Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Berita

​Kesadaran Rendah terhadap Diabetes Tipe 1: Tantangan Besar pada Anak di Indonesia

2 Juni 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

​Kesadaran Rendah terhadap Diabetes Tipe 1: Tantangan Besar pada Anak di Indonesia

Di media sosial, tidak jarang ditemukan video anak atau remaja dengan diabetes tipe 1 yang dibanjiri komentar seperti “jangan kebanyakan makan manis”, “harus rajin olahraga”, atau “kurangi gula nanti sembuh”. Respons tersebut tampak sederhana, tetapi sebenarnya menggambarkan masalah yang lebih besar: rendahnya kesadaran masyarakat mengenai perbedaan diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Banyak orang masih menganggap seluruh diabetes memiliki penyebab yang sama dan berkaitan langsung dengan pola makan semata. Padahal, diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun yang sangat berbeda secara etiologi maupun patofisiologi dibanding diabetes tipe 2. (1)

Rendahnya awareness terhadap diabetes tipe 1 masih menjadi tantangan besar di banyak negara berkembang, termasuk di Asia. Literatur dari India menunjukkan bahwa masyarakat umum, tenaga kesehatan primer, bahkan lingkungan sekolah masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai diabetes tipe 1 pada anak. Kondisi ini menyebabkan diagnosis sering terlambat dan banyak pasien pertama kali datang dalam keadaan diabetic ketoacidosis (DKA). (2)

Diabetes melitus tipe 1 merupakan penyakit autoimun kronik yang ditandai destruksi sel beta pankreas sehingga tubuh mengalami defisiensi insulin absolut. Proses ini terjadi akibat interaksi predisposisi genetik dan faktor lingkungan yang memicu respons autoimun terhadap pankreas. Akibat hilangnya produksi insulin, glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga terjadi hiperglikemia, peningkatan lipolisis, ketosis, dan pada kondisi berat berkembang menjadi ketoasidosis diabetik. (3)

Sebaliknya, diabetes tipe 2 terutama berkaitan dengan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin progresif. Pada diabetes tipe 2, insulin awalnya masih diproduksi, tetapi respons jaringan terhadap insulin menurun. Faktor risiko utamanya meliputi obesitas, pola makan tinggi kalori, kurang aktivitas fisik, dan predisposisi genetik. Karena itu, anjuran seperti pengaturan diet dan olahraga memang menjadi bagian utama tata laksana diabetes tipe 2, tetapi tidak dapat disamakan dengan diabetes tipe 1. (1,3)

Perbedaan mendasar inilah yang sering kali tidak dipahami masyarakat. Anak dengan diabetes tipe 1 tetap membutuhkan insulin meskipun sudah mengurangi konsumsi gula atau menjalani pola hidup sehat. Tanpa insulin, tubuh tidak mampu mempertahankan metabolisme normal dan pasien dapat mengalami ketoasidosis yang mengancam nyawa dalam waktu singkat. Sayangnya, stigma bahwa diabetes terjadi akibat “terlalu banyak makan manis” membuat sebagian pasien dan keluarga merasa disalahkan atas penyakit yang sebenarnya tidak mereka sebabkan. (1)

Stigma pada diabetes telah lama menjadi perhatian global. Pasien diabetes tipe 1 sering menghadapi kesalahpahaman sosial karena masyarakat lebih familiar dengan diabetes tipe 2. Akibatnya, anak dan keluarga dapat mengalami tekanan psikologis, rasa malu, bahkan kelelahan emosional akibat terus-menerus harus menjelaskan bahwa penyakit mereka bukan disebabkan pola hidup semata. (1)

Kurangnya pengetahuan mengenai diabetes tipe 1 juga berdampak langsung terhadap keterlambatan diagnosis. Gejala klasik seperti poliuria, polidipsia, penurunan berat badan, dan kelelahan sering tidak dikenali sejak awal. Tidak sedikit anak yang awalnya dianggap hanya mengalami infeksi biasa, gangguan lambung, atau kelelahan umum sebelum akhirnya datang ke rumah sakit dalam kondisi DKA. (2,3)

DKA masih menjadi salah satu komplikasi akut tersering pada diabetes tipe 1 anak dan berkaitan dengan mortalitas maupun morbiditas neurologis. Pada DKA terjadi defisiensi insulin berat yang menyebabkan hiperglikemia, ketosis, asidosis metabolik, dan dehidrasi berat. Kondisi ini memerlukan tata laksana emergensi dan dapat berkembang cepat bila diagnosis terlambat ditegakkan. (3)

Selain keterlambatan diagnosis, rendahnya awareness juga memengaruhi kehidupan sehari-hari pasien anak. Banyak sekolah dan lingkungan sosial belum memahami kebutuhan anak dengan diabetes tipe 1, termasuk pentingnya monitoring glukosa, pemberian insulin, serta pengenalan tanda hipoglikemia. Sebagian anak bahkan menghadapi diskriminasi atau pembatasan aktivitas karena dianggap “sakit kronis” yang berbahaya bagi lingkungan sekitar. (1)

Dalam konteks ini, dokter anak memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan literasi masyarakat mengenai diabetes tipe 1. Edukasi perlu menekankan bahwa diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun yang tidak dapat dicegah hanya dengan menghindari gula. Penyampaian informasi yang tepat juga penting agar masyarakat dapat mengenali gejala awal lebih cepat dan memahami bahwa insulin merupakan terapi esensial, bukan “pilihan terakhir”.

Meningkatkan awareness terhadap diabetes tipe 1 tidak hanya penting untuk mengurangi stigma, tetapi juga untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan komplikasi berat seperti DKA. Semakin cepat masyarakat mengenali gejala diabetes tipe 1 pada anak, semakin besar peluang untuk mencegah kondisi gawat darurat dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Pada akhirnya, pemahaman yang benar mengenai perbedaan diabetes tipe 1 dan tipe 2 menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi anak dan keluarga yang hidup dengan diabetes.


References

  1. Liu NF, Brown AS, Folias AE, Younge MF, Guzman SJ, Close KL, et al. Stigma in people with type 1 or type 2 diabetes. Clin Diabetes. 2017;35(1):27-34.
  2. Kumar KM, Saboo B, Rao PV, Sarda A, Viswanathan V, Kalra S, et al. Type 1 diabetes: Awareness, management and challenges: Current scenario in India. Indian J Endocrinol Metab. 2015;19(Suppl 1):S6-S8.
  3. Los E, Wilt AS. Type 1 diabetes in children. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441918/


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan