbal S, Jayyab AA, Alrashdi AM, Shujauddin S, Clua-Espuny JL, Reverté-Villarroya S. The predictive potential of C-peptide in differentiating type 1 diabetes from type 2 diabetes in an outpatient population in Abu Dhabi. Clin Ther. 2024;46(9):696-701.
  2. Leighton E, Sainsbury CA, Jones GC. A practical review of C-peptide testing in diabetes. Diabetes Ther. 2017;8(3):475-487.
  3. Venugopal SK, Mowery ML, Jialal I. Biochemistry, C-peptide. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025.



Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan