Berita
Menstrual Hygiene Day 2026: Mewujudkan Period Friendly World Dimulai dari Edukasi Sejak Remaja
28 Mei 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Menstruasi merupakan bagian normal dari pubertas dan kesehatan reproduksi perempuan. Namun, hingga saat ini, menstruasi masih sering dipenuhi stigma, rasa malu, dan berbagai mitos yang memengaruhi kesehatan fisik maupun psikososial anak dan remaja perempuan. (1) Karena itu, Menstrual Hygiene Day yang diperingati setiap 28 Mei hadir bukan sekadar sebagai kampanye kebersihan menstruasi, tetapi juga gerakan global untuk menciptakan “a Period Friendly World” — dunia yang lebih suportif, terbuka, dan aman bagi perempuan untuk membicarakan menstruasi tanpa stigma. (2)
Terdapat pengakuan yang semakin besar bahwa praktik menstrual hygiene management (MHM) berpengaruh terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan psikososial perempuan dan anak perempuan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Tantangan dalam mengelola menstruasi secara aman dan bermartabat dapat berdampak pada absensi sekolah, pembatasan aktivitas sosial, hingga hilangnya rasa percaya diri pada remaja perempuan. (1,3)
Di Indonesia, menstruasi masih sering dianggap sebagai topik sensitif yang tidak dibicarakan secara terbuka di rumah maupun sekolah. Laporan UNICEF mengenai menstrual hygiene management di Indonesia menunjukkan bahwa banyak anak perempuan memasuki masa menarke tanpa pemahaman yang cukup mengenai menstruasi. Sebagian remaja bahkan mengaku merasa takut atau mengira dirinya sakit ketika pertama kali mengalami haid karena kurangnya edukasi sebelumnya. (4)
Selain minim edukasi, berbagai mitos menstruasi juga masih diyakini di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa remaja perempuan percaya bahwa mereka tidak boleh mencuci rambut saat menstruasi karena dianggap dapat menyebabkan darah “naik ke kepala” atau memperburuk nyeri haid. Ada pula anggapan bahwa perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh mengonsumsi minuman dingin, telur, atau makanan tertentu karena dipercaya dapat menghambat aliran darah menstruasi. (4)
Mitos lain yang masih sering ditemukan adalah larangan berolahraga selama menstruasi, keyakinan bahwa menstruasi merupakan kondisi “kotor” sehingga pembalut harus disembunyikan, hingga kepercayaan bahwa perempuan yang sedang haid tidak boleh mengikuti aktivitas keagamaan atau sosial tertentu. Dalam beberapa komunitas, remaja perempuan juga diajarkan untuk tidak membicarakan menstruasi kepada laki-laki karena dianggap memalukan. Akibatnya, banyak anak perempuan tumbuh dengan persepsi negatif terhadap tubuh dan proses biologisnya sendiri. (4)
Stigma tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas hidup remaja. Banyak anak perempuan merasa cemas ketika menstruasi terjadi di sekolah karena takut diejek teman sebaya atau mengalami kebocoran pembalut. Sebagian memilih absen sekolah selama menstruasi akibat rasa malu atau keterbatasan fasilitas sanitasi yang memadai. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pendidikan, kesehatan mental, dan partisipasi sosial remaja perempuan. (1,4)
Penelitian kualitatif terbaru juga menunjukkan bahwa rasa malu dan stigma membuat banyak perempuan enggan membicarakan masalah menstruasi ataupun mencari pertolongan medis ketika mengalami gangguan haid. Menstruasi sering diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditoleransi diam-diam, termasuk ketika gejala yang dialami sebenarnya sudah mengganggu kualitas hidup sehari-hari. (3)
Di sinilah peran dokter anak menjadi sangat penting. Masa remaja merupakan periode transisi ketika anak mulai membentuk pemahaman mengenai tubuh, kesehatan reproduksi, dan identitas dirinya. Oleh karena itu, dokter anak tidak hanya berperan menangani penyakit, tetapi juga menjadi sumber informasi terpercaya mengenai pubertas dan kesehatan menstruasi. (5)
Artikel terbaru di Lancet Regional Health Americas menekankan bahwa kesehatan menstruasi perlu diintegrasikan ke dalam layanan primer pediatrik rutin. Menstruasi sebaiknya diperlakukan sebagai “vital sign” kesehatan remaja karena pola menstruasi dapat mencerminkan kondisi kesehatan umum, status hormonal, nutrisi, maupun kesejahteraan psikososial pasien. (5)
Pendekatan komunikasi yang empatik menjadi kunci penting. Banyak remaja perempuan merasa sungkan membicarakan menstruasi karena takut dianggap berlebihan atau memalukan. Dokter anak perlu menciptakan ruang konsultasi yang aman dan tidak menghakimi agar pasien dapat bertanya secara terbuka mengenai nyeri haid, siklus menstruasi, penggunaan pembalut, hingga perubahan emosional selama haid. Selain itu, edukasi kepada orang tua juga penting dilakukan agar keluarga tidak lagi mewariskan mitos menstruasi yang tidak berbasis bukti ilmiah. (5)
Menstrual Hygiene Day menjadi pengingat bahwa isu menstruasi bukan sekadar persoalan biologis, tetapi bagian dari hak anak dan remaja untuk memperoleh informasi kesehatan yang benar dan lingkungan yang suportif. Dengan edukasi yang konsisten, berbasis bukti, dan sensitif terhadap kebutuhan remaja, dokter anak dapat membantu memutus stigma menstruasi yang masih bertahan hingga kini dan mendukung terciptanya dunia yang lebih period friendly bagi generasi mendatang.
References
- Jaafar H, Ismail SY, Azzeri A. Period Poverty: A Neglected Public Health Issue. Korean J Fam Med. 2023;44(4):183-188.
- Menstrual Hygiene Day. A Period Friendly World. Available from: https://www.menstrualhygieneday.org/
- Minnal A, Zaidi MZ, Ashraf M, Khan A, Abdullah MA, Shaikh BT. Menstrual health hygiene, awareness, myths, and health-seeking behaviors among women: A qualitative study from a peri-urban settlement of Islamabad, Pakistan. J Public Health Res. 2025;14(4):22799036251399277.
- UNICEF Indonesia. Menstrual Hygiene Management in Indonesia. Available from: https://archive.ids.ac.uk/clts/sites/communityledtotalsanitation.org/files/MHM_Indonesia.pdf
- Sommer M, Fan L, Hill SV, Efuribe C, Bell DL, Master S. Incorporating menstrual health into routine pediatric primary care. Lancet Reg Health Am. 2024;32:100716.




