Berita
Kejang pada Anak: Apa yang Harus Kita Sampaikan kepada Orang Tua dan Masyarakat?

Latar Belakang
Kejang merupakan salah satu kegawatdaruratan neurologis yang paling sering dijumpai pada populasi pediatri. Sebagai dokter anak, peran kita tidak hanya sebatas menegakkan diagnosis dan memberikan tata laksana definitif, tetapi juga menemukan etiologi yang mendasarinya dan mengeliminasi faktor pencetus. Namun, keberhasilan penanganan kejang, khususnya dalam hal mencegah komplikasi serius, sangat bergantung pada respons yang terjadi sebelum pasien tiba di fasilitas kesehatan. Di sinilah letak tantangan yang sesungguhnya.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dilakukan di kawasan Mediterania Timut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat awam mengenai pertolongan pertama pada kejang masih sangat terbatas, bahkan di kalangan yang telah memiliki anggota keluarga dengan epilepsi sekalipun. (1) Orang tua yang panik, guru yang bingung, bahkan anak yang lebih besar yang menyaksikan temannya membutuhkan informasi yang tepat, sederhana, dan dmudah dilakukan. Maka, tugas edukasi ini menjadi salah satu investasi terpenting yang dapat kita lakukan sebagai klinisi.
Mengenal Penyebab Kejang: Informasi Dasar untuk Masyarakat Awam
Kejang terjadi akibat aktivitas listrik yang abnormal di otak, yang menyebabkan perubahan sementara pada gerakan tubuh, kesadaran, sensasi, atau perilaku. (2) Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kejang bukanlah satu entitas tunggal—penyebabnya sangat beragam. Pada anak, penyebab tersering mencakup demam tinggi (kejang demam), epilepsi, infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis atau ensefalitis, gangguan metabolik termasuk hipoglikemia dan hiponatremia, cedera kepala, serta keracunan. Pemahaman umum ini penting agar orang tua tidak serta-merta menyimpulkan bahwa anak mereka menderita epilepsi hanya karena pernah mengalami kejang satu kali.
Klasifikasi Tipe Kejang Berdasarkan ILAE 2017
Pemahaman tentang tipe-tipe kejang penting untuk proses diagnosis. Dengan memahaminya, dokter dan tenaga kesehatan bisa melakukan anamnesis yang tajam kepada orang tua agar bisa mendapatkan mendeskripsikan episode yang pasien alami secara lebih akurat. Klasifikasi operasional ILAE 2017 membagi kejang berdasarkan tipe onset menjadi tiga kategori utama: focal onset, generalized onset, dan unknown onset. (3)
Kejang dengan focal onset berasal dari jaringan yang terbatas pada satu hemisfer otak. (3) Berdasarkan tingkat kesadaran selama episode, kejang fokal dibagi menjadi focal aware seizure—yang sebelumnya dikenal sebagai simple partial seizure, di mana pasien tetap sadar penuh meskipun terdapat aktivitas motorik atau sensorik abnormal—dan focal impaired awareness seizure, yang menggantikan istilah complex partial seizure, di mana kesadaran terganggu pada sebagian atau seluruh episode. (3) Kejang fokal dapat bermanifestasi sebagai gerakan tonik, klonik, atau automatisme (gerakan berulang tanpa tujuan seperti mengecap atau menggosok tangan), serta dapat berkembang menjadi kejang bilateral tonik-klonik melalui mekanisme yang disebut focal to bilateral tonic-clonic seizure—istilah yang menggantikan sebutan lama secondary generalized seizure.
Kejang dengan generalized onset berasal dari jaringan yang secara cepat melibatkan kedua hemisfer secara bersamaan. (3) Tipe motor yang paling dikenal secara luas adalah generalized tonic-clonic seizure (GTCS)—yang dalam terminologi lama disebut grand mal—ditandai dengan fase tonik berupa kekakuan seluruh tubuh yang disusul fase klonik berupa kedutan ritmis. Tipe motor lainnya meliputi kejang tonik (kekakuan tanpa fase klonik), klonik (kedutan berulang), mioklonik (sentakan otot singkat), atonik (hilangnya tonus otot mendadak atau drop attack), serta epileptic spasms yang khas pada sindrom infantil. Sementara itu, tipe nonmotor pada kejang generalized adalah absence seizure, yang mencakup typical absence (tatapan kosong mendadak, berhenti aktivitas, berlangsung beberapa detik, dan berhenti tiba-tiba) dan varian atipikalnya. (3)
Kategori unknown onset digunakan ketika onset kejang tidak dapat ditentukan—misalnya karena tidak ada saksi, atau informasi yang tersedia tidak cukup untuk mengklasifikasikan kejang ke dalam kategori fokal maupun generalized. (3) Klasifikasi ini bersifat sementara dan dapat direvisi seiring tersedianya data klinis atau EEG lebih lanjut. Memperkenalkan kerangka klasifikasi ini kepada orang tua—setidaknya dalam bentuk yang disederhanakan—akan membantu mereka memberikan anamnesis yang lebih informatif dan mengurangi kekeliruan dalam menginterpretasikan gejala yang mereka saksikan.
