Berita
Pekan Penyakit Jantung Bawaan Sedunia 2026

Latar Belakang
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan struktural jantung yang terjadi sejak lahir dan hingga kini masih menjadi salah satu masalah kesehatan anak yang kerap luput dari sorotan publik. Meskipun secara epidemiologis PJB tergolong tidak terlalu sering dibandingkan penyakit infeksi atau gangguan gizi, dampaknya terhadap kualitas hidup anak dan keluarga sangat besar. Anak dengan PJB berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, keterbatasan aktivitas fisik, serta komplikasi medis jangka panjang yang memerlukan pemantauan dan intervensi berkelanjutan. Bagi keluarga, PJB sering kali membawa beban emosional, sosial, dan ekonomi yang signifikan, terutama bila diagnosis terlambat atau akses layanan kesehatan terbatas. (1)
Pekan Penyakit Jantung Bawaan Sedunia 2026, yang diperingati pada tanggal 7-14 Februari menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran tenaga kesehatan, khususnya dokter anak, terhadap pentingnya deteksi dini dan tata laksana komprehensif PJB. Di Indonesia, tantangan masih mencakup rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan skrining neonatal, serta kesenjangan akses layanan kardiologi anak di berbagai daerah. (1)
Ragam Penyakit Jantung Bawaan dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Secara klinis, PJB mencakup spektrum kelainan yang luas, mulai dari defek septum atrium dan ventrikel, hingga kelainan kompleks seperti tetralogi Fallot dan transposisi arteri besar. Secara patofisiologi, PJB dapat dibagi menjadi penyakit jantung bawaan sianotik dan non-sianotik, tergantung pada adanya shunt kanan–kiri yang menyebabkan hipoksemia sistemik. Penyakit jantung bawaan sianotik, meskipun jumlahnya lebih sedikit, sering memberikan manifestasi klinis yang lebih berat dan memerlukan intervensi dini. (3,4)
Bagi dokter anak, kewaspadaan terhadap tanda dan gejala awal PJB sangat penting. Murmur jantung patologis, takipnea, kesulitan menyusu, gagal tumbuh, hingga sianosis harus menjadi sinyal untuk evaluasi lebih lanjut. Selain manifestasi klinis, faktor risiko seperti riwayat keluarga, infeksi maternal tertentu, dan kondisi genetik juga perlu diperhatikan dalam proses penapisan dini. (3)
Upaya yang Telah Dilakukan
Berbagai inisiatif telah dilakukan untuk meningkatkan deteksi dan penanganan PJB di Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara aktif terlibat dalam edukasi tenaga kesehatan dan masyarakat, serta menyediakan layanan pemeriksaan jantung gratis bagi anak di beberapa daerah sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat. Program-program ini bertujuan menjaring kasus PJB lebih awal, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses layanan spesialistik. (2)
Di tingkat global, kemajuan dalam bidang diagnostik seperti ekokardiografi resolusi tinggi serta perkembangan teknik intervensi dan bedah jantung anak telah meningkatkan angka kelangsungan hidup penderita PJB secara signifikan. Saat ini, semakin banyak anak dengan PJB yang dapat bertahan hingga usia dewasa dengan kualitas hidup yang lebih baik, asalkan mendapatkan diagnosis dan tata laksana yang tepat waktu. (3)
Peran Dokter Anak dan Langkah yang Dapat Dilakukan
Dalam konteks Pekan Penyakit Jantung Bawaan Sedunia 2025, peran dokter anak menjadi sangat krusial. Dokter anak berada di garda terdepan dalam melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan fisik rutin dan pemantauan tumbuh kembang. Selain itu, edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya evaluasi lanjutan bila terdapat tanda kecurigaan PJB merupakan langkah kunci untuk mencegah keterlambatan diagnosis.
Kolaborasi lintas disiplin antara dokter anak, kardiolog anak, dan tenaga kesehatan lainnya juga perlu terus diperkuat. Upaya advokasi untuk memperluas akses skrining neonatal, termasuk pulse oximetry screening, dapat menjadi strategi efektif untuk mendeteksi PJB kritis sejak dini. Dukungan terhadap keluarga pasien, baik dari aspek psikososial maupun navigasi sistem layanan kesehatan, merupakan bagian integral dari perawatan holistik anak dengan PJB. (1,3)
Kesimpulan
Penyakit jantung bawaan masih menjadi tantangan kesehatan anak yang membutuhkan perhatian lebih besar, meskipun prevalensinya relatif rendah. Dampak jangka panjang PJB terhadap anak dan keluarga menegaskan pentingnya deteksi dini, tata laksana komprehensif, dan dukungan berkelanjutan. Pekan Penyakit Jantung Bawaan Sedunia 2025 menjadi pengingat bagi komunitas medis, khususnya dokter anak di Indonesia, untuk terus meningkatkan kewaspadaan, memperkuat kolaborasi, dan berperan aktif dalam upaya pencegahan keterlambatan diagnosis. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis bukti, diharapkan anak-anak dengan PJB dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dan masa depan yang lebih sehat.
Daftar Pustaka
- Radio Republik Indonesia. Penyakit jantung bawaan anak kerap luput dari perhatian. 2024.
- Antara News Bengkulu. IDAI sediakan layanan pemeriksaan jantung gratis bagi anak Bengkulu. 2024.
- Meng X, Song M, Zhang K, et al. Congenital heart disease: types, pathophysiology, diagnosis, and treatment options. MedComm (2020). 2024;5(7):e631.
- Ossa Galvis MM, Bhakta RT, Tarmahomed A, et al. Cyanotic heart disease. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025.

