Berita
International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation 2026

Latar Belakang
Female Genital Mutilation (FGM) atau praktik pemotongan genital perempuan (P2GP) masih menjadi isu kesehatan global yang serius dan berkelanjutan. UNICEF memperkirakan lebih dari 230 juta perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia hidup dengan dampak FGM, dengan praktik ini masih berlangsung di lebih dari 30 negara, terutama di Afrika, Timur Tengah, dan sebagian Asia. (1) Praktik ini umumnya dilakukan pada anak perempuan, sering kali sebelum usia 15 tahun, sehingga menjadikannya isu yang relevan dalam ranah kesehatan anak dan remaja. (2)
Di Indonesia, praktik FGM dikenal sebagai “sunat perempuan”. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa lebih dari separuh perempuan di Indonesia pernah menjalani bentuk tertentu dari praktik ini, yang umumnya dilakukan pada masa bayi atau anak usia dini. (3) International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation yang diperingati setiap 6 Februari menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali bahwa FGM adalah pelanggaran hak anak dan perempuan, sekaligus tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan pendekatan medis, sosial, dan edukatif yang komprehensif.
Definisi dan Latar Belakang Praktik FGM
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan FGM sebagai semua prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh genitalia eksterna perempuan, atau cedera lain pada organ genital perempuan, untuk alasan non-medis. (2) WHO mengklasifikasikan FGM ke dalam empat tipe, mulai dari klitoridektomi parsial hingga prosedur yang lebih ekstensif seperti infibulasi, yang melibatkan penyempitan lubang vagina dengan penjahitan. (2) Tipe-tipe FGM bisa dilihat pada Gambar 1,
Gambar 1. Klasifikasi FGM Berdasarkan WHO (6)
FGM bukan merupakan fenomena baru, melainkan praktik tradisional yang telah berlangsung selama berabad-abad. Alasan pelaksanaannya beragam, mencakup keyakinan budaya, tekanan sosial, interpretasi agama yang keliru, serta persepsi bahwa FGM dapat menjaga kesucian, mengontrol perilaku seksual perempuan, atau meningkatkan penerimaan sosial dan peluang pernikahan. (4) Tidak ada dasar ilmiah maupun medis yang mendukung klaim manfaat kesehatan dari praktik ini. (2)
Dampak Fisik dan Psikologis pada Anak
Dari sudut pandang medis, FGM memiliki dampak kesehatan yang signifikan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak akut dapat berupa nyeri hebat, perdarahan, infeksi, retensi urin, hingga syok, terutama ketika prosedur dilakukan tanpa anestesi dan dalam kondisi tidak steril. (2,5) Pada anak, risiko ini menjadi lebih besar karena kerentanan fisiologis dan keterbatasan kemampuan mereka untuk mengungkapkan keluhan.
Dalam jangka panjang, FGM dapat menyebabkan gangguan saluran kemih berulang, dispareunia di kemudian hari, komplikasi obstetri, serta peningkatan risiko infeksi. (2,5) Selain dampak fisik, konsekuensi psikologis FGM tidak dapat diabaikan. Studi menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami FGM memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan, depresi, post-traumatic stress disorder, serta gangguan citra tubuh. (5) Pada anak, pengalaman traumatis ini dapat memengaruhi perkembangan emosional dan psikososial jangka panjang.
Peran Dokter Anak dan Upaya Pencegahan
Bagi dokter anak, FGM bukan hanya isu budaya, tetapi masalah perlindungan anak dan keselamatan pasien. UNICEF dan WHO menegaskan bahwa tidak ada justifikasi medis untuk FGM, dan tenaga kesehatan memiliki peran kunci dalam pencegahan, edukasi keluarga, serta advokasi berbasis bukti. (1,2) Di Indonesia, pemerintah melalui KemenPPPA tengah mengevaluasi dan memperkuat Rencana Aksi Nasional Pencegahan Praktik Sunat Perempuan, menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor dan berbasis komunitas. (3)
Dokter anak berada pada posisi strategis untuk melakukan edukasi kepada orang tua sejak periode neonatal dan balita, mengidentifikasi praktik berisiko, serta memberikan konseling yang sensitif budaya namun tegas secara medis. Selain itu, dokter anak juga berperan dalam deteksi dini dampak FGM dan rujukan yang tepat apabila ditemukan komplikasi fisik maupun psikologis.
Kesimpulan dan Penutup
International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation 2026 menjadi pengingat bahwa FGM masih merupakan ancaman nyata terhadap kesehatan dan hak anak perempuan, termasuk di Indonesia. Dari perspektif medis, tidak ada manfaat FGM, sementara risiko dan dampak jangka panjangnya telah terdokumentasi dengan jelas. Peran dokter anak sangat krusial dalam pencegahan primer melalui edukasi, advokasi berbasis bukti, serta perlindungan hak anak. Upaya kolektif lintas profesi dan sektor diperlukan untuk memastikan generasi mendatang terbebas dari praktik yang merugikan ini.
Daftar Pustaka
- UNICEF. International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation 2026. Available from:
https://www.unicef.org/documents/international-day-zero-tolerance-female-genital-mutilation-2026 - World Health Organization. Female genital mutilation. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/female-genital-mutilation
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. 55% perempuan jalani sunat perempuan. Available from: https://www.kemenpppa.go.id/index.php/siaran-pers/55-perempuan-jalani-sunat-perempuan-kemen-pppa-evaluasi-rencana-aksi-nasional-pencegahan-praktik-sunat-perempuan
- World Health Organization. Care of girls and women living with female genital mutilation. Available from: https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/23102286-d5fa-4c4d-8a4f-5a4f2bca7813/content
- National Center for Biotechnology Information. Female Genital Mutilation/Cutting. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK606106/
- Chappell AG, Sood R, Hu A, Folsom SM, Wafford QE, Bowen DK, Post LA, Jordan SW. Surgical management of female genital mutilation-related morbidity: A scoping review. J Plast Reconstr Aesthet Surg. 2021 Oct;74(10):2467-2478. doi: 10.1016/j.bjps.2021.05.022. Epub 2021 Jun 6. PMID: 34219039.