Tata Laksana Awal Kejang di Luar Fasilitas Kesehatan
Terlepas dari tipe kejang yang terjadi, langkah pertolongan pertama pada prinsipnya berlaku secara universal. Berikut panduan American Red Cross:
- Selama kejang berlangsung, yang pertama dan terpenting adalah membiarkan kejang berjalan secara alami—jangan mencoba menahan atau menghentikan gerakan tubuh secara paksa.
- Jauhkan benda-benda berbahaya dari sekitar pasien untuk mencegah cedera.
- Pantau kondisi pasien secara terus-menerus, dan bila memungkinkan, posisikan pasien dalam posisi pemulihan (recovery position) dengan memiringkan tubuh ke salah satu sisi guna mencegah aspirasi.
- Setelah kejang berhenti, segera periksa respons dan pernapasan pasien. Apabila pasien tidak responsif dan tidak bernapas, tindakan resusitasi jantung paru harus segera dimulai. Jika pasien tidak sadar namun masih bernapas, pertahankan posisi pemulihan.
- Tetaplah bersama pasien hingga ia sepenuhnya sadar dan berikan ketenangan.
Panggil bantuan (118 atau 119) jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, terjadi lebih dari satu episode secara berturut-turut, terdapat cedera akibat kejang, kejang terjadi di dalam air, hilang kesadaran berkepanjangan, atau ini merupakan episode kejang pertama yang dialami. (2)
Meluruskan Mitos yang Beredar di Masyarakat
Salah satu hambatan terbesar dalam pertolongan pertama kejang adalah persistensi miskonsepsi di masyarakat. Studi yang dilakukan Shaaban et al. mendokumentasikan bahwa kepercayaan keliru seputar pertolongan pertama kejang masih sangat umum di berbagai lapisan populasi (1) Dua mitos yang paling berbahaya dan wajib diluruskan adalah sebagai berikut:
Mitos pertama: meletakkan sesuatu di dalam mulut pasien untuk mencegah lidah tergigit atau tertelan. Tindakan ini tidak hanya tidak diperlukan, tetapi secara aktif membahayakan. Secara anatomi, seseorang tidak dapat menelan lidahnya sendiri. Memasukkan benda ke dalam mulut pasien yang sedang kejang berisiko mematahkan atau melepas gigi yang dapat menyebabkan aspirasi, atau bahkan menyebabkan gigitan yang melukai penolong. (2) Meskipun pasien mungkin menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah, cedera ini jauh lebih ringan dibandingkan komplikasi yang ditimbulkan oleh intervensi keliru tersebut.
Mitos kedua: menahan tubuh pasien secara kuat agar kejang berhenti. Tindakan ini tidak akan menghentikan aktivitas listrik abnormal di otak, namun justru dapat menyebabkan dislokasi sendi atau fraktur akibat perlawanan terhadap kontraksi otot yang kuat. Pesan yang harus tersampaikan dengan jelas adalah: biarkan kejang berjalan, lindungi dari cedera, dan pantau kondisi pasien.
Kesimpulan
Sebagai dokter yang berhadapan langsung dengan pasien dan keluarganya setiap hari, kita berada pada posisi paling strategis untuk menyampaikan informasi ini secara tepat sasaran. Orang tua, guru, dan anak-anak yang lebih besar perlu mendapatkan edukasi mengenai cara bertindak yang benar selama dan sesudah episode, mengetahui kapan harus segera mencari bantuan medis, serta melepaskan diri dari mitos-mitos yang berbahaya. (1,2,3) Luaran klinis pasien kejang sangat ditentukan oleh apa yang terjadi dalam menit-menit pertama sebelum ambulans tiba. Edukasi yang efektif adalah bagian dari tata laksana itu sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shaaban S, Mohamed LA, Rakab MS, Daawa MN, Radwan E, Aldossary DA, et al. Attitudes and misconceptions surrounding epilepsy and first aid of seizures in the Eastern Mediterranean Region: a systematic review and meta-analysis. BMC Public Health. 2026;26(1):1272.
2. American Red Cross. Seizures: causes, symptoms, and types [Internet]. Washington, D.C.: American Red Cross; [cited 2026 Jun 10]. Available from: https://www.redcross.org/take-a-class/resources/learn-first-aid/seizures
3. Fisher RS, Cross JH, French JA, Higurashi N, Hirsch E, Jansen FE, et al. Operational classification of seizure types by the International League Against Epilepsy: Position Paper of the ILAE Commission for Classification and Terminology. Epilepsia. 2017;58(4):522–530.

