Berita
IVAXCON 2026 Soroti Tantangan Imunisasi Lintas Usia di Momentum World Immunization Week

Jakarta, April 2026 — Dalam rangka memperingati World Immunization Week 2026, forum ilmiah Indonesian Vaccine Convention (IVAXCON) 2026 kembali digelar sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat upaya imunisasi di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini menghadirkan ratusan tenaga kesehatan secara luring serta ratusan peserta daring dari berbagai kota di Indonesia.
IVAXCON 2026 menjadi puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak 24 April, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, hingga komunitas dan media. Forum ini tidak hanya berfokus pada pembaruan ilmu, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama dalam menghadapi tantangan imunisasi di era saat ini.
Bukan Sekadar Akses, Tantangan Imunisasi Kini Ada di Kepercayaan Masyarakat
Dalam diskusi panel yang diisi oleh dokter-dokter ahli lintas spesialisasi, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) selaku moderator pada sesi kedua menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi.
Ia menekankan bahwa pendekatan imunisasi kini telah berkembang menjadi life-course immunization, yaitu perlindungan yang diberikan sejak bayi, anak, remaja, hingga dewasa dan lansia. “Kalau dulu kita fokus di anak, sekarang kita bicara perlindungan sepanjang hidup. Artinya, belum pernah divaksin saat kecil bukan berarti tidak perlu—justru harus dikejar,” tegasnya.
Dari sisi penyakit, beberapa pembicara menyoroti beban penyakit yang masih tinggi di Indonesia. dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp.Resp(K) menjelaskan bahwa penyakit pneumokokus masih menjadi salah satu penyebab utama kematian anak, terutama melalui pneumonia. “Sekitar sepertiga kasus pneumonia pada anak disebabkan oleh pneumokokus, dan ini sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi,” jelasnya.
Sementara itu, dr. Heni Meitri Andri Rahmasari, Sp.OG, Subsp.Onk menyoroti pentingnya vaksinasi HPV sebagai upaya pencegahan kanker serviks. Ia menegaskan bahwa HPV merupakan penyebab utama kanker serviks yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. “Banyak yang merasa tidak berisiko, padahal HPV bisa terjadi pada siapa saja. Pencegahan lewat vaksinasi adalah langkah paling efektif,” ungkapnya.
Di sisi lain, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K) mengingatkan bahwa penyakit seperti campak masih menjadi masalah serius di Indonesia. Ia menekankan bahwa rendahnya cakupan imunisasi dapat memicu kembali kejadian luar biasa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi saat ini tidak lagi hanya soal akses layanan. Para pembicara sepakat bahwa disinformasi dan rendahnya kepercayaan masyarakat menjadi hambatan besar dalam program imunisasi. Dalam era digital, informasi yang tidak akurat seringkali lebih cepat menyebar dibandingkan fakta ilmiah.
Kolaborasi dan Edukasi Jadi Kunci Menuju Generasi Lebih Sehat
Mengusung tema “Let’s Spread Stories That Matter”, IVAXCON 2026 menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam membangun narasi yang benar dan berbasis sains kepada masyarakat.
Perwakilan MSD Indonesia dalam sambutannya menyampaikan bahwa imunisasi bukan hanya tentang mencegah penyakit, tetapi juga tentang membangun rasa aman dan kepercayaan masyarakat. “Di tengah derasnya informasi, tenaga kesehatan punya peran penting sebagai penjaga kepercayaan dan penyampai informasi yang benar,” disampaikan dalam sesi pembukaan.
Pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai bidang—mulai dari pediatri, penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, hingga kesehatan masyarakat—menjadi kekuatan utama dalam forum ini. Dengan kolaborasi lintas sektor, tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih efektif dalam melakukan edukasi, advokasi, serta meningkatkan cakupan imunisasi di berbagai kelompok usia.
Sejalan dengan semangat World Immunization Week bertema “For Every Generation, Vaccines Work”, IVAXCON 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga menjadi titik awal penguatan komitmen bersama untuk meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
Melalui forum ini, pesan yang ingin dibawa pulang oleh setiap peserta menjadi jelas: vaksin bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan generasi berikutnya.
Dalam diskusi panel yang diisi oleh dokter-dokter ahli lintas spesialisasi, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) selaku moderator menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi.
Ia menekankan bahwa pendekatan imunisasi kini telah berkembang menjadi life-course immunization, yaitu perlindungan yang diberikan sejak bayi hingga usia lanjut. “Artinya, perlindungan tidak berhenti di masa anak. Remaja dan dewasa tetap membutuhkan imunisasi untuk mencegah penyakit yang berisiko berat,” jelasnya.
Dari sisi pediatri, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp.Resp(K) menyoroti bahwa penyakit pneumokokus masih menjadi penyebab utama pneumonia pada anak. “Sebagian besar kasus sebenarnya bisa dicegah, tetapi cakupan imunisasi masih belum optimal,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Heni Meitri Andri Rahmasari, Sp.OG, Subsp.Onk menekankan pentingnya vaksinasi HPV sebagai upaya pencegahan kanker serviks. Ia mengingatkan bahwa persepsi “tidak berisiko” masih menjadi hambatan utama pada perempuan dewasa.
Melengkapi perspektif tersebut, dari sisi penyakit dalam, dr. Dirga Sakti Rambe, Sp.PD, MSc, FINASIM, FRSPH menegaskan bahwa imunisasi pada dewasa masih tertinggal jauh dibandingkan anak. “Kita sering lupa bahwa beban penyakit infeksi berat justru banyak terjadi pada kelompok dewasa dan lansia, terutama dengan komorbid. Padahal, vaksinasi dapat mencegah komplikasi serius seperti pneumonia, influenza berat, hingga penyakit terkait HPV,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahwa banyak pasien dewasa baru datang dalam kondisi sudah berat, padahal sebagian besar penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak awal melalui imunisasi. “Preventive care di dewasa masih belum menjadi budaya. Ini yang harus kita kejar bersama,” tambahnya.
Di sisi lain, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K) mengingatkan bahwa penyakit seperti campak masih menjadi ancaman nyata di Indonesia. Rendahnya cakupan imunisasi dapat membuka kembali peluang terjadinya kejadian luar biasa penyakit yang seharusnya bisa dicegah.
Para pembicara sepakat bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya akses, tetapi juga disinformasi dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin, terutama di era digital.
Kolaborasi dan Edukasi Jadi Kunci Menuju Generasi Lebih Sehat
Mengusung tema “Let’s Spread Stories That Matter”, IVAXCON 2026 menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam menyampaikan informasi yang benar, relevan, dan berbasis bukti ilmiah.
Perwakilan MSD Indonesia dalam sambutannya menyampaikan bahwa imunisasi bukan hanya tentang mencegah penyakit, tetapi juga memberikan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat. “Ketika kita menyampaikan informasi yang benar, kita tidak hanya melawan penyakit, tapi juga membangun kepercayaan,” disampaikan dalam sesi pembukaan.
Pendekatan multidisiplin menjadi kekuatan utama forum ini. Dengan melibatkan berbagai bidang seperti pediatri, penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, hingga kesehatan masyarakat, IVAXCON 2026 diharapkan mampu memperkuat peran tenaga kesehatan sebagai edukator, advokator, sekaligus penjaga kepercayaan publik.
Sejalan dengan tema World Immunization Week “For Every Generation, Vaccines Work”, forum ini menegaskan bahwa imunisasi adalah tanggung jawab bersama—lintas usia, lintas profesi, dan lintas sektor.
Vaksin bukan hanya melindungi individu, tetapi juga menentukan kualitas kesehatan generasi masa depan.

