Berita
Penurunan Kematian Anak Melambat: 4,9 Juta Anak Meninggal Sebelum Usia Lima Tahun Menurut Laporan Terbaru PBB

Latar Belakang
Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa kemajuan global dalam menurunkan angka kematian anak mengalami perlambatan, dengan sekitar 4,9 juta anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun pada tahun terakhir pelaporan. Angka ini mencerminkan stagnasi setelah dekade sebelumnya menunjukkan penurunan yang signifikan, dan menegaskan bahwa upaya global belum cukup untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) terkait kesehatan anak. (1,2)
Penyebab Kematian Anak Tersering
Sebagian besar kematian terjadi pada periode neonatal, yang menyumbang hampir setengah dari seluruh kematian balita. Penyebab utama kematian pada kelompok ini meliputi komplikasi prematuritas, asfiksia lahir, dan infeksi neonatal seperti sepsis. Sementara itu, pada kelompok usia post-neonatal hingga balita, penyebab utama bergeser ke penyakit infeksi yang sebenarnya dapat dicegah, seperti pneumonia, diare, dan malaria, serta malnutrisi yang menjadi faktor predisposisi utama terhadap mortalitas. (1,2)
Pada anak usia lebih tua, termasuk kelompok usia 5–24 tahun, profil penyebab kematian menunjukkan pergeseran dari penyakit infeksi ke cedera dan kondisi non-komunikabel. Cedera lalu lintas, kekerasan, serta masalah kesehatan mental seperti bunuh diri menjadi penyebab utama kematian pada remaja. Selain itu, terdapat perbedaan pola kematian antara laki-laki dan perempuan, di mana anak laki-laki cenderung memiliki risiko kematian lebih tinggi pada sebagian besar kelompok usia, terutama terkait cedera dan faktor perilaku. (2)
Daerah yang Memiliki Angka Kematian Anak Paling Tinggi
Distribusi kematian anak secara global menunjukkan ketimpangan yang signifikan. Sebagian besar kematian balita terjadi di wilayah Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan, yang menyumbang proporsi terbesar dari beban global. Negara-negara dengan sistem kesehatan yang lemah, akses terbatas terhadap layanan kesehatan maternal dan neonatal, serta tingginya angka kemiskinan menjadi wilayah dengan risiko tertinggi. Selain itu, daerah dengan konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan mengalami peningkatan kerentanan, di mana gangguan terhadap layanan kesehatan dasar, imunisasi, dan nutrisi memperburuk risiko kematian anak. (1,2)
Kesimpulan dan Penutup
Perlambatan penurunan angka kematian anak secara global merupakan sinyal penting bahwa intervensi yang ada belum cukup menjangkau populasi yang paling rentan. Mayoritas kematian masih disebabkan oleh kondisi yang dapat dicegah dan diobati, menunjukkan adanya kesenjangan dalam akses dan kualitas layanan kesehatan. Dalam konteks global maupun nasional, pencapaian target penurunan kematian anak memerlukan komitmen lintas sektor dan adaptasi strategi berbasis konteks lokal, agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan hidup dan tumbuh secara optimal.
Untuk mempercepat penurunan kematian anak, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menjadikan kesehatan anak sebagai prioritas utama, baik dari sisi kebijakan maupun pembiayaan. Intervensi harus difokuskan pada kelompok paling berisiko, terutama ibu dan anak di wilayah dengan beban tinggi serta daerah konflik atau sistem kesehatan yang rapuh. Selain itu, penguatan sistem akuntabilitas melalui pencatatan dan pelaporan yang transparan menjadi kunci untuk memastikan implementasi berjalan efektif. Upaya ini perlu didukung dengan investasi berkelanjutan pada layanan kesehatan primer, termasuk peran tenaga kesehatan komunitas dan peningkatan kualitas pelayanan persalinan, agar pencegahan, deteksi, dan tata laksana penyebab utama kematian anak dapat dilakukan secara optimal.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Progress in reducing child deaths slows as 4.9 million children die before age five. 2026
- United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation (UN IGME). Levels and trends in child mortality 2025. UNICEF. 2025

