Dot Grid

Berita

​Katarak pada Anak: Tinjauan Klinis

​Katarak pada Anak: Tinjauan Klinis

Latar Belakang

Katarak pediatrik merupakan penyebab utama kebutaan pada anak yang sebenarnya dapat ditangani, namun keterlambatan diagnosis dan tata laksana kerap menimbulkan konsekuensi visual, sosial, dan ekonomi yang bermakna.  Secara global, katarak pediatrik menyumbang sekitar 5–20% dari seluruh kasus kebutaan dan gangguan penglihatan berat pada anak, dengan insidensi berkisar 1,8–3,6 per 10.000 anak per tahun dan prevalensi 1–15 per 10.000 anak. Data di negara maju menunjukkan pola serupa; prevalensi di Amerika Serikat diperkirakan 3–4 kasus per 10.000 kelahiran hidup, sementara di Inggris sekitar 3,18 per 10.000 kelahiran hidup dan di Tiongkok sekitar 5 per 10.000 kelahiran. (1) Data resmi kesehatan masyarakat Inggris turut menegaskan bahwa katarak anak tergolong kondisi yang jarang, dengan sekitar 3–4 dari setiap 10.000 bayi lahir dengan katarak. (2) Tidak terdapat perbedaan bermakna berdasarkan lateralitas maupun jenis kelamin. (1)

Berbeda dari katarak dewasa yang umumnya bersifat degeneratif akibat proses penuaan, katarak pada anak memiliki etiologi yang jauh lebih heterogen, mencakup faktor herediter, kelainan metabolik, infeksi intrauterin, trauma, serta sindrom sistemik. Katarak herediter mencakup sekitar 30% kasus, dengan 75% di antaranya diturunkan secara autosomal dominan. Bila tidak ditangani tepat waktu, deprivasi visual pada periode kritis perkembangan penglihatan dapat menimbulkan ambliopia ireversibel, nistagmus sensorik, serta strabismus (juling), yang pada akhirnya menjadi beban morbiditas jangka panjang bagi anak dan keluarga. (1, 2)


Etiologi, Patogenesis, dan Patofisiologi

Penyebab katarak kongenital pada anak sangat beragam, meliputi infeksi intrauterin kelompok TORCHES (Toxoplasma gondii, rubela, sitomegalovirus, herpes simpleks, sifilis), gangguan metabolik seperti galaktosemia dan hipokalsemia, paparan obat seperti kortikosteroid sistemik, kelainan kromosom seperti trisomi 21, serta trauma okular akibat kecelakaan maupun cedera lahir. (1) National Health Service (NHS) Inggris turut menegaskan bahwa penyebab tersering meliputi kelainan genetik bawaan dari orang tua yang mengganggu perkembangan lensa, kondisi genetik seperti sindrom Down, infeksi yang diderita ibu selama kehamilan seperti rubela dan cacar air, serta cedera mata setelah kelahiran, meskipun pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat ditentukan. (2) Trauma merupakan penyebab tersering katarak unilateral, menyumbang 12–46% kasus, sedangkan katarak bilateral lebih sering berkaitan dengan penyebab genetik, metabolik, sindromik, atau infeksius. (1)

Secara patogenesis, mutasi gen kristalin (CRYAA, CRYAB) menyebabkan agregasi protein lensa, sementara mutasi gen konektin (GJA3, GJA8) mengganggu komunikasi antarsel lensa sehingga timbul katarak zonular. Pada galaktosemia, akumulasi galaktitol akibat defisiensi enzim GALT menimbulkan pembengkakan osmotik lensa dan katarak "oil droplet", sedangkan pada diabetes melitus akumulasi sorbitol menyebabkan katarak snowflake.  Infeksi TORCH menimbulkan inflamasi intrauterin yang merusak lensa yang sedang berkembang, sementara paparan kortikosteroid jangka panjang mengubah metabolisme dan struktur protein lensa sehingga terbentuk katarak subkapsular posterior. Secara umum, kekeruhan lensa timbul akibat agregasi protein kristalin, gangguan keseimbangan osmotik, disregulasi homeostasis kalsium, dan respons inflamasi yang merusak serat lensa. (1)


