Dot Grid

Berita

​MMRV Vaccination Jadi Sorotan dalam Upaya Mencegah KLB Campak Berikutnya di Indonesia

​MMRV Vaccination Jadi Sorotan dalam Upaya Mencegah KLB Campak Berikutnya di Indonesia

Di tengah meningkatnya kembali kasus campak di Indonesia, penguatan imunisasi anak kembali menjadi perhatian utama. Hal ini dibahas dalam sesi ilmiah bertajuk “MMR Vaccination: Preventing the Next Measles Outbreak Through Early MMRV Vaccination” yang disampaikan oleh Dr. dr. Rodman Tarigan Girsang, Sp.A, Subsp. TKPS(K), M.Kes. 

Dalam pemaparannya, dr. Rodman menegaskan bahwa campak bukan sekadar penyakit dengan gejala ruam yang akan sembuh sendiri, melainkan infeksi yang sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Materi juga menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian campak, seiring tingginya jumlah kasus dan cakupan imunisasi yang belum mencapai target kekebalan kelompok.

Paparan ini menggambarkan bahwa situasi campak di Indonesia masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Dalam materi disebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia untuk KLB campak berdasarkan data yang dirujuk dalam presentasi, sementara cakupan imunisasi MR1 pada 2024 tercatat 92% dan MR2 82,3%, masih di bawah target minimal 95% yang dibutuhkan untuk membentuk herd immunity.

Tidak hanya campak, sesi ini juga membahas beban penyakit lain yang dapat dicegah melalui imunisasi, yaitu gondongan, rubella, dan varisela. Keempat penyakit tersebut masih relevan dalam praktik klinis sehari-hari karena tetap ditemukan dan dapat menimbulkan komplikasi yang tidak ringan, terutama pada kelompok rentan.

Salah satu fokus utama sesi adalah pembahasan mengenai vaksin MMRV, yaitu vaksin kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap measles, mumps, rubella, dan varicella sekaligus. Dalam materi dijelaskan bahwa MMRV dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memberikan perlindungan yang lebih komprehensif sekaligus membantu mengurangi beban suntikan pada anak. Data yang dipaparkan juga menunjukkan bahwa vaksin ini memiliki efektivitas yang baik, respons imun yang tinggi, serta perlindungan jangka panjang dengan efek samping yang umumnya dapat ditoleransi.

Mengacu pada jadwal imunisasi IDAI 2024 yang turut dibahas dalam sesi tersebut, MMRV dapat diberikan sesuai usia dan kebutuhan, baik sebagai booster setelah MR/MMR maupun sebagai pilihan pada kondisi tertentu pada anak yang belum menerima vaksin sebelumnya. Materi juga menegaskan pentingnya pemberian dosis kedua untuk perlindungan yang lebih optimal, terutama dalam menurunkan risiko breakthrough varicella.

Selain aspek ilmiah vaksin, presentasi ini juga membahas tantangan implementasi imunisasi di lapangan. Beberapa alasan anak belum mendapatkan imunisasi antara lain kekhawatiran terhadap efek samping, tidak mendapat izin keluarga, anggapan bahwa imunisasi tidak penting, anak sedang sakit saat jadwal imunisasi, hingga faktor akses layanan. Karena itu, pengendalian campak tidak dapat hanya bertumpu pada ketersediaan vaksin, tetapi juga harus dibarengi dengan pendekatan komunikasi kesehatan yang tepat.

Dalam sesi ini ditekankan bahwa komunikasi kepada kelompok yang ragu terhadap imunisasi perlu dilakukan dengan pendekatan yang empatik, tidak menghakimi, transparan, dan berbasis dialog dua arah. Sementara itu, pada kelompok yang menolak imunisasi, strategi yang disarankan adalah pendekatan relasional jangka panjang, kolaborasi dengan tokoh yang dipercaya, serta fokus membangun kepercayaan, bukan sekadar memenangkan perdebatan.

Pemateri juga menyampaikan pentingnya meluruskan informasi yang keliru terkait vaksinasi. Salah satu poin yang dijelaskan adalah bahwa tidak terdapat bukti hubungan antara imunisasi MMR dengan autism spectrum disorder, sebagaimana dirujuk dalam materi presentasi. Hal ini penting untuk terus dikomunikasikan kepada masyarakat di tengah maraknya misinformasi yang dapat memengaruhi keputusan orang tua terkait imunisasi anak.

Sebagai penutup, sesi ini menegaskan bahwa pengendalian campak memerlukan upaya menyeluruh, mulai dari peningkatan cakupan vaksinasi hingga minimal 95%, penguatan surveilans, respons cepat terhadap KLB, penanganan misinformasi, serta edukasi yang konsisten kepada masyarakat. Pemberian imunisasi MMRV dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah infeksi campak dan penyakit terkait lainnya, khususnya di tengah risiko wabah yang masih nyata.

Melalui pemaparan ini, para peserta diajak kembali melihat bahwa imunisasi bukan hanya intervensi rutin, tetapi bagian penting dari perlindungan kesehatan anak secara menyeluruh. Di tengah tantangan cakupan yang belum optimal dan masih adanya keraguan terhadap vaksin, peran tenaga kesehatan dalam memberikan rekomendasi yang kuat, empatik, dan berbasis bukti menjadi semakin krusial.


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan