Berita
Kejang pada Anak: Mengenali Penyebab dan Pendekatan Diagnostik yang Sistematis

Latar Belakang
Tingkat misdiagnosis kejang pada anak diperkirakan mencapai sedikitnya 25%, sebagian akibat kegagalan mengenali episode kejang sebelumnya yang sebenarnya sudah terjadi namun belum dikenali keluarga. (1) Karena spektrum etiologi kejang begitu luas, diperlukan pendekatan evaluasi yang sistematis agar etiologi yang tepat dapat diidentifikasi dan misdiagnosis, khususnya kekeliruan antara kejang demam sederhana dengan kondisi yang mengancam jiwa seperti meningitis, dapat dihindari.
Definisi dan Klasifikasi Etiologi
Langkah pertama evaluasi klinis adalah memastikan apakah episode yang dilaporkan benar suatu kejang, mengingat berbagai kondisi non-epileptik seperti sinkop vasovagal atau breath-holding spells kerap menyerupainya. Jika terkonfirmasi kejang, pertanyaan berikutnya adalah apakah kejang tersebut terprovokasi atau tidak terprovokasi. (2)
Kejang tidak terprovokasi terjadi tanpa pencetus akut yang jelas dan mencerminkan kecenderungan intrinsik otak yang menetap untuk menghasilkan bangkitan kejang. Hal ini terjadi secara berulang pada epilepsi. Epilepsi secara definisi ditegakkan jika terdapat setidaknya dua kejang tidak terprovokasi yang terjadi lebih dari jeda 24 jam di antaranya. (2,3) Pembedaan ini menentukan arah investigasi dan tata laksana selanjutnya, termasuk perlu-tidaknya EEG dan terapi antikejang jangka panjang.
Kejang terprovokasi, atau acute symptomatic seizure, terjadi akibat pencetus akut yang jelas dan dapat diidentifikasi, seperti demam, gangguan elektrolit, hipoglikemia, infeksi susunan saraf pusat, cedera kepala, atau putus obat, sehingga risiko berulangnya menurun begitu pencetus tersebut teratasi. Sementara itu, Kejang demam, yang memengaruhi sekitar 3–5% seluruh anak, termasuk dalam kategori kejang provoked karena memiliki pencetus yang jelas, yaitu demam, dan didefinisikan sebagai kejang yang terjadi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun tanpa riwayat epilepsi, disertai demam, dan tanpa bukti infeksi intrakranial. Berdasarkan gambaran klinisnya, kejang demam terbagi menjadi dua kategori berikut.
Kejang demam sederhana: kejang bersifat umum (generalized), berlangsung kurang dari 15 menit, tidak berulang dalam 24 jam, dan anak kembali sadar penuh tanpa defisit neurologis pasca-kejang.
Kejang demam kompleks: kejang bersifat fokal atau umum yang didahului komponen fokal, berlangsung lebih dari 15 menit, berulang lebih dari satu kali dalam 24 jam, atau disertai kelainan neurologis pasca-iktal yang menetap sementara, seperti paresis Todd. (2)
Membedakan Kejang Demam dari Meningitis
Ketika seorang anak datang dengan kejang disertai demam, meningitis wajib dipertimbangkan sebagai diagnosis banding utama kejang demam, mengingat meningitis dapat bermanifestasi sebagai kejang pada sebagian kasus anak, sehingga etiologi sekunder yang mengancam jiwa ini harus disingkirkan lebih dahulu. Beberapa manifestasi klinis yang secara spesifik mengarahkan kecurigaan ke meningitis, dan bukan sekadar kejang demam, meliputi tanda rangsang meningeal (seperti kaku kuduk, Brudzinski, dan Kernig positif), penurunan kesadaran yang tidak membaik meski demam telah turun, fontanel menonjol pada bayi, fotofobia, muntah proyektil, iritabilitas berat yang sulit ditenangkan, defisit neurologis fokal yang menetap, serta papiledema pada pemeriksaan funduskopi. Riwayat pemberian antibiotik sebelum evaluasi juga perlu digali secara khusus, karena dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis yang seharusnya tampak. (5)
Pendekatan Diagnostik
