Berita
Kesiapan Anak untuk Naik Pesawat Terbang

Latar Belakang
Setiap tahun, diperkirakan satu miliar orang, termasuk banyak anak, melakukan perjalanan udara domestik maupun internasional. (1) Kabin pesawat komersial memiliki lingkungan fisiologis yang berbeda secara bermakna dari permukaan tanah, ditandai oleh penurunan tekanan barometrik, penurunan tekanan parsial oksigen, ekspansi volume udara, kelembapan udara yang rendah, imobilitas yang lama, serta resirkulasi udara dalam ruang tertutup. Perbedaan lingkungan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang unik, dan anak—terutama neonatus, bayi prematur, serta anak dengan penyakit kronis—memiliki kerentanan fisiologis tersendiri terhadap perubahan tersebut. Meskipun sebagian besar anak sehat dapat terbang dengan aman, dokter anak perlu memahami kapan seorang anak layak terbang serta hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum penerbangan, mengingat sebagian besar kegawatdaruratan medis pada anak selama penerbangan, yaitu sekitar 65%, merupakan eksaserbasi dari penyakit yang sudah ada sebelumnya. (2)
Lingkungan Kabin Pesawat
Pesawat komersial umumnya terbang pada ketinggian jelajah sekitar 11.000 hingga 13.000 meter, sehingga kabin dipressurisasi hingga setara ketinggian 2440 meter, atau sekitar 74% tekanan barometrik permukaan laut. (1,2) Pada kondisi ini, tekanan parsial oksigen menurun dari sekitar 160 mmHg menjadi 119 mmHg, setara dengan kadar oksigen 15% pada permukaan laut.Penurunan tekanan barometrik ini juga menyebabkan ekspansi volume gas hingga 138%, yang memengaruhi setiap rongga berisi udara dalam tubuh, termasuk telinga tengah, saluran cerna, dan rongga toraks maupun kranium bila terdapat udara yang terperangkap. (2) Faktor lingkungan lain yang turut berperan adalah kelembapan kabin yang rendah, imobilitas berkepanjangan, dan resirkulasi udara; meski demikian, filter udara pada pesawat modern mampu menyaring 99,9% bakteri dan virus, dan sirkulasi udara terjadi 15 hingga 20 kali per jam, jauh lebih sering dibandingkan ventilasi rumah maupun kantor. (4)
Masalah Kesehatan Anak Selama Penerbangan
Hipoksia merupakan perhatian utama, khususnya pada neonatus, bayi yang lahir prematur, serta anak dengan penyakit paru kronis, penyakit jantung sianotik, anemia, dan gangguan neuromuskular. (1,2) Studi pada anak sehat menunjukkan penurunan saturasi oksigen dari 98,5% praterbang menjadi 94,4% setelah tujuh jam penerbangan tanpa disertai gejala klinis, namun anak dengan kondisi kardiopulmonal yang mendasari berisiko lebih tinggi mengalami hipoksia bermakna. (4) Barotitis media, yaitu nyeri dan inflamasi telinga tengah akibat ketidakmampuan menyeimbangkan tekanan, dilaporkan terjadi pada sekitar 20-22% anak setelah penerbangan, dan faktor risiko utamanya adalah infeksi saluran napas atas yang baru terjadi. (2,4) Masalah lain yang dapat timbul meliputi eksaserbasi asma, peningkatan risiko kejang akibat kombinasi hipoksia, gangguan tidur, dan kelelahan pada anak dengan epilepsi, reaksi alergi makanan terutama terhadap kacang, mabuk perjalanan, gangguan perilaku pada anak dengan kondisi seperti gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas atau autisme, jet lag, serta risiko cedera akibat kurangnya penggunaan alat pengaman yang sesuai. (4) Risiko tromboemboli vena pada anak jauh lebih rendah dibandingkan dewasa, sehingga profilaksis rutin tidak diindikasikan pada populasi anak sehat. (2)
Rekomendasi Praktis
- Pastikan status imunisasi rutin anak telah lengkap sebelum penerbangan; konsultasi pra-perjalanan, khususnya jika akan melakukan perjalanan ke area dengan penyakit endemis tertentu. (3)
- Anak dengan otitis media akut sebaiknya menunda penerbangan selama dua minggu setelah diagnosis bila memungkinkan. (2,4)
- Dekongestan topikal sesuai usia dapat diberikan sebelum lepas landas dan mendarat untuk membantu ekualisasi tekanan telinga tengah. (2,4)
- Neonatus cukup bulan disarankan menunda penerbangan selama satu minggu pertama kehidupan. (2)
- Bayi prematur tanpa penyakit paru kronis umumnya layak terbang setelah usia koreksi tiga bulan, namun sebaiknya menunda penerbangan bila mengalami infeksi saluran napas bawah atau infeksi saluran napas atas yang bermakna hingga usia koreksi enam bulan. (2)
- Anak dengan anemia sebaiknya memiliki kadar hemoglobin minimal 8,5 g/dL sebelum terbang. (2)
- Pada anak dengan penyakit kardiopulmonal, penyakit sel sabit, atau riwayat kesulitan bernapas saat penerbangan sebelumnya, uji simulasi hipoksia ketinggian dapat dipertimbangkan untuk menentukan kebutuhan oksigen tambahan. (2)
- Anak sebaiknya tetap menggunakan alat pengaman anak yang disetujui otoritas penerbangan selama penerbangan; memangku anak di pangkuan bukan merupakan bentuk pengamanan yang memadai. (3,4)
- Dokter dapat membekali keluarga dengan surat keterangan medis yang mencantumkan kondisi anak, kebutuhan obat maupun peralatan medis, serta rencana penanganan kegawatdaruratan. (4)
Penanganan Nyeri Telinga Selama Penerbangan
- Dorong anak untuk menelan secara aktif saat lepas landas dan mendarat, karena gerakan menelan membantu membuka tuba eustachius dan menyeimbangkan tekanan telinga tengah. (2,4)
- Pada bayi, menyusui atau memberikan botol susu/dot saat fase naik dan turun ketinggian dapat merangsang gerakan menelan secara alami. (4)
- Pada anak yang lebih besar, mengunyah permen karet atau menguap dapat membantu proses ekualisasi tekanan. (4)
- Bila nyeri telinga tetap timbul, dekongestan topikal atau oral sesuai usia yang telah diberikan sebelum penerbangan dapat membantu mengurangi gejala. (2,4)
- Jika nyeri menetap atau memberat setelah mendarat, evaluasi lebih lanjut oleh dokter diperlukan untuk menyingkirkan barotitis media yang membutuhkan tata laksana lebih lanjut. (2,4)
Pertimbangan Khusus pada Anak dengan Diabetes
- Insulin dan obat lain yang sensitif suhu sebaiknya dibawa dalam tas kabin, bukan bagasi tercatat, untuk menghindari paparan suhu ekstrem di ruang bagasi pesawat. (3)
- Diperlukan penyesuaian jadwal pemberian insulin dan pemantauan glukosa darah bila penerbangan melintasi zona waktu, disesuaikan dengan rencana dari dokter yang merawat. (3)
- Persediaan camilan sumber karbohidrat cepat serta alat pemantau glukosa darah sebaiknya selalu tersedia di tas kabin untuk mengantisipasi hipoglikemia selama penerbangan. (3)
- Surat keterangan medis mengenai kondisi diabetes dan kebutuhan membawa alat suntik insulin/jarum dapat membantu proses pemeriksaan keamanan bandara. (3,4)
Pertimbangan Khusus pada Anak dengan Alergi Makanan
- Keluarga sebaiknya membawa obat darurat, termasuk autoinjektor epinefrin bila diresepkan, di dalam tas kabin yang mudah dijangkau. (4)
- Reaksi alergi terhadap kacang merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat timbul selama penerbangan akibat paparan alergen di ruang kabin tertutup. (4)
- Menginformasikan maskapai mengenai alergi makanan anak sebelum penerbangan dapat membantu meminimalkan risiko paparan alergen, misalnya terkait pemberian makanan di dalam pesawat. (4)
- Membawa tisu pembersih untuk membersihkan permukaan tempat duduk dan meja lipat dapat membantu mengurangi risiko kontak dengan sisa alergen. (4)
Tanda Kesiapan Anak untuk Terbang
Secara umum, anak dinyatakan siap untuk terbang apabila dalam kondisi klinis stabil, tidak demam, tidak memiliki infeksi telinga tengah maupun saluran napas akut yang belum tertangani, saturasi oksigen dalam batas normal saat istirahat, serta tidak dalam masa pemulihan pascaoperasi toraks atau kranial yang berisiko menyebabkan udara terperangkap. (2,4) Anak dengan penyakit kronis yang terkontrol dengan baik dan telah mendapat evaluasi dari dokter spesialis terkait umumnya dapat terbang dengan aman selama persiapan yang memadai dilakukan. (2)
Kesimpulan
Kabin pesawat menghadirkan lingkungan fisiologis unik yang dapat berdampak pada kesehatan anak, khususnya kelompok berisiko tinggi seperti neonatus, bayi prematur, dan anak dengan penyakit kronis. Dokter anak berperan penting dalam menilai kesiapan anak untuk terbang melalui evaluasi riwayat penyakit, status klinis terkini, serta pemberian edukasi antisipatif kepada orang tua mengenai potensi masalah kesehatan selama penerbangan. Dengan persiapan yang tepat, sebagian besar anak, termasuk yang memiliki kondisi kronis stabil, dapat melakukan perjalanan udara dengan aman.
Referensi
1. Air travel and children. Paediatr Child Health. 2007 Jan;12(1):51-63. doi: 10.1093/pch/12.1.51. PMID: 19030342; PMCID: PMC2528662.
2. Israëls J, Nagelkerke AF, Markhorst DG, van Heerde M. Fitness to fly in the paediatric population, how to assess and advice. Eur J Pediatr. 2018 May;177(5):633-639. doi: 10.1007/s00431-018-3119-9. Epub 2018 Feb 26. PMID: 29480461; PMCID: PMC5899119.
3. Weinberg M, Hickey PW. Traveling Safely with Infants and Children. 2025 Dec 8. In: Halsey ES, Angelo KM, Barnett ED, et al., editors. CDC Yellow Book, 2026 edition: Health Information for International Travel [Internet]. Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention (US); 2025 Apr 23. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK620983/
4. Air travel and children's health issues. Paediatr Child Health. 2007 Jan;12(1):45-59. doi: 10.1093/pch/12.1.45. PMID: 19030341

