Berita
Pencemaran Sungai Cisadane di Tangerang Selatan: Apakah Berbahaya?

Latar Belakang
Pada tanggal 9 Februari 2026, Sungai Cisadane dilaporkan tercemar pestisida dalam kadar yang mengkhawatirkan. Temuan awal berasal dari hasil uji kualitas air yang menunjukkan kandungan residu pestisida melebihi baku mutu pada sejumlah titik pemantauan. Laporan media nasional menyebutkan bahwa cemaran diduga berasal dari limpasan aktivitas pertanian di wilayah hulu serta pembuangan limbah yang tidak terkelola dengan baik. (1)
Kejadian ini memicu respons cepat dari pemerintah daerah dan Kementerian Lingkungan Hidup serta instansi kesehatan setempat. Upaya yang dilakukan meliputi pengambilan sampel lanjutan, pembatasan sementara pemanfaatan air sungai, serta edukasi kepada masyarakat sekitar. Salah satu intervensi yang sempat menjadi perhatian publik adalah penuangan ecoenzym ke badan sungai sebagai upaya remediasi, meskipun para ahli lingkungan menekankan bahwa efektivitas metode tersebut terhadap pestisida sintetik belum memiliki dasar ilmiah yang kuat. (2)
Laporan investigatif juga menyoroti potensi dampak jangka panjang terhadap masyarakat yang bergantung pada sungai untuk kebutuhan domestik dan pertanian, termasuk risiko kontaminasi air baku. (3) Bagi dokter anak, situasi ini menuntut kewaspadaan klinis terhadap kemungkinan paparan pestisida pada populasi anak yang tinggal di sekitar daerah terdampak.
Dampak Potensial Pencemaran Pestisida terhadap Kesehatan Anak
Pestisida merupakan kelompok senyawa kimia yang secara luas digunakan untuk mengendalikan hama, dan berdasarkan klasifikasi baku dapat dibagi menjadi insektisida, herbisida, fungisida, dan rodentisida. Secara kimiawi, kelompok utama yang sering terdeteksi di lingkungan meliputi organofosfat, karbamat, organoklorin, piretroid, dan neonicotinoid. (4,5)
Paparan pestisida pada manusia dapat terjadi melalui konsumsi air minum terkontaminasi, inhalasi aerosol, maupun kontak kulit. Pada anak, risiko relatif lebih tinggi karena berat badan yang lebih kecil, sistem detoksifikasi yang belum matur, serta perilaku eksploratif (4)
Secara neurologis, organofosfat dan karbamat bekerja dengan menghambat asetilkolinesterase, menyebabkan akumulasi asetilkolin dan gejala kolinergik seperti hipersalivasi, bronkospasme, kejang, hingga gangguan kesadaran pada paparan akut. Paparan kronik dosis rendah telah dikaitkan dengan gangguan perkembangan neurokognitif dan perilaku. Literatur juga menunjukkan adanya hubungan antara pajanan jangka panjang dengan peningkatan risiko gangguan atensi dan penurunan fungsi eksekutif pada anak. (4)
Pada sistem respirasi, paparan pestisida tertentu berhubungan dengan peningkatan risiko asma dan gangguan fungsi paru. Mekanisme yang diusulkan melibatkan inflamasi saluran napas dan stres oksidatif. (4) Pada sistem endokrin, beberapa pestisida bersifat sebagai endocrine-disrupting chemicals yang dapat memengaruhi regulasi hormon tiroid dan reproduksi, dengan implikasi terhadap pertumbuhan dan pubertas. (4,5)
Sistem gastrointestinal dan hepatobilier juga bisa terdampak. Pajanan melalui air minum dapat menyebabkan mual, muntah, nyeri abdomen, dan diare pada paparan akut, serta potensi hepatotoksisitas pada paparan kronik. Studi tinjauan mengenai pestisida dalam air minum menekankan bahwa keberadaan residu kronik dalam konsentrasi rendah tetap memiliki implikasi kesehatan jangka panjang, terutama pada populasi rentan seperti anak dan ibu hamil. (5)
Selain itu, terdapat bukti yang mengaitkan paparan pestisida jangka panjang dengan peningkatan risiko gangguan hematologi dan kemungkinan efek karsinogenik pada beberapa senyawa tertentu. (4) Meskipun hubungan kausal pada populasi anak memerlukan penelitian lebih lanjut, pendekatan kehati-hatian tetap diperlukan dalam praktik klinis.
Dalam konteks Sungai Cisadane, potensi paparan dapat terjadi melalui penggunaan air sungai untuk mandi, mencuci, maupun sebagai sumber air baku yang tidak diolah secara optimal. Dokter anak perlu mempertimbangkan riwayat lingkungan sebagai bagian dari anamnesis pada pasien dengan gejala neurologis, respiratorik, atau gastrointestinal yang tidak dapat dijelaskan.
Kesimpulan dan Penutup
Anak merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak toksik pestisida, baik melalui mekanisme akut maupun kronik yang melibatkan sistem saraf, pernapasan, endokrin, dan organ vital lainnya.
Bagi dokter anak di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat untuk memperkuat pendekatan berbasis paparan lingkungan dalam evaluasi klinis, serta berperan aktif dalam edukasi keluarga mengenai keamanan air dan pencegahan paparan. Kolaborasi lintas sektor antara tenaga kesehatan, otoritas lingkungan, dan pembuat kebijakan menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap generasi mendatang.
Daftar Pustaka
- Detik News. Data dan angka di kasus Sungai Cisadane tercemar pestisida. Available from: https://news.detik.com/berita/d-8353838/data-dan-angka-di-kasus-sungai-cisadane-tercemar-pestisida
- Kompas Lestari. Ecoenzym dituang ke Sungai Cisadane atasi pestisida, ahli jelaskan dampaknya. Available from: https://lestari.kompas.com/read/2026/02/15/094922286/ecoenzym-dituang-ke-sungai-cisadane-atasi-pestisida-ahli-jelaskan-dampaknya
- BBC Indonesia. Laporan pencemaran Sungai Cisadane dan dampaknya bagi warga. Available from: https://www.bbc.com/indonesia/articles/ckg206mpz6no
- Shekhar C, Khosya R, Thakur K, Mahajan D, Kumar R, Kumar S, Sharma AK. A systematic review of pesticide exposure, associated risks, and long-term human health impacts. Toxicol Rep. 2024;13:101840.
- Syafrudin M, Kristanti RA, Yuniarto A, Hadibarata T, Rhee J, Al-Onazi WA, Algarni TS, Almarri AH, Al-Mohaimeed AM. Pesticides in drinking water – A review. Int J Environ Res Public Health. 2021;18(2):468.

