Berita
Keamanan Lari Jarak Jauh pada Anak

Latar Belakang
Sebuah video singkat berhasil mengguncang linimasa media sosial Indonesia: seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun bernama Kekey, melintasi garis finish trail run sejauh 10 kilometer dengan langkah yang masih tampak ringan dan penuh semangat. Pujian mengalir cepat dari warganet yang terkesan dengan stamina dan ketekunannya, namun tidak lama berselang perdebatan pun pecah—sebagian mempertanyakan kesiapan lempeng pertumbuhan tulang anak yang secara biologis belum matang untuk menanggung beban repetitif sejauh itu. (1) Di balik ricuhnya komentar publik yang cenderung terpolarisasi, dokter anak dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar dan klinis: bukan sekadar boleh atau tidak boleh, melainkan apa yang sesungguhnya didukung oleh konsensus dan bukti ilmiah terkini mengenai partisipasi anak dalam lari jarak jauh.
Rekomendasi Organisasi Internasional
Sejumlah organisasi telah menerbitkan panduan lari jarak jauh pada anak. Di tahun 1982, American Academy of Pediatrics menyatakan kalau anak-anak tidak direkomendasikan untuk lari jarak jauh. Namun, pada pembaharuan rekomendasi mereka pada tahun 1990, AAP menyarankan kalau sepanjang belum ada bukti ilmiah akan adanya relative risk cedera yang signifikan pada anak, tidak ada cedera pada anak, dan anak menikmati proses latihan, tidak ada alasan yang kuat untuk mengeksklusikan anak dari kegiatan lari jarak jauh. Untuk memastikan kesiapan anak, AAP menyarankan kenaikan jarak mingguan dianjurkan tidak lebih dari 10% untuk mencegah cedera overuse. (2)
Konsensus internasional oleh Krabak dkk, melibatkan pakar kedokteran olahraga, pediatri, ortopedi, dan World Athletics, menegaskan belum ada bukti penelitian mengenai jarak lari yang sesuai untuk usia tertentu; rekomendasi yang ada bersumber dari opini pelatih dan tenaga kesehatan (SORT kategori C), yakni: usia 5-6 tahun dibatasi sekitar 800 meter, usia 7-11 tahun sekitar 1.600 meter, usia 12 tahun ke atas dapat menempuh 5 kilometer, dan maraton dibatasi untuk usia 18 tahun ke atas. (6) Roberts maupun Grivas menegaskan data pelari maraton anak masih sangat terbatas dan opini ahli masih terbelah mengenai kesesuaian jarak tersebut bagi usia muda. (3,4)
Kesenjangan Penelitian dan Bukti Cedera Lempeng Pertumbuhan
Sebagian besar rekomendasi tersebut merupakan opini ahli, bukan hasil uji klinis acak atau kohort prospektif jangka panjang. (6) Tinjauan sistematis Paz dkk terhadap cedera ekstremitas bawah pada pelari anak hanya menemukan sembilan studi layak analisis dari ratusan artikel yang disaring, tujuh di antaranya berupa laporan kasus. (5) Mekanisme risiko terhadap lempeng pertumbuhan dihipotesiskan berasal dari ketidakseimbangan pertumbuhan tulang panjang dan kompleks otot-tendon selama periode percepatan pertumbuhan (peak height velocity), yang meningkatkan tegangan tarik pada taut tendon-tulang dan dapat memicu cedera apofisis; periode ini rata-rata terjadi sekitar usia 12 tahun pada anak perempuan dan 14 tahun pada anak laki-laki, sehingga anak usia 6 tahun umumnya belum memasuki periode rawan tersebut. (6) Bukti langsung yang menghubungkan lari jarak jauh dengan kerusakan struktural lempeng pertumbuhan masih minim. Paz dkk tidak menemukan korelasi antara jarak mingguan dan risiko cedera, namun mencatat dua laporan kasus fraktur apofisis panggul dan menyebut kerentanan lempeng pertumbuhan sebagai pengecualian yang perlu diwaspadai, terutama karena literatur pada anak di bawah usia 10 tahun praktis tidak tersedia. (5) Hipotesis ini dengan demikian belum terbukti maupun terbantahkan secara meyakinkan.
Usia Kronologis, Usia Biologis, dan Usia Latihan
Konsensus Krabak dkk menekankan bahwa kesiapan berlari semestinya dinilai dari kombinasi faktor fisik, biomekanik, psikologis, sosial, dan kognitif yang digerakkan anak itu sendiri, bukan semata usia kronologis. (6) Usia biologis (kematangan rangka, status pubertas) dan usia latihan (lama keterpaparan latihan terstruktur) sama pentingnya, karena dua anak dengan usia kronologis sama dapat memiliki kematangan rangka dan toleransi latihan yang berbeda jauh; program maraton remaja yang terawasi pun menunjukkan cedera serius yang rendah selama anak dipersiapkan secara fisik dan termotivasi secara internal, bukan didorong orang tua atau pelatih. (6) Untuk anak usia 6 tahun seperti pada kasus viral yang telah disebutkan, tidak ada pedoman berbasis bukti yang mendukung maupun melarang jarak 10 kilometer; jarak ini jauh melampaui rekomendasi opini ahli, namun ketidaksesuaian tersebut tidak otomatis berarti telah terbukti membahayakan. (5,6) Bila secara klinis anak tampak mampu, menikmati aktivitasnya, dan tidak menunjukkan tanda paksaan atau kelelahan berlebihan, risiko cedera akut tergolong rendah, meski dampak jangka panjangnya tetap memerlukan penelitian lebih lanjut. (5,6)
Risiko Spesialisasi Dini
Sejumlah studi pada atlet muda lintas cabang olahraga (tidak khusus pelari) mengidentifikasi spesialisasi dini sebagai faktor risiko independen untuk cedera: anak yang berlatih pada satu cabang olahraga lebih dari delapan bulan per tahun memiliki risiko cedera overuse yang lebih tinggi pada ekstremitas atas maupun bawah, dan anak yang berlatih dengan jumlah jam per minggu lebih banyak dibanding usianya dalam tahun memiliki risiko cedera apa pun yang lebih tinggi pula. (6) Pada populasi pelari muda secara spesifik, atlet dengan tingkat spesialisasi tinggi dilaporkan memiliki riwayat cedera sebelumnya dan cedera overuse yang lebih banyak dibandingkan atlet dengan spesialisasi rendah, dengan peningkatan proporsi cedera tungkai bawah, cedera berat, dan cedera berulang. Atas dasar temuan ini, berbagai organisasi mendorong konsep sport sampling, keterlibatan anak dalam beragam cabang olahraga serta bermain bebas, alih-alih memusatkan seluruh waktu dan energi anak pada satu jenis olahraga sejak usia dini. (6)
Kesimpulan dan Penutup
Kasus viral ini mencerminkan kesenjangan antara reaksi publik yang biner dan realitas bukti ilmiah yang sesungguhnya jauh lebih kompleks. Hingga saat ini belum tersedia konsensus berbasis bukti kuat mengenai batas aman jarak lari bagi anak usia dini, dan hampir seluruh rekomendasi yang ada bersumber dari opini ahli. Ketiadaan bukti definitif ini bukan berarti aktivitas tersebut otomatis berbahaya, namun juga bukan berarti aman tanpa syarat, melainkan sebuah area abu-abu yang menuntut kehati-hatian klinis sekaligus penelitian lebih lanjut. Sepanjang anak tidak menunjukkan tanda cedera atau gejala muskuloskeletal, serta secara nyata menikmati aktivitasnya tanpa unsur paksaan, partisipasi dalam lari jarak jauh pada prinsipnya dapat dipertimbangkan. Akan tetapi, dokter anak perlu memastikan keluarga memahami bahwa "boleh" ini disertai sejumlah syarat: kewaspadaan terhadap tanda-tanda dini cedera overuse dan gangguan pertumbuhan, pemantauan berkala yang ketat terhadap status muskuloskeletal dan tumbuh kembang anak, serta diversifikasi aktivitas fisik dan waktu pemulihan yang cukup guna mencegah spesialisasi dini dan akumulasi beban latihan yang berlebihan. (2,5,6)
Referensi
- Aditiya S. Viral bocah 6 tahun ikut trail run 10km, dokter: bahaya, bisa sebabkan kelainan. VIVA.co.id [Internet]. 5 Mei 2026 [diakses 17 Juni 2026]. Tersedia di: https://www.viva.co.id/sport/1896521-viral-bocah-6-tahun-ikut-trail-run-10km-dokter-bahaya-bisa-sebabkan-kelainan
- American Academy of Pediatrics. Care of the Young Athlete Patient Education Handouts: Running [Internet]. Itasca (IL): American Academy of Pediatrics; 2011 [diakses 17 Juni 2026]. Tersedia di: https://www.aap.org/globalassets/publications/coya/running_final_secured.1.0.pdf
- Roberts WO. Can children and adolescents run marathons? Sports Med. 2007;37(4-5):299-301.
- Grivas GV. Beyond the finish line: examining the role of children in marathon races-a narrative review. J Funct Morphol Kinesiol. 2024;9(1):47.
- Paz T, Meyers RN, Faverio CN, Wang Y, Vosburg EM, Clewley DJ. Youth distance running and lower extremity injury: a systematic review. Int J Environ Res Public Health. 2021;18(14):7542.
- Krabak BJ, Roberts WO, Tenforde AS, Ackerman KE, Adami PE, Baggish AL, et al. Youth running consensus statement: minimising risk of injury and illness in youth runners. Br J Sports Med. 2021;55(6):305-18.