Elektroensefalografi saat bangun maupun tidur dianjurkan pada setiap anak dengan kejang tidak terprovokasi pertama, dengan manuver tambahan seperti perekaman setelah deprivasi tidur, hiperventilasi, dan stimulasi fotik untuk meningkatkan hasil temuan. Pencitraan otak segera dibatasi pada kecurigaan proses intrakranial akut seperti stroke, infeksi, perdarahan, atau tumor, sedangkan pencitraan elektif dianjurkan pada kejang fokal onset baru dan kejang afebris onset baru sebelum usia 3 tahun; pencitraan tidak diindikasikan pada kejang demam sederhana. (2)
Terkait pungsi lumbal, Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI telah memperbarui rekomendasinya: pemeriksaan ini tidak lagi dilakukan rutin hanya berdasarkan usia semata, melainkan berdasarkan indikasi klinis, yaitu adanya tanda dan gejala rangsang meningeal, kecurigaan infeksi susunan saraf pusat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, atau riwayat pemberian antibiotik sebelumnya yang berpotensi mengaburkan tanda meningitis. (5) Pendekatan ini menggantikan rekomendasi berbasis usia pada konsensus sebelumnya (sangat dianjurkan pada usia kurang dari 12 bulan, dianjurkan pada 12–18 bulan, tidak rutin pada usia lebih dari 18 bulan), dan kini lebih selaras dengan pedoman American Academy of Pediatrics, yang juga menganjurkan pungsi lumbal pada kondisi imunosupresi, tanda klinis meningitis, kejang yang menetap, serta riwayat infeksi susunan saraf pusat sebelumnya. (4)
Edukasi Pasien dan Keluarga
Setelah etiologi ditemukan, edukasi keluarga menjadi elemen penting, karena hal ini juga menentukan kesuksesan tata laksana, khususnya ketika rawat jalan. Poin-poin yang perlu disampaikan ke orang tua mencakup pertolongan pertama saat kejang berlangsung dan strategi pencegahan berulang sesuai etiologi yang mendasari. Dokter juga perlu secara proaktif menjelaskan padanan istilah medis terhadap istilah lokal yang selama ini digunakan keluarga, yakni epilepsi untuk "ayan", kejang demam untuk "step", dan kejang secara umum untuk "sawan". Hal ini penting menegaskan kalau kejang dan penyebabnya merupakan masalah medis yang bisa ditangani, bukan hasil dari fenomena supranatural seperti kesurupan atau misinformasi lainnya. (1) Penyampaian istilah medis yang akurat, alih-alih membiarkan istilah awam yang sarat stigma terus digunakan, diharapkan dapat mengurangi rasa malu keluarga dalam mencari pertolongan.
Kesimpulan
Kejang pada anak merupakan kondisi dengan spektrum etiologi luas yang menuntut pembedaan cermat. Pendekatan diagnostik yang sistematis, berlandaskan anamnesis, pemeriksaan fisik yang cermat terhadap tanda rangsang meningeal, serta indikasi elektroensefalografi, pencitraan, dan pungsi lumbal yang tepat sesuai perkembangan pedoman klinis terkini, menjadi kunci menghindari misdiagnosis. Edukasi mengenai terminologi medis yang tepat kepada keluarga turut berperan penting dalam mengurangi stigma, baik yang berasal dari masyarakat maupun yang dipikirkan pasien sendiri, sehingga mendorong pencarian pertolongan medis secara dini.
Daftar Pustaka
- Fine A, Wirrell EC. Seizures in Children. Pediatr Rev. 2020 Jul;41(7):321-347. doi: 10.1542/pir.2019-0134.
- Lovik K, Murr NI. Seizure. [Updated 2023 Feb 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430765/
- Minardi C, Minacapelli R, Valastro P, Vasile F, Pitino S, Pavone P, Astuto M, Murabito P. Epilepsy in Children: From Diagnosis to Treatment with Focus on Emergency. J Clin Med. 2019 Jan 2;8(1):39. doi: 10.3390/jcm8010039. PMID: 30609770; PMCID: PMC6352402.
- Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2016.
- Natasya, Wati DL, Aztmardina Z. Stigma Epilepsi dari Masyarakat dan Orang Dengan Epilepsi. Neurona. 2023 Mar;40(2).