Pencegahan, Tata Laksana, dan Sifat Kekeruhan

Pencegahan sebagian besar bergantung pada deteksi dini melalui pemeriksaan refleks merah (red reflex) yang direkomendasikan dilakukan pada setiap kunjungan bayi baru lahir dan kunjungan sehat anak berkala. (1) Program skrining di Inggris menegaskan pentingnya pemeriksaan mata rutin pada usia 72 jam pertama kehidupan dan pada usia 6 hingga 8 minggu, dengan rujukan segera ke dokter spesialis mata bila dicurigai katarak kongenital. (2) Vaksinasi rubela pada populasi ibu hamil, serta penghindaran infeksi selama kehamilan, turut menurunkan insidensi katarak kongenital terkait infeksi. (1, 2) Pada kasus katarak berulang dalam keluarga, konseling genetik dapat dipertimbangkan untuk membantu pasangan menilai risiko pewarisan. (2)

Tata laksana terbagi menjadi pendekatan medis dan bedah. Tata laksana medis meliputi terapi ambliopia berupa penutupan mata (patching) atau penggunaan tetes atropin, serta koreksi refraktif dengan kacamata atau lensa kontak. (1) Pembedahan diindikasikan pada katarak yang signifikan secara visual, dengan target usia operasi 4–6 minggu untuk kasus unilateral dan 6–8 minggu untuk kasus bilateral guna mencegah ambliopia deprivasi. (1) Teknik bedah modern berupa aspirasi lensa disertai kapsulotomi posterior dan vitrektomi anterior, dengan atau tanpa implantasi lensa intraokular, telah menggantikan teknik lama; lensa buatan dapat dipasang saat operasi, meskipun pada sebagian kasus anak lebih umum menggunakan lensa kontak atau kacamata pascabedah sebagai kompensasi lensa yang diangkat. (1, 2)

Mengenai sifat kekeruhan, tidak semua katarak anak bersifat permanen. Katarak akibat galaktosemia tahap dini dapat bersifat reversibel apabila restriksi galaktosa diet segera diterapkan, dan katarak terkait diabetes dapat membaik sebagian dengan kontrol glikemik yang adekuat. Sebaliknya, katarak akibat radiasi, steroid jangka panjang, infeksi TORCH kongenital, serta gangguan metabolik yang berlangsung lama umumnya bersifat ireversibel karena kerusakan struktural permanen pada serat dan epitel lensa. (1)


Prognosis

Prognosis visual sangat bergantung pada ketepatan waktu diagnosis dan intervensi. Anak yang didiagnosis dan ditangani pada minggu-minggu awal kehidupan umumnya memiliki prognosis lebih baik dibandingkan yang mengalami keterlambatan. (1) Katarak terisolasi tanpa kelainan sistemik cenderung memiliki luaran lebih baik, sedangkan katarak yang berkaitan dengan sindrom genetik atau gangguan metabolik memiliki prognosis lebih terbatas akibat komorbiditas yang menyertai. (1) Meskipun tingkat perbaikan penglihatan pascaoperasi sulit diprediksi secara pasti dan umumnya masih tersisa sedikit gangguan penglihatan pada mata yang terkena, sebagian besar anak dengan katarak kongenital tidak tumbuh dengan gangguan penglihatan berat. (2) Komplikasi pascabedah seperti glaukoma sekunder dapat terjadi pada 10–40% kasus dan memerlukan pemantauan seumur hidup; tanpa penanganan yang berhasil, glaukoma dapat menyebabkan kerusakan ireversibel pada struktur mata. (1, 2)


Kesimpulan

Katarak pada anak merupakan kondisi dengan etiologi yang jauh lebih kompleks dibandingkan katarak dewasa, mencakup faktor genetik, metabolik, infeksius, dan traumatik. Deteksi dini melalui skrining refleks merah dan pemeriksaan mata rutin pada masa neonatus, diagnosis etiologi yang cermat, serta tata laksana bedah yang tepat waktu merupakan kunci utama pencegahan ambliopia ireversibel. Meskipun sebagian kecil kasus bersifat reversibel, mayoritas katarak pediatrik memerlukan intervensi bedah dengan pemantauan jangka panjang untuk mengoptimalkan luaran visual anak.


Referensi

  1. Ray A, Gurnani B. Pediatric Cataract. [Updated 2026 Jan 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK572080/
  2. National Health Service (NHS). Childhood cataracts [Internet]. UK: NHS; 2022 [cited 2026 Jul 22]. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/childhood-cataracts/






Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan