Berita
Pendekatan Lima Pilar dalam Tata Laksana Dermatitis Atopik pada Anak

Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit inflamasi kronik kulit yang ditandai oleh gangguan fungsi sawar kulit, inflamasi, serta disregulasi imun yang kompleks. Penyakit ini umumnya muncul sejak usia dini dan merupakan salah satu kondisi dermatologis tersering pada populasi anak, dengan prevalensi global mencapai 10–20%. (1)
Manifestasi utama dermatitis atopik adalah pruritus kronik yang disertai lesi kulit berupa eritema, papul, vesikel, hingga likenifikasi pada fase kronik. Distribusi lesi bersifat khas sesuai usia, dengan keterlibatan wajah dan area fleksural pada anak. Rasa gatal yang persisten memicu siklus gatal–garuk yang memperburuk inflamasi serta memperparah kerusakan sawar kulit.(1)
Pendekatan tata laksana dermatitis atopik bersifat komprehensif, bertujuan mengontrol gejala, mencegah eksaserbasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Strategi ini dikenal dengan pendekatan lima pilar yang harus diterapkan secara simultan. Berikut adalah penjelasan tiap pilar tata laksana berdasarkan Panduan Diagnosis dan Tata Laksana Dermatitis Atopik pada Anak dan Dewasa di Indonesia yang diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), yang dikembangkan melalui kolaborasi multidisiplin bersama Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI), Kelompok Studi Imunodermatologi dan Dermatosis Akibat Kerja (KSIDAK), serta Unit Kelompok Kerja Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (1)
Pendekatan Lima Pilar Tata Laksana Dermatitis Atopik
1. Edukasi
Edukasi merupakan dasar utama dalam tata laksana dermatitis atopik. Orang tua dan pasien perlu memahami bahwa DA bersifat kronik dengan pola relaps-remisi sehingga membutuhkan perawatan jangka panjang dan konsistensi terapi. Edukasi juga mencakup perawatan kulit sehari-hari yang tepat.(1)
Dalam aspek perawatan kulit, mandi memiliki peran penting untuk menghilangkan kotoran, alergen, debu, dan mikroorganisme dari permukaan kulit. Mandi dianjurkan 1–2 kali sehari menggunakan air hangat kuku dengan suhu sekitar 36–37°C selama 5–10 menit, yang merupakan suhu optimal untuk membantu pemulihan sawar kulit. Sabun yang digunakan sebaiknya bersifat hipoalergenik, non-iritan, berupa non-soap cleanser (syndet) dengan pH 5,5–6, mengandung pelembap, serta bebas pewangi dan pewarna. Penggunaan antiseptik seperti klorheksidin, triklosan, dan kalium permanganat tidak direkomendasikan. Setelah mandi, kulit dikeringkan dengan handuk lembut dengan cara ditepuk, bukan digosok. (1)
Pelembap perlu diaplikasikan segera dalam waktu maksimal tiga menit setelah mandi saat kulit masih lembap, minimal dua kali sehari secara konsisten. Jumlah dan frekuensi aplikasi berperan penting dalam mempertahankan hidrasi kulit. (1)
Fotoproteksi juga merupakan bagian dari edukasi penting. Penggunaan tabir surya spektrum luas dengan SPF ≥30 dan PA++ dianjurkan, terutama yang mengandung filter fisik seperti titanium dioksida atau zinc oksida, atau kombinasi dengan filter kimia. Pemilihan tabir surya yang mengandung pelembap tambahan seperti dekspantenol atau vitamin E dapat memberikan manfaat tambahan, dan penggunaan rutin tidak terbukti menurunkan kadar vitamin D. (1)
Dalam pemilihan pakaian, pasien dianjurkan menggunakan bahan ringan, lembut, dan menyerap keringat seperti katun, serta menghindari bahan iritan seperti wol atau nilon. Pakaian sebaiknya tidak ketat, label pakaian dilepas untuk menghindari gesekan, dan seluruh pakaian baru perlu dicuci sebelum digunakan. Penggunaan deterjen cair tanpa pewangi dengan pembilasan optimal juga dianjurkan untuk menghindari residu yang dapat mengiritasi kulit. (1)
2. Identifikasi dan Penghindaran Faktor Pencetus serta Modifikasi Gaya Hidup
Faktor pencetus seperti iritan, alergen lingkungan, suhu ekstrem, dan stres psikologis berperan dalam eksaserbasi dermatitis atopik. memiliki peran penting dalam eksaserbasi dermatitis atopik, sehingga identifikasi yang tepat menjadi kunci dalam pencegahan kekambuhan. Pendekatan utama tetap berbasis klinis melalui anamnesis yang cermat, terutama untuk menilai apakah terdapat hubungan temporal yang konsisten antara pajanan tertentu dengan munculnya gejala, serta adanya riwayat reaksi berulang setelah paparan yang sama.(1)
Pemeriksaan penunjang tidak rutin diperlukan untuk menegakkan diagnosis dermatitis atopik, namun dapat dipertimbangkan untuk membantu mengidentifikasi faktor pencetus atau menyingkirkan diagnosis banding. Pemeriksaan seperti uji tusuk kulit atau IgE spesifik dapat digunakan untuk menilai sensitisasi terhadap alergen makanan maupun hirup. Namun, hasil positif hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu bermakna alergi klinis, sehingga interpretasi harus selalu dikaitkan dengan gambaran klinis dan riwayat paparan. (1)
Modifikasi gaya hidup termasuk menjaga kelembapan lingkungan dan menghindari keringat berlebih merupakan bagian integral dari pencegahan kekambuhan. (1)
3. Memperbaiki, Mempertahankan, dan Memulihkan Fungsi Sawar Kulit dengan Pelembap
Disfungsi sawar kulit merupakan komponen utama dalam patogenesis dermatitis atopik, yang ditandai dengan peningkatan transepidermal water loss serta penurunan kandungan lipid epidermal, khususnya ceramide. Oleh karena itu, penggunaan pelembap merupakan terapi dasar yang esensial dan harus diberikan secara rutin, baik pada fase akut maupun saat remisi. (1)
Pelembap bekerja melalui beberapa mekanisme, yaitu meningkatkan hidrasi stratum korneum, memperbaiki integritas sawar kulit, serta mengurangi penetrasi alergen dan iritan. Secara umum, pelembap dapat diklasifikasikan berdasarkan komponen utamanya menjadi humektan, emolien, dan oklusif. Humektan seperti gliserin, urea, dan asam laktat berfungsi menarik air ke dalam stratum korneum. Emolien seperti ceramide, kolesterol, dan asam lemak berperan dalam mengisi celah antar sel dan memperbaiki struktur lipid kulit. Sementara itu, agen oklusif seperti petrolatum dan dimetikon membentuk lapisan pelindung yang mengurangi kehilangan air dari permukaan kulit.(1)
Pada pasien anak dengan dermatitis atopik, pemilihan pelembap harus mempertimbangkan keamanan, tolerabilitas, serta kemampuan memperbaiki sawar kulit. Pelembap yang mengandung ceramide direkomendasikan karena dapat menggantikan defisiensi lipid epidermal yang khas pada DA. Formulasi krim atau salep umumnya lebih efektif dibandingkan lotion karena memiliki kemampuan oklusif yang lebih baik, terutama pada kulit yang sangat kering. (1)
Aplikasi pelembap harus dilakukan secara adekuat dan konsisten, minimal dua kali sehari, serta segera setelah mandi saat kulit masih lembap untuk mengoptimalkan hidrasi. Jumlah yang digunakan harus cukup untuk menutupi seluruh permukaan kulit, tidak hanya pada area lesi. Penggunaan pelembap secara rutin terbukti dapat mengurangi frekuensi eksaserbasi, memperpanjang periode remisi, serta menurunkan kebutuhan penggunaan kortikosteroid topikal. (1)
Selain itu, perlu dihindari pelembap yang mengandung pewangi, alkohol, atau bahan iritan lain yang dapat memperburuk kondisi kulit. Pemilihan produk yang tepat dan edukasi mengenai cara penggunaan yang benar menjadi bagian penting dalam keberhasilan terapi jangka panjang dermatitis atopik.(1)
4. Menghilangkan Inflamasi pada Kulit
Inflamasi kulit dikendalikan melalui penggunaan kortikosteroid topikal sebagai lini pertama, dengan potensi yang disesuaikan lokasi dan derajat keparahan. Inhibitor kalsineurin topikal dapat digunakan sebagai alternatif, terutama pada area sensitif. Pendekatan proactive therapy dapat diterapkan untuk mencegah kekambuhan pada area yang sering terkena. (1)
5. Mengendalikan dan Mengeliminasi Siklus Gatal–Garuk
Pruritus merupakan gejala dominan yang memperburuk kondisi melalui siklus gatal–garuk. Pengendalian dilakukan melalui optimalisasi terapi antiinflamasi, penggunaan pelembap, serta intervensi tambahan seperti antihistamin pada kondisi tertentu. Pendekatan perilaku juga diperlukan untuk meminimalkan trauma kulit akibat garukan. (1)
Kesimpulan
Dermatitis atopik pada anak memerlukan pendekatan tata laksana yang komprehensif dan berkelanjutan. Implementasi lima pilar utama, yaitu edukasi, penghindaran faktor pencetus, perbaikan sawar kulit, kontrol inflamasi, serta pengendalian siklus gatal–garuk, terbukti efektif dalam mengendalikan penyakit. Edukasi yang adekuat, khususnya terkait perawatan kulit sehari-hari, menjadi kunci dalam meningkatkan kepatuhan terapi dan kualitas hidup pasien.
Daftar Pustaka
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI). Panduan Diagnosis dan Tata Laksana Dermatitis Atopik pada Anak dan Dewasa di Indonesia. 2025. Tersedia di: https://perdoski.id/uploads/original/2025/02/perdoski-1738633831.pdf

